HARI ini, 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter—naik hampir Rp4.000 dari harga sebelumnya. Kenaikan ini bukan yang pertama dalam beberapa bulan terakhir, menyusul gejolak harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat, sebuah kalimat kembali beredar di media sosial: “Rezekimu tetap dijamin Allah, berapa pun harga dolar (plus kenaikan BBM).”
Pesan tersebut sejatinya adalah pengingat spiritual yang baik. Namun sebagian kalangan mengkritisinya, dianggap tidak peka terhadap beban rakyat kecil, bahkan dinilai sebagai pembelaan terselubung kepada pemerintah.
Pertanyaannya: benarkah pesan tawakal semacam itu adalah bentuk keberpihakan kepada penguasa? Atau justru ada dimensi yang lebih dalam yang terlewat dari perdebatan ini? Kisah Nabi Musa, Firaun, dan Bani Israil dalam Al-Qur’an kiranya bisa memberikan perspektif yang lebih jernih, tidak hanya untuk ulama, tetapi untuk semua pihak: pemimpin, umat, maupun mereka yang berperan sebagai pengingat.
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Kisah yang Paling Sering Diulang dalam Al-Qur’an
Kisah Nabi Musa ‘alaihissalam adalah kisah yang paling sering muncul di dalam Al-Qur’an. Ia hadir dalam puluhan surah dengan berbagai sudut pandang. Salah satu surah yang memuat kisah ini secara panjang adalah Surah Al-Baqarah, yang justru mengambil namanya dari peristiwa sapi betina (al-baqarah), sebuah ujian keimanan yang menimpa Bani Israil dan memperlihatkan betapa rapuhnya ketaatan mereka.
Pengulangan kisah ini bukan tanpa maksud. Al-Qur’an menghadirkannya berulang kali karena di dalamnya terdapat pola yang terus relevan: bagaimana pemimpin yang zalim bekerja, bagaimana umat yang lemah iman bereaksi, dan bagaimana seorang utusan Allah berdiri di antara keduanya.
Firaun: Pemimpin yang Menjadikan Dirinya Tuhan
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Nabi Musa lahir di zaman ketika pemimpin menjalankan kekuasaannya secara arogan. Firaun tidak sekadar menindas rakyat kecil — ia melangkah lebih jauh dengan menjadikan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah. Kebijakan-kebijakannya menempatkan Bani Israil sebagai kaum yang tertindas: diperas tenaganya, dikerdilkan martabatnya, dan dibunuh anak laki-lakinya.
Di sinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menampilkan skenario-Nya. Nabi Musa dilahirkan dari kaum yang tertindas, dibesarkan di lingkungan penguasa, lalu pada akhirnya ditakdirkan untuk membela kaumnya dan mengingatkan penguasa atas kezaliman yang telah diperbuatnya.
Allah berfirman:
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qasas: 5)
Musa dan Harun: Dakwah yang Tidak Memihak
Musa bersama saudaranya Harun menghadapi Firaun dan seluruh pendukungnya — baik dari kalangan terdidik maupun pemuka spiritual. Mereka diperintahkan Allah untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lembut, sebagaimana termaktub dalam Surat Thaha ayat 44:
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
(QS. Thaha: 44)
Ayat ini penting dicatat: Allah memerintahkan Musa untuk berkata lembut kepada Firaun — seorang penguasa zalim sekalipun. Ini bukan tanda kompromi terhadap kezaliman, melainkan adab dalam menyampaikan kebenaran. Namun kelembutan cara tidak berarti kebisuan atas kezaliman. Musa tetap menyampaikan pesan, dan Firaun tetap ditegur. Respons Firaun adalah kemurkaan — bukan karena Musa kasar, melainkan karena kebenaran itu sendiri mengancam kekuasaannya.
Bani Israil: Umat yang Lemah Iman, Bukan Sekadar Lemah Kondisi
Di sisi lain, pengikut Musa— kaum Bani Israil—juga tidak luput dari catatan serius. Mereka memang tertindas secara sosial dan ekonomi, dan kehadiran Musa mereka rasakan sebagai pertolongan. Namun ketergantungan mereka tumbuh kepada sosok Musa, bukan kepada Allah yang mengutusnya.
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
Ketika Allah menurunkan manna wa salwa — makanan dari langit sebagai anugerah nyata — Bani Israil bukannya bersyukur, melainkan meminta yang lain. Dan di saat Nabi Musa pergi ke Bukit Tursina untuk menerima wahyu, mereka membuat patung anak sapi sebagai sesembahan. Kebodohan itu bukan karena mereka miskin informasi — melainkan karena iman mereka rapuh dan syukur mereka dangkal. Allah mengabadikan sikap mereka:
وَإِذْ قُلْتُمْ يَٰمُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَٰحِدٍ فَٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi…'” (QS. Al-Baqarah: 61)
Musa pun marah besar atas kebodohan kaumnya. Ini poin penting: Musa tidak hanya mengkritik Firaun. Ia juga menegur keras kaumnya sendiri.
Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa
قَالَ اَتَسۡتَبۡدِلُوۡنَ الَّذِىۡ هُوَ اَدۡنٰى بِالَّذِىۡ هُوَ خَيۡرٌؕ اِهۡبِطُوۡا مِصۡرًا فَاِنَّ لَـکُمۡ مَّا سَاَلۡتُمۡؕ
“Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.”…'” (QS. Al-Baqarah: 61)
Tiga Pihak, Satu Pelajaran
Membaca kisah ini secara utuh, ada tiga pihak yang masing-masing mendapat teguran:
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Pertama, pemimpin (Firaun) — yang zalim, arogan, dan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan amanah.
Kedua, umat (Bani Israil) — yang lemah iman, tidak bersyukur, dan mudah kufur meskipun pertolongan Allah nyata di depan mata.
Ketiga, para pembawa risalah (Musa dan Harun) — yang posisinya bukan pro-penguasa dan bukan pula membiarkan umat dalam kebodohan. Mereka berdiri di tengah: mengingatkan penguasa agar bertobat dari kezaliman, sekaligus mengingatkan umat agar tidak jatuh dalam kekufuran.
Nabi Musa adalah wakil Allah untuk menjaga keutuhan bumi dari dua arah kerusakan sekaligus. Peran inilah yang diwariskan kepada para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibn Majah — dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu)
Relevansi untuk Hari Ini: Cermin untuk Semua Pihak
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
Kisah Musa bukan hanya pelajaran bagi ulama. Ia adalah cermin yang diarahkan kepada tiga pihak secara bersamaan — dan masing-masing perlu jujur melihat dirinya di sana.
Untuk para pemimpin:
Kisah Firaun adalah peringatan bahwa kekuasaan yang tidak dijalankan sebagai amanah akan berakhir pada kehancuran. Ketika rakyat mengeluh soal harga kebutuhan pokok dan nilai tukar yang melemah, pemimpin tidak cukup berharap umat bersabar. Pemimpin yang arogan akan selalu melihat kritik sebagai ancaman, bukan sebagai masukan. Dan itu adalah awal dari kejatuhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim — dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma)
Untuk umat:
Kisah Bani Israil adalah peringatan bahwa kondisi tertindas tidak otomatis membuat seseorang benar di hadapan Allah. Mengkritisi pemimpin adalah hak — bahkan kewajiban — tetapi kritik yang tidak disertai kesadaran diri dan rasa syukur hanya akan mengulang pola Bani Israil. Allah berfirman:
Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Untuk para ulama dan pembawa pesan:
Posisi Musa hari ini diemban oleh para ulama sebagai pewaris para nabi. Warisan terpenting dari kisah Musa adalah: ulama tidak boleh berpihak kepada salah satu dari dua kerusakan itu. Ketika seorang ulama mengingatkan umat untuk bersyukur dan bertawakal di tengah gejolak ekonomi, itu bukan pembelaan terhadap pemerintah — itu adalah fungsi Musa kepada Bani Israil.
Namun pada saat yang sama, ulama yang menjalankan peran ini dengan benar tidak akan diam terhadap pemimpin yang zalim. Musa tidak berhenti mengingatkan Firaun hanya karena Firaun berkuasa.
Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi
Pesan “rezekimu tetap dijamin Allah” adalah pesan yang sahih. Masalahnya bukan pada pesannya — melainkan apakah pesan itu disampaikan secara utuh: bersamaan dengan teguran kepada pemimpin agar tidak arogan, dan bersamaan dengan dorongan kepada umat untuk tetap kritis, berjuang, dan bersyukur. Jika disampaikan sepotong-sepotong, pesan yang baik pun bisa terkesan berpihak.
Kisah Musa, Firaun, dan Bani Israil mengajarkan bahwa kebenaran tidak memiliki kubu. Ia mengingatkan siapa pun yang menyimpang — penguasa maupun rakyat. Para ulama mewarisi posisi Musa bukan untuk memilih satu pihak, melainkan untuk menjaga keduanya tetap berada di jalur yang benar.
Maka ketika ada yang bertanya, “mengapa ulama mengingatkan umat untuk bersyukur di tengah harga yang mencekik?” — pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah pada saat yang sama mereka juga mengingatkan pemimpin untuk berlaku adil? Jika ya, itulah Musa. Jika tidak, maka ada yang perlu dikoreksi. Wallahu a’lam bishawab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic