Renungan Ramadhan H29: Pandai Bersyukur

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Bekasi Jabar

 

Di antara tujuan dilaksanakan ibadah puasa Ramadhan di samping untuk meraih derajat takwa (QS Al Baqarah : 183). Juga adalah agar kita menjadi hamba yang pandi bersyukur.

Ini seperti disebutkan pada rangkaian ayat tetang puasa Ramadhan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: ”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ” (QS Al-Baqarah: 185).

Syukur yang utama adalah karena kita dapat melaksanaan puasa Ramadhan dan ibadah serta amal kebajikan lainnya sepanjang Ramadhan.

Bersyukur juga karena kita senantiasa mendapatkan bimbingan, kemudahan, dan jalan-jalan kebaikan yang telah Allah diberikan selama bulan Ramadhan.

Maka, rasa syukur itu kemudian diwujudkan dengan banyak bertakbir seusai Ramadhan. Takbir ini disuarakan mulai dari terlihatnya hilal Syawal hingga selesainya khutbah ‘ied.

Syukur dalam arti mengakui nikmat dalam hati, dengan lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan dalam amaliyah keseharian.

Syukur seperti dikatakan Ibnu Katsir yaitu, “Jika kalian telah melakukan perintah yang wajib, meninggalkan keharaman, dan menjaga batasan-batasan Allah, maka kalian seperti itu disebut orang yang bersyukur.”

Ya, intinya syukur itu mesti dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah. Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.

Justru dengan syukur itulah, Allah akan terus menambah nikmat itu dan membuat nikmat itu terus ada.

Semoga  Allah berkenan menjadikan kita sebagai hamba yang pandai berdzikir dan pandai bersyukur, serta menjadi amal kita semakin baik. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)