Renungan Ramadhan H24: Perbuatan Sia-Sia

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Bekasi Jabar

 

Bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan peningkatan amal kebaikan, pelipatgandaan ganjaran ibadah dan bulan peduli sosial.

Mengingat begitu banyaknya kebaikan di dalamnya, dengan keterbatasan waktu hanya sebulan. Maka, kiranya tidak ada kesempatan sejengkalpun melaluinya dengan kegiatan yang sia-sia belaka dan tak berguna.

Itulah sebagian dari karakter orang-orang beriman. Sebagaimana Allah sebutkan di dalam ayat:

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS Al-Mukminun [23]: 2).

Apalagi waktu kini semakin terbatas seiring tinggal beberapa hari di penghujung Ramadhan. Perlu efektivitas lagi menggunakan momentum terbaik ini, agar tiap detik, di setiap tempat dan keadaan, selalu bernilai kebaikan dan takwa.

Mulai dari ibadah yang bersifat individu seperti shalat, baca Quran, dzikir dan doa, bershalawat, dll. Hingga ibadah yang berdampak sosial semacam zakat, infak, sedekah, berderma, menolong sesama, berdakwah, memberikan ilmu, dan berjihad di jalan Allah.

Jangan sampai waktu terus berjalan cepat, sementara amal kita tidak segera. Jangan juga waktu Ramadhan semakin habis, kita belum juga beranjak dari ibadah yang biasa-biasa saja atau sama saja dengan saat di luar Ramadhan.

Kalau tidak saat ini, mau kapan lagi? Mau sampai Ramadhan kapan lagi? Mau sampai usia berapa tahun lagi? Semetara tidak ada jaminan Ramadhan tahun depan kita dapat berjumpa. Bahkan Ramadhan besok hari pun belum tentu kita tengok. Kecuali dengan izin Allah.

Semoga kita dapat memanfaatkan sisa-sisa waktu akhir Ramadhan ini dengan amal-amal ibadah dan kebajikan. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)