Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Redaksi Editor : Arif R - Ahad, 25 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Ahad, 25 Oktober 2026 - 20:15 WIB

64 Views ㅤ

Ilustrasi

SOSOK Hamzah bin Abdul Muthalib merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenang karena keberanian, keteguhan iman, dan pengorbanannya dalam membela Islam. Dikenal dengan gelar Asadullah atau Singa Allah, Hamzah juga masyhur dengan sebutan Sayyidus Syuhada, yang berarti penghulu para syuhada. Kisah hidup Hamzah bin Abdul Muthalib menjadi bagian penting dari sejarah Islam, terutama dalam menggambarkan keberanian seorang sahabat yang mengabdikan dirinya untuk Rasulullah SAW hingga gugur dalam Perang Uhud.

Gelar Sayyidus Syuhada menjadikan Hamzah bin Abdul Muthalib sebagai salah satu sosok yang sangat dihormati dalam tradisi sejarah Islam. Sebutan tersebut secara umum dimaknai sebagai penghulu atau pemimpin para syuhada. Hamzah dikenang bukan hanya karena kematiannya di medan perang, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang diwarnai keberanian, kesetiaan kepada Rasulullah SAW, dan pengorbanan dalam perjuangan Islam. Gelar ini merepresentasikan penghormatan umat Islam terhadap keteguhan dan pengabdian Hamzah.

Hamzah bin Abdul Muthalib berasal dari Bani Hasyim, keluarga terhormat di kalangan Quraisy, Makkah. Ia merupakan paman Rasulullah SAW sekaligus saudara sepersusuan Nabi. Kedekatan tersebut membuat hubungan keduanya memiliki arti tersendiri dalam perjalanan dakwah Islam. Namun, kedudukan Hamzah dalam sejarah tidak hanya ditentukan oleh hubungan kekeluargaan. Ia dikenal karena keberaniannya mengambil sikap ketika Rasulullah menghadapi tekanan dan penentangan dari sejumlah pemuka Quraisy pada masa awal dakwah.

Hamzah bin Abdul Muthalib Memeluk Islam

Kisah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib sering dikaitkan dengan peristiwa penghinaan Abu Jahal terhadap Rasulullah SAW. Sejumlah riwayat sirah menceritakan bahwa Hamzah mengetahui perlakuan tersebut setelah kembali dari berburu. Ia kemudian mendatangi Abu Jahal dan menyatakan pembelaannya terhadap Nabi Muhammad SAW. Kisah ini memiliki beberapa variasi dalam rincian penuturannya, tetapi secara umum menggambarkan keberanian Hamzah dalam membela Rasulullah. Setelah memeluk Islam, Hamzah menjadi salah seorang tokoh yang memberikan dukungan penting kepada kaum Muslimin yang menghadapi tekanan di Makkah.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib juga memiliki arti penting bagi perkembangan komunitas Muslim pada masa itu. Kehadirannya sebagai anggota keluarga terhormat Quraisy memberikan dukungan moral bagi umat Islam yang masih menghadapi keterbatasan dan ancaman. Hamzah tidak sekadar menyatakan keyakinannya, tetapi juga menunjukkan komitmen melalui keberanian membela Rasulullah. Dari perjalanan tersebut, ia dikenang sebagai sosok yang mengarahkan kekuatan dan kehormatannya untuk mendukung perjuangan Islam.

Julukan Asadullah atau Singa Allah melekat kuat pada Hamzah bin Abdul Muthalib karena keberaniannya dalam perjuangan Islam. Ia dikenal sebagai pejuang yang tangguh dan tidak mudah gentar menghadapi ancaman. Namun, keberanian Hamzah tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik. Sikapnya juga mencerminkan keberanian moral, yakni kesediaan membela Rasulullah dan mempertahankan keyakinan ketika dakwah Islam menghadapi tantangan. Dalam tradisi sejarah Islam, Hamzah menjadi simbol keberanian yang disertai kesetiaan dan pengabdian.

Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Badar

Peran Hamzah bin Abdul Muthalib semakin menonjol dalam Perang Badar, yang berlangsung pada tahun kedua Hijriah. Pertempuran tersebut mempertemukan kaum Muslimin dengan pasukan Quraisy Makkah dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah awal Islam. Hamzah termasuk pejuang Muslim yang dikenal karena keberaniannya di medan perang. Keikutsertaannya memperlihatkan kesediaannya mempertaruhkan keselamatan diri demi mempertahankan komunitas Muslim yang ketika itu masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Bagi Hamzah bin Abdul Muthalib, Perang Badar merupakan bagian dari perjalanan perjuangan bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya. Keberanian yang ditunjukkannya memperkuat reputasinya sebagai salah seorang pejuang Muslim yang disegani. Akan tetapi, perjalanan Hamzah tidak berhenti pada pertempuran tersebut. Ujian yang lebih menyakitkan datang dalam Perang Uhud, ketika ia akhirnya gugur sebagai syahid.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Hamzah bin Abdul Muthalib Gugur dalam Perang Uhud

Kesyahidan Hamzah bin Abdul Muthalib terjadi dalam Perang Uhud pada tahun ketiga Hijriah, sekitar 625 Masehi. Pertempuran tersebut berlangsung di sekitar Gunung Uhud, dekat Madinah, ketika pasukan Quraisy kembali menghadapi kaum Muslimin. Di tengah pertempuran yang penuh risiko itu, Hamzah gugur setelah dibunuh oleh Wahsyi bin Harb menggunakan tombak, sebagaimana diceritakan dalam riwayat sejarah Islam yang dikenal luas.

Kematian Hamzah bin Abdul Muthalib menjadi kehilangan besar bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Hamzah bukan hanya paman Nabi, melainkan juga sahabat dan pembela yang telah memberikan dukungan penting sejak masa dakwah di Makkah. Sejumlah riwayat sejarah juga menceritakan bahwa jasad Hamzah mengalami perlakuan yang menyakitkan setelah ia gugur. Peristiwa tersebut menambah duka yang dirasakan kaum Muslimin dan menjadikan kisah kesyahidannya sebagai salah satu bagian paling memilukan dalam sejarah Perang Uhud.

Sebutan Sayyidus Syuhada sangat erat dengan Hamzah bin Abdul Muthalib dalam tradisi penghormatan umat Islam. Salah satu riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW menyebut Hamzah sebagai pemimpin para syuhada. Riwayat tersebut antara lain dicatat oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain. Untuk kepentingan kajian akademik, penilaian terhadap jalur periwayatan hadis ini tetap perlu diperiksa melalui literatur takhrij hadis agar penyebutannya sesuai dengan tingkat kekuatan riwayat.

Makna gelar Sayyidus Syuhada pada Hamzah bin Abdul Muthalib tidak hanya terletak pada penghormatan terhadap kematiannya. Gelar tersebut juga mengingatkan umat Islam pada pengabdian dan keberanian yang mendahului kesyahidannya. Hamzah telah menunjukkan komitmen terhadap Rasulullah SAW ketika dakwah Islam menghadapi tekanan, mengambil bagian dalam perjuangan kaum Muslimin, dan tetap berada dalam barisan perjuangan hingga akhir hayatnya. Perjalanan inilah yang membuat namanya terus dikenang dalam literatur sejarah Islam. []

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Sosok
Sosok
Sosok
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat