Budapest, MINA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendapat pukulan diplomatik berat setelah sekutu dekatnya, Viktor Orbán, kalah dalam pemilihan umum di Hongaria.
Kekalahan ini menandai berakhirnya kekuasaan Orbán yang berlangsung hampir dua dekade. Selama masa jabatannya, Orbán dikenal sebagai penghalang kuat bagi setiap langkah kolektif Eropa yang menentang kebijakan Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Jaridah Al-Quds melaporkan, Selasa (14/4).
Selama ini, kalangan politik Israel memandang Orbán sebagai “tembok api” (firewall) di dalam Uni Eropa. Ia berulang kali menggunakan hak veto untuk memblokade berbagai rancangan resolusi yang mengecam pembangunan permukiman Israel dan menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel.
Dengan kekalahan Orbán, Israel kini kehilangan kemampuan untuk menembus konsensus Eropa yang cenderung bersikap lebih keras terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Baca Juga: Pakistan Ajak AS dan Iran Gelar Putaran Kedua Negosiasi
Tantangan terhadap Pengadilan Internasional
Peran Orbán tidak hanya sebatas dukungan politik. Ia juga secara terbuka menantang lembaga peradilan internasional. Misalnya pada November 2024, setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu, Hongaria justru mengundang Netanyahu berkunjung sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan tersebut.
Selanjutnya, pada April 2025, Netanyahu secara resmi diterima di Budapest. Pada saat yang sama, Hongaria mengumumkan pengunduran dirinya dari Statuta Roma (landasan hukum ICC).
Namun kini kemenangan Peter Magyar dan partainya ‘Tessa’ mengancam membalikkan kebijakan tersebut. Magyar telah menyatakan niatnya untuk kembali bergabung dengan ICC.
Baca Juga: 1 Juta Warga Eropa Tandatangani Petisi Desak Uni Eropa Bekukan Perjanjian dengan Israel
Peter Magyar yang berhaluan kanan-tengah dan tidak diklasifikasikan sebagai musuh Israel, akan berubah secara radikal.
Hongaria tidak akan lagi secara otomatis menentang resolusi PBB yang mengkritik pendudukan Israel. Sebaliknya, Budapest akan berusaha berintegrasi ke dalam konsensus hukum dan moral Uni Eropa.
Sementara itu, pemerintah Israel dan pemimpin oposisi Yair Lapid mencoba menyikapi dengan tenang. Mereka mengirimkan ucapan selamat kepada Magyar atas kemenangannya, dalam upaya mempertahankan hubungan baik seminimal mungkin.
Namun, laporan pers mengonfirmasi bahwa tugas Israel untuk membentuk “minoritas penghambat” di dalam Uni Eropa kini jauh lebih kompleks dari sebelumnya.
Baca Juga: Israel Terus Nodai Masjid Al-Aqsa, ICJP Surati UNESCO Desak Perlindungan Situs Suci Muslim
Terlebih potensi kembalinya Hongaria ke ICC berarti tertutupnya satu-satunya jalan Eropa yang tersedia bagi Netanyahu untuk melarikan diri dari peradilan internasional.
Dengan kehilangan sekutu yang dulu menggambarkan surat perintah penangkapan ICC sebagai ‘tidak masuk akal’, Netanyahu kini secara hukum semakin terjebak di benua Eropa.
Kepergian Orbán menandai akhir dari era keemasan bagi diplomasi Israel di Eropa Timur. Budapest selama ini menjadi ujung tombak dalam membela kebijakan kanan Israel.
Kini, Tel Aviv harus berurusan dengan realitas Eropa yang lebih kohesif dan kepemimpinan Hongaria yang lebih mengutamakan kepentingan bersama dengan Brussels, bukan aliansi pribadi seperti sebelumnya. []
Baca Juga: PM Spanyol: Israel Satu-satunya Pelanggar Hukum Internasional di Timur Tengah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic