Brussels, MINA – Sebuah inisiatif warga Eropa yang menyerukan penangguhan total perjanjian asosiasi antara Uni Eropa (UE) dan Israel telah mencapai tonggak sejarah. Hingga Selasa (13/4) dini hari, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari satu juta tanda tangan.
Menurut data resmi dari Platform Inisiatif Warga Komisi Eropa, jumlah penandatangan mencapai 1.173.331 orang. Dengan capaian ini, petisi tersebut kini memiliki status formal yang mewajibkan Uni Eropa untuk merespons secara institusional.
Kampanye ini baru diluncurkan tiga bulan lalu. Gerakan ini muncul sebagai respons langsung terhadap ketidakpuasan warga Eropa yang semakin meluas akibat operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Para penggagas petisi juga berhasil memenuhi persyaratan hukum yang kompleks, termasuk mengumpulkan jumlah tanda tangan minimum di setidaknya tujuh negara anggota UE. Ini adalah prasyarat agar petisi dapat diadopsi dan dibahas oleh Komisi Eropa.
Baca Juga: Israel Terus Nodai Masjid Al-Aqsa, ICJP Surati UNESCO Desak Perlindungan Situs Suci Muslim
Petisi ini didasarkan pada berbagai laporan internasional dan Eropa yang menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab atas: tingkat pembunuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga sipil Palestina, pemindahan paksa penduduk dan penghancuran sistematis rumah sakit dan fasilitas vital.
Dokumen petisi menyebut praktik-praktik ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap nilai-nilai dasar Uni Eropa serta perjanjian yang telah ditandatangani antara UE dan Israel.
Tekanan Politik dan Hukum
Sumber yang dekat dengan kampanye ini menegaskan bahwa gerakan rakyat ini bertujuan untuk memberikan tekanan politik dan hukum langsung kepada Komisi Eropa. Tujuannya agar Uni Eropa mengambil keputusan tegas.
Baca Juga: PM Spanyol: Israel Satu-satunya Pelanggar Hukum Internasional di Timur Tengah
Petisi tersebut menyerukan proposal resmi kepada Dewan Eropa untuk membekukan semua ketentuan Perjanjian Asosiasi. Perjanjian ini selama ini menjadi tulang punggung hubungan ekonomi, perdagangan, dan politik antara Brussel dan Tel Aviv.
Para penandatangan menegaskan bahwa warga UE tidak akan menerima kelanjutan perjanjian yang justru berkontribusi memperkuat legitimasi dan pendanaan bagi negara yang dituduh melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Inisiatif ini menekankan bahwa melanjutkan perjanjian asosiasi di tengah tuduhan genosida terhadap Israel adalah sebuah kontradiksi moral yang tidak dapat diterima.
Mereka menjelaskan bahwa aturan Uni Eropa mewajibkan penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagai prasyarat untuk menjalin kemitraan internasional. Dan menurut keputusan Mahkamah Internasional baru-baru ini, Israel dinilai gagal mematuhi prinsip tersebut.
Baca Juga: Italia Tangguhkan Perjanjian Kerja Sama Militer dengan Israel
Dukungan dari Parlemen Eropa
Koalisi partai-partai sayap kiri di Parlemen Eropa turut mendukung peluncuran kampanye ini dari Brussels, ibu kota Belgia. Mereka menganggap dukungan ini sebagai kewajiban moral terhadap para korban di Gaza.
Langkah ini bertujuan mengubah kemarahan publik menjadi alat legislatif yang dapat memaksa para pembuat keputusan Uni Eropa untuk meninjau ulang hubungan mereka dengan Israel. Terutama karena Israel menghadapi tuduhan serius menggunakan kelaparan sebagai senjata perang terhadap penduduk Gaza yang terkepung.
Blokade Bantuan Kemanusiaan
Baca Juga: Hamas Puji Global Sumud Flotilla untuk Menembus Blokade Israel di Gaza
Laporan yang dilampirkan dalam petisi juga menunjukkan bahwa blokade komprehensif terhadap bantuan kemanusiaan serta penolakan akses pasokan medis merupakan pelanggaran terhadap kewajiban internasional Israel.
Para penandatangan berpendapat bahwa Uni Eropa, sebagai mitra dagang utama Israel, memiliki pengaruh yang nyata. Pengaruh ini dapat digunakan untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, jika opsi penangguhan kemitraan benar-benar diaktifkan.
Hal ini diperkirakan akan memicu perdebatan intens di dalam Komisi Eropa dalam waktu dekat. Sebab, hukum Eropa mewajibkan Komisi untuk mempelajari dan merespons secara resmi setiap inisiatif yang melebihi satu juta tanda tangan.
Perkembangan ini menandai perubahan penting dalam keseimbangan kekuatan opini publik Eropa. Masyarakat Eropa kini tidak hanya menuntut kecaman politik, tetapi juga langkah-langkah ekonomi yang konkret terhadap Israel. []
Baca Juga: Krisis Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Energi Uni Eropa
Mi’raj News Agency (MINA)















Mina Indonesia
Mina Arabic