Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan global, mendorong Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor utama pelemahan mata uang nasional tersebut.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh memburuknya kondisi global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven) dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Pada perdagangan pertengahan Maret 2026, rupiah tercatat sempat melewati level Rp17.000 per dolar AS sebelum kembali bergerak di kisaran Rp16.900-an. Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang cukup kuat, seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global.
Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan
Selain faktor global, sentimen domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar mencermati kebijakan fiskal pemerintah, inflasi, serta arah suku bunga yang ditetapkan BI. Dalam situasi ini, ruang kebijakan moneter dinilai terbatas karena otoritas harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk meredam tekanan, BI memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan menahan volatilitas rupiah.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan global, termasuk konflik geopolitik, harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga bank sentral utama seperti The Federal Reserve. Meski demikian, BI optimistis stabilitas nilai tukar dapat dijaga seiring fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic