Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Redaksi Editor : Arif R - Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:06 WIB

201 Views ㅤ

Ilustrasi

SHUHAIB bin Sinan ar-Rumi adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena pengorbanannya saat berhijrah dari Makkah ke Madinah. Demi menyusul Rasulullah SAW, Shuhaib rela meninggalkan harta kekayaan yang telah dikumpulkannya. Ketika keduanya bertemu, Nabi menyambutnya dengan ungkapan yang terkenal, “Untunglah perdaganganmu, wahai Abu Yahya!”

Kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi sahabat Nabimenjadi salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Islam tentang keimanan, pengorbanan, dan makna keuntungan yang sesungguhnya. Bagi Shuhaib, harta bukanlah tujuan akhir kehidupan. Ketika harus memilih antara kekayaan dan kesempatan mempertahankan iman, ia memilih berhijrah bersama kaum Muslimin.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi dan Perjalanan Hidupnya

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi memiliki nama lengkap Shuhaib bin Sinan bin Malik. Ia dikenal dengan julukan ar-Rumi, yang berkaitan dengan perjalanan hidupnya di wilayah Romawi, serta kunyah Abu Yahya. Sejumlah kitab biografi sahabat menyebutkan bahwa ia berasal dari kawasan Irak, kemudian mengalami penawanan ketika masih kecil dan dibawa ke wilayah Romawi sebelum akhirnya tiba di Makkah.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Kisah masa kecil Shuhaib bin Sinan ar-Rumi memperlihatkan perjalanan hidup yang tidak mudah. Ia pernah kehilangan kebebasan, hidup jauh dari tanah kelahirannya, dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membawanya menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW.

Meskipun memiliki latar belakang kehidupan yang berat, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi Abu Yahya berhasil membangun kehidupan di Makkah. Ia dikenal sebagai pedagang yang memiliki kekayaan. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa seseorang dapat melewati masa sulit, membangun kemandirian, dan tetap terbuka terhadap kebenaran.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi sahabat Nabi termasuk dalam kelompok Muslim generasi awal yang menerima dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Keputusannya memeluk Islam terjadi ketika kaum Muslimin menghadapi tekanan dari sebagian masyarakat Quraisy yang menolak ajaran tauhid.

Pada masa awal Islam, mempertahankan keimanan bukanlah perkara mudah. Sejumlah pengikut Rasulullah SAW mengalami penghinaan, tekanan sosial, dan penyiksaan. Dalam keadaan tersebut, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi tetap berpegang pada keyakinannya meskipun pilihannya membawa risiko terhadap kehidupan dan harta yang dimilikinya.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Keislaman Shuhaib menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan generasi pertama umat Islam. Ia tidak hanya menerima ajaran Rasulullah SAW, tetapi juga menunjukkan kesungguhan dalam mempertahankan keyakinan ketika menghadapi pilihan-pilihan sulit.

Kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi berhijrah ke Madinah menjadi bagian paling terkenal dalam perjalanan hidupnya. Ketika Rasulullah SAW dan kaum Muslimin meninggalkan Makkah menuju Madinah, Shuhaib juga bertekad menyusul Nabi untuk melanjutkan kehidupan sebagai seorang Muslim di lingkungan yang lebih aman.

Namun, perjalanan hijrah Shuhaib menghadapi hambatan. Harta yang telah dikumpulkannya di Makkah menjadi persoalan ketika sejumlah orang Quraisy berusaha menghalangi kepergiannya. Mereka tidak menghendaki Shuhaib meninggalkan Makkah dengan membawa kekayaannya.

Dalam riwayat yang terkenal di kitab-kitab sejarah Islam, Shuhaib menghadapi para pengejarnya dan menawarkan hartanya sebagai tebusan agar ia diizinkan melanjutkan perjalanan. Ia bersedia menunjukkan tempat penyimpanan kekayaannya dengan syarat dapat meninggalkan Makkah tanpa dihalangi.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Akhirnya, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi mengorbankan hartanya demi hijrah. Ia meninggalkan kekayaan yang telah diperoleh melalui kerja keras untuk menyelamatkan perjalanan dan mempertahankan kebebasannya menjalankan agama. Secara materi, keputusan itu tampak seperti kerugian besar. Namun, bagi Shuhaib, kesempatan mengikuti Rasulullah SAW jauh lebih berharga daripada harta yang ditinggalkannya.

Kisah hijrah Shuhaib mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu berarti kekalahan. Dalam keadaan tertentu, melepaskan sesuatu yang berharga dapat menjadi keputusan yang tepat ketika ada nilai kehidupan yang lebih penting untuk dipertahankan.

“Untunglah Perdaganganmu, Wahai Abu Yahya!”

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi Abu Yahya akhirnya tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah SAW. Ia datang tanpa kekayaan yang dahulu dimilikinya di Makkah, tetapi membawa tekad untuk tetap mengikuti perjuangan Nabi dan kaum Muslimin.

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah SAW menyambut Shuhaib dengan ungkapan, “Rabiha al-bay‘u, Aba Yahya!” yang berarti, “Untunglah perdaganganmu, wahai Abu Yahya!”

Ucapan Rasulullah SAW tersebut menjadi bagian paling berkesan dari kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi. Nabi memandang pengorbanan hartanya sebagai sebuah transaksi yang menguntungkan. Shuhaib memang kehilangan kekayaan dunia, tetapi ia berhasil mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga menurut keyakinannya, yaitu iman dan kesempatan berhijrah.

Kisah jual beli Shuhaib bin Sinan ar-Rumi kemudian dikenal sebagai gambaran pengorbanan seorang Muslim yang mendahulukan keridaan Allah daripada kepentingan materi. Makna keuntungan dalam cerita ini tidak semata-mata diukur berdasarkan uang atau harta yang diperoleh, melainkan berdasarkan nilai yang diperjuangkan.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi dan Surah Al-Baqarah Ayat 207

Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia

Kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi dalam Al-Qur’an sering dikaitkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 207. Ayat tersebut menjelaskan tentang orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 207:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Dalam sejumlah riwayat tafsir, ayat ini dikaitkan dengan pengorbanan Shuhaib ketika meninggalkan hartanya demi berhijrah. Hubungan tersebut memperkuat kedudukan kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi sahabat Rasulullah sebagai teladan tentang kesungguhan mempertahankan iman.

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Meski demikian, terdapat variasi riwayat mengenai sebab khusus turunnya ayat tersebut. Karena itu, kisah Shuhaib lebih tepat disebut sebagai salah satu peristiwa yang dikaitkan dengan ayat tersebut dalam tradisi tafsir, bukan satu-satunya penjelasan mengenai sebab turunnya ayat.

Pesan Surah Al-Baqarah ayat 207 juga memiliki cakupan yang lebih luas. Ayat tersebut mengingatkan bahwa mencari keridaan Allah dapat menuntut pengorbanan dan kesungguhan. Dalam konteks kisah Shuhaib, prinsip itu terlihat melalui keputusan meninggalkan harta demi mempertahankan keimanan.

Perjuangan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi Setelah Hijrah

Kehidupan  Shuhaib bin Sinan ar-Rumi setelah hijrah tidak berhenti ketika ia berhasil tiba di Madinah. Ia kemudian menjadi bagian dari masyarakat Muslim yang tumbuh di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW. Sejumlah kitab biografi sahabat mencatat keterlibatannya dalam berbagai peristiwa penting pada masa awal Islam, termasuk Perang Badar.

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Perjalanan hidup Shuhaib memperlihatkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Hijrah juga berarti kesiapan membangun kehidupan baru, mempertahankan keimanan, dan mengambil bagian dalam perjuangan bersama umat Islam.

Pengorbanan harta yang dilakukan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi menjadi salah satu bagian dari kesetiaan yang lebih panjang. Ia dikenang bukan hanya karena keberaniannya meninggalkan kekayaan di Makkah, tetapi juga karena kedudukannya sebagai sahabat yang mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Shuhaib wafat di Madinah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Tahun wafatnya disebut berbeda dalam sejumlah sumber sejarah. Meskipun demikian, namanya tetap dikenal dalam literatur tarikh Islam sebagai sahabat yang memiliki kisah hijrah penuh pelajaran.

Pelajaran dari Kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi

Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana

Kisah  Shuhaib bin Sinan ar-Rumi dan pengorbanan hartanya memberikan pelajaran tentang cara memandang kekayaan. Harta bukan sesuatu yang harus dibenci atau ditinggalkan tanpa alasan. Harta dapat menjadi sarana untuk membangun keluarga, membantu sesama, mendukung pendidikan, dan melakukan berbagai kebaikan.

Namun, kisah Abu Yahya mengingatkan bahwa harta tidak semestinya menguasai seluruh keputusan hidup. Ada prinsip yang perlu dipertahankan meskipun menuntut pengorbanan. Bagi Shuhaib, kesempatan berhijrah dan mempertahankan keimanan memiliki nilai yang lebih besar daripada kekayaan yang telah dikumpulkannya.

Dalam kehidupan modern, kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi tetap relevan sebagai bahan refleksi. Manusia sering mengukur keberhasilan berdasarkan kepemilikan, jabatan, dan pencapaian materi. Padahal, keberhasilan juga berkaitan dengan nilai yang dipegang, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan pilihan hidup.

Shuhaib tidak dikenang karena berhasil mempertahankan seluruh hartanya, melainkan karena keberaniannya menentukan prioritas. Ia menunjukkan bahwa keuntungan tidak selalu berarti memperoleh lebih banyak, tetapi terkadang berarti bersedia melepaskan sesuatu demi tujuan yang lebih luhur.

Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia

Kisah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi, sahabat Nabi bergelar Abu Yahya, akhirnya menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kemuliaan tidak selalu ditandai oleh bertambahnya kekayaan. Ada kalanya seseorang harus meninggalkan sesuatu yang berharga untuk mempertahankan hal yang jauh lebih penting.

Ia meninggalkan harta di Makkah, tetapi namanya tetap hidup dalam sejarah Islam. Ungkapan Rasulullah SAW, “Untunglah perdaganganmu, wahai Abu Yahya!” terus dikenang sebagai pesan tentang pengorbanan, keimanan, dan makna keuntungan yang sesungguhnya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir

Rekomendasi untuk Anda

Sosok
Sosok