Risalah Kemenangan Al-Aqsha Bag. 4 (Oleh: Ali Farkhan Tsani)

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Internasional Al-Quds   

Bagian dari Keimanan

Jika kita mau menghayati, ternyata Masjid Al-Aqsha tidak lepas dari keimanan kepada Allah. Bagaimana tidak, Al-Aqsha adalah masjid tempat orang beribadah kepada-Nya. Dari sana juga awal turunnya perintah shalat fardhu.

Maka, Al-Aqsha adalah bagian yang berharga dari umat Islam dan komponen penting yang tidak dapat dipisahkan dari iman.

Menjadi keinginan iman terdalam kita umat Islam, untuk shalat berjamaah bersama kaum Muslimin di Masjid Al-Aqsha, di negeri para Nabi, wilayah penuh berkah.

Tempat yang Nabi sangat anjurkan umat Islam untuk mengunjunginya.

Orang-orang Yahudi saja, dari berbagai negara secara berkala berkunjung ke sana dengan klaim ritual talmud di Tembok Ratapan. Itu keimanan mereka.

Keimanan kita tentu harus jauh lebih tinggi lagi. Keimanan yang dibuktikan dengan road map to Al-Aqsa.

Karena itu, Umrah plus Ziarah Al-Aqsha pun menjadi agenda rutin kaum Muslimin dari Turki, Malaysia, dan tentu Indonesia.

Itupun karena mereka ta’dzim dan sanagt menghargai undangan Nabinya, yang telah bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَ

Artinya : “Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)”.  (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Itu tentu bukan kunjungan biasa, tapi ziarah menemui saudara-saudara kita yang telah berjuang langsung di medan perjuangan. Ada perhatian atau tidak dari umat, mereka para murabithun, orang-orang yang menjaga, tetap saja berjuang. Putra-putra terbaik Palestina terus mengukir nama di barisan para syuhada.

Mereka mengisahkan perjuangan nyata mereka dengan suara, tenaga, media, dan dengan darah mereka, dan bahkan dengan nyawa mereka.

Anak-anak kecil, lelaki tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun, nenek-nenek, kaum Muslimah, mereka semua berdiri tegar di hadapan prajurit zionis yang bersenjata lengkap.

Mereka sudah sangat hafal berteriak, “Aku ingin mati syahid.”

Keimanan seperti apakah, yang rela mati demi keagungan dan kehormatan masjid suci. Kalau bukan kalam ilahi yang menyeru:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra [17: 1).

Begitulah Allah memberkahi sekeliling Al-Aqsha, dan tentu memberkahi orang-orang di sekitarnya yang beriman, dan mereka yang mengunjunginya.

Betapapun orang-orang kafir hendak menghinakan, menodai, bahkan akan menghancurkan Al-Aqsha, tapi pejuang Al-Qassam memiliki motto, “Masjid-masjid kami dilindungi oleh orang-orang beriman di antara kami, darah kami yang melindungi sesama Muslim dan melindungi masjid Muslim, bukan darah orang lain.”

Inilah Risalah Kemenangan Al-Aqsha, yang hanya bisa diukur dengan kedalaman dan kekuatan iman. Allahu Akbar !! Al-Aqsha Haqquna !!! (A/RS2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.