Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 21 September 2026 - 07:38 WIB

Senin, 21 September 2026 - 07:38 WIB

161 Views ㅤ

Ilustrasi

TIDAK semua perjalanan menuju kebenaran dimulai dari sebuah kepastian. Ada kalanya seseorang justru menemukannya setelah melewati keraguan, kehilangan, pengembaraan, dan perpisahan dengan segala sesuatu yang selama ini dianggap benar.

Kisah Salman al-Farisi adalah salah satu kisah pencarian yang paling menarik dalam sejarah Islam. Ia bukan seorang Arab, bukan pula seseorang yang sejak kecil berada di lingkungan Islam. Ia berasal dari Persia dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki kedudukan terhormat. Namun, perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa kebenaran baginya bukan sesuatu yang cukup diwarisi dari keluarga atau lingkungan. Kebenaran harus dicari, diuji, dan diikuti dengan kesungguhan.

Salman dikenal sebagai seorang pencari kebenaran yang menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

Dari Persia dan Tradisi Keluarga

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Salman al-Farisi berasal dari wilayah Persia. Dalam riwayat yang terkenal, nama sebelum masuk Islam disebut Salman ibn Islam atau Salman al-Farisi, dan ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki kedudukan cukup tinggi.

Ayahnya disebut sebagai seorang pemimpin atau tokoh terpandang di daerahnya. Salman mendapatkan perhatian besar dari keluarganya. Salah satu tugas yang dipercayakan kepadanya adalah menjaga api yang menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakatnya.

Namun, kehidupan Salman berubah ketika dalam sebuah perjalanan ia berjumpa dengan sekelompok orang yang sedang melaksanakan ibadah. Ia tertarik dengan apa yang dilihatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini ia kenal.

Rasa ingin tahu itu membuat Salman bertanya. Ia kemudian mendatangi tempat ibadah tersebut dan mendengar penjelasan tentang agama yang dianut oleh orang-orang itu. Ketertarikannya semakin besar. Ia melihat adanya bentuk pengabdian kepada Tuhan yang menurutnya memiliki makna yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Ketika ayahnya mengetahui bahwa Salman mulai tertarik kepada agama lain, ia berusaha mencegahnya. Dalam riwayat yang masyhur, Salman bahkan sempat dikurung agar tidak pergi. Namun keinginan Salman untuk mencari kebenaran tidak padam.

Ia kemudian meninggalkan Persia dan bergabung dengan orang-orang yang dianggapnya memiliki pengetahuan agama. Dari satu guru kepada guru berikutnya, Salman terus belajar. Di sinilah perjalanan Salman menunjukkan sesuatu yang penting: pencarian kebenaran tidak selalu berjalan lurus.

Ia mendatangi para pemuka agama, belajar kepada mereka, dan menyaksikan sendiri keadaan mereka. Salman bukan sekadar menerima semua yang dikatakan kepadanya. Ia memperhatikan perilaku gurunya dan membandingkannya dengan ajaran yang mereka sampaikan.

Dalam riwayatnya, Salman menemukan bahwa sebagian orang yang dianggap sebagai tokoh agama ternyata menyalahgunakan kedudukan mereka. Ada yang mengumpulkan harta dari masyarakat dengan cara yang tidak benar.

Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana

Pengalaman tersebut tidak membuat Salman berhenti mencari. Justru ia belajar bahwa manusia dan ajaran agama adalah dua hal yang harus dibedakan. Kesalahan seorang pemeluk agama tidak serta-merta membatalkan kebenaran yang sedang ia cari.

Salman kemudian berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia belajar kepada orang-orang saleh yang ditemuinya. Salah seorang guru terakhirnya memberinya petunjuk penting. Ia mengatakan bahwa telah tiba masa ketika seorang nabi akan diutus dengan membawa agama Ibrahim. Nabi itu disebut akan muncul di tanah Arab.

Guru tersebut memberikan sejumlah tanda tentang nabi yang akan datang itu. Di antaranya, nabi tersebut akan menerima hadiah tetapi tidak memakan sedekah. Ia juga memiliki tanda kenabian di antara kedua bahunya.

Bagi Salman, informasi itu menjadi petunjuk yang sangat berharga. Tetapi perjalanan menuju tanah Arab ternyata tidak mudah. Ia bahkan mengalami pengkhianatan dan diperjualbelikan sebagai seorang budak. Salman, yang sebelumnya berasal dari keluarga terpandang di Persia, kini berada dalam keadaan yang sangat jauh berbeda.

Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir

Pertemuan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam

Ketika mendengar bahwa seorang nabi telah muncul di Yatsrib—yang kemudian dikenal sebagai Madinah—Salman segera berusaha memastikan kebenaran berita tersebut. Ia membawa makanan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa makanan itu adalah sedekah. Rasulullah kemudian mempersilakan para sahabat memakannya, tetapi beliau sendiri tidak memakannya.

Salman memperhatikan. Petunjuk pertama terbukti. Pada kesempatan berikutnya, Salman membawa makanan dan menyebutnya sebagai hadiah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam memakannya bersama para sahabat. Petunjuk kedua terbukti.

Salman masih menyimpan satu tanda terakhir. Ia berusaha melihat tanda kenabian di antara kedua bahu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah mengetahui apa yang sedang dicari Salman, beliau memperlihatkan tanda tersebut. Salman pun yakin.

Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pembuka Jalan ke Madinah

Perjalanan yang telah ia tempuh bertahun-tahun akhirnya menemukan ujungnya. Ia memeluk Islam.

Kisah Salman tidak berhenti pada pertemuan dengan Rasulullah. Ia masih harus menjalani perjuangan untuk memperoleh kebebasan. Karena statusnya sebagai budak, Salman tidak dapat begitu saja bergabung dengan masyarakat Muslim sebagai manusia merdeka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan para sahabat kemudian membantunya memenuhi persyaratan pembebasannya.

Dalam riwayat yang terkenal, Salman harus menanam sejumlah pohon kurma dan membayar sejumlah harta kepada pemiliknya. Para sahabat membantu Salman. Rasulullah turut memberikan bantuan dalam proses tersebut. Akhirnya Salman memperoleh kebebasannya.

Di sini tampak harga yang harus dibayar dalam perjalanan pencariannya: ia meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, kenyamanan, bahkan mengalami perbudakan. Tetapi ia tidak menganggap semua itu sebagai alasan untuk kembali dari pencariannya.

Baca Juga: Hudzaifah bin Yaman: Pemegang Rahasia Nabi dan Sahabat yang Mengetahui Jejak Kemunafikan

Salman tidak dilahirkan sebagai sahabat Nabi. Ia menjadi sahabat Nabi melalui sebuah perjalanan. Dan mungkin di situlah letak kekuatan kisahnya, di mana kebenaran bagi Salman bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang ia cari dengan seluruh kehidupannya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mengharukan, Ini Kisah Nadia Mohamed hingga Menjadi Wali Kota di Amerika Serikat

Rekomendasi untuk Anda

Sosok
Sosok
Kolom
Sosok
Indonesia
Breaking News