Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana

Redaksi Editor : Arif R - Selasa, 22 September 2026 - 13:15 WIB

Selasa, 22 September 2026 - 13:15 WIB

160 Views ㅤ

Ilustrasi

TIDAK semua orang yang menemukan dunia akan memilih mengejarnya. Ada manusia yang ketika mendapatkan harta justru ingin menambahnya, mengejar kedudukan, dan memperluas pengaruhnya. Namun ada pula orang yang setelah mengenal dunia, justru memilih mengambil secukupnya dan mengarahkan hidupnya kepada sesuatu yang diyakininya lebih kekal.

Salah satunya adalah Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi Muhammad Shalallhu alaihi wa sallam yang dikenal karena keberaniannya, keteguhannya memegang prinsip, kepeduliannya kepada kaum lemah, dan terutama kesederhanaannya dalam menjalani kehidupan.

Kisah Abu Dzar tidak bermula dari Madinah, tempat Rasulullah membangun masyarakat Islam. Ia juga bukan berasal dari keluarga terpandang di pusat perdagangan Makkah. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah, seorang lelaki dari Bani Ghifar.

Ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat Arab yang keras, tetapi di tengah kehidupan tersebut tumbuh pula kegelisahan dalam dirinya. Abu Dzar tidak mudah menerima begitu saja keyakinan yang diwariskan kepadanya. Ia seperti sedang mencari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kehidupan yang dijalani dari hari ke hari.

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Kegelisahan itu menemukan arah ketika kabar tentang seorang lelaki di Makkah sampai kepadanya. Lelaki itu disebut membawa ajaran baru dan mengaku sebagai utusan Allah. Abu Dzar tidak terburu-buru mempercayainya, tetapi juga tidak menolaknya. Ia ingin mengetahui sendiri siapa orang itu dan apa yang sebenarnya disampaikannya. Ia kemudian meminta saudaranya pergi ke Makkah untuk mencari informasi. Sang saudara kembali dengan cerita tentang seorang lelaki yang mengajak manusia kepada akhlak mulia dan menyampaikan sesuatu yang bukan syair.

Namun jawaban itu belum membuat Abu Dzar puas. Ia akhirnya memutuskan pergi sendiri ke Makkah. Dalam riwayat panjang yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, perjalanan tersebut digambarkan sebagai pencarian seorang lelaki yang benar-benar ingin menemukan Rasulullah meskipun ia belum mengetahui wajah dan tempat tinggal beliau secara pasti.

Perjalanan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan sesuatu yang besar. Abu Dzar tidak memiliki fasilitas seperti manusia hari ini. Tidak ada peta digital, mesin pencari, telepon genggam, atau informasi yang dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Ia hanya memiliki keberanian dan keinginan untuk menemukan kebenaran.

Sesampainya di Makkah, ia memilih berhati-hati. Ia tidak sembarangan bertanya karena mengetahui bahwa orang-orang Quraisy sedang memusuhi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dalam keadaan sebagai orang asing, ia kemudian bertemu dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Setelah beberapa kali pertemuan dan merasa cukup aman untuk menyampaikan maksud kedatangannya, Abu Dzar akhirnya mengatakan bahwa ia sedang mencari Muhammad, lelaki yang disebut membawa agama baru.

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Ali kemudian mengantarkannya bertemu Rasulullah. Pertemuan itu menjadi salah satu titik balik paling penting dalam kehidupan Abu Dzar. Ia mendengar langsung ajaran Nabi dan ayat-ayat Al-Qur’an. Apa yang selama ini dicarinya seperti menemukan tempat berlabuh. Abu Dzar menerima Islam.

Tetapi kepribadiannya yang berani dan terus terang segera terlihat. Ia bukan tipe manusia yang mudah menyimpan sesuatu yang diyakininya benar. Setelah memeluk Islam, ia bahkan pergi ke Masjidil Haram dan menyatakan keislamannya secara terbuka di hadapan orang-orang Quraisy.

Tindakan itu membuatnya dipukuli dengan keras. Ia kemudian diselamatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib. Namun pada hari berikutnya, Abu Dzar kembali melakukan hal yang sama. Ia kembali menyatakan keislamannya dan kembali mendapat perlakuan kasar. Kisah tersebut tercatat dalam Sahih al-Bukhari.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam kemudian meminta Abu Dzar kembali kepada kaumnya dan menyampaikan dakwah kepada mereka sampai tiba waktu yang memungkinkan dirinya bergabung bersama kaum Muslimin. Abu Dzar pun pulang. Ia tidak kembali dengan harta atau kedudukan. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu  keyakinan baru yang mengubah arah hidupnya. Ia mengajak keluarganya dan masyarakatnya kepada Islam.

Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia

Perubahan yang terjadi pada dirinya kemudian menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di tengah masyarakat Arab. Dalam Sahih Muslim, Rasulullah bahkan menyebut keutamaan Bani Ghifar dan Bani Aslam.

Namun, jika kisah Abu Dzar hanya berhenti pada keberaniannya memeluk Islam, kita akan kehilangan bagian paling menarik dari kehidupannya. Sebab semakin jauh perjalanan hidupnya bersama Rasulullah , semakin terlihat karakter Abu Dzar sebagai seorang manusia yang tidak mudah diperbudak oleh dunia. Ia bukan sekadar orang miskin yang kebetulan hidup sederhana. Kesederhanaannya merupakan pilihan sikap. Ia melihat harta bukan sebagai tujuan akhir kehidupan, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Rasulullah juga mengajarkan Abu Dzar tentang bentuk kesalehan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu nasihat Nabi yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim berkaitan dengan hubungan dengan tetangga. Ketika memasak makanan berkuah, Rasulullah meminta agar kuahnya diperbanyak dan dibagikan kepada tetangga.

Pesan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang berhubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana ia hidup bersama manusia lain. Kebaikan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia cukup dimulai dari sepanci makanan yang dibagikan kepada tetangga.

Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir

Prinsip semacam itulah yang semakin kuat dalam diri Abu Dzar. Ia sangat memperhatikan kaum miskin dan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Ketika masyarakat Muslim berkembang dan kehidupan ekonomi mulai berubah, Abu Dzar tetap membawa pandangan yang sangat kuat tentang tanggung jawab manusia terhadap harta. Baginya, kemakmuran tidak seharusnya membuat seseorang melupakan mereka yang berada di sekelilingnya. Karena itu, namanya kemudian sangat lekat dengan kezuhudan dan kritik terhadap kecenderungan manusia menumpuk kekayaan.

Pada titik inilah kisah Abu Dzar menjadi relevan untuk dibaca kembali pada zaman sekarang. Ia hidup pada masa yang sangat berbeda dengan kita, tetapi pertanyaan yang dihadapinya sebenarnya masih sama,  berapa banyak yang sebenarnya kita perlukan? Kapan seseorang bisa mengatakan bahwa apa yang dimilikinya sudah cukup? Dan yang paling penting, apakah harta yang kita kumpulkan membuat kita semakin peduli kepada orang lain atau justru membuat kita semakin sibuk memikirkan diri sendiri?

Abu Dzar memberikan jawaban melalui kehidupannya sendiri. Ia tidak menjadikan kesederhanaan sebagai slogan. Ia menjalaninya. Ia tidak mengejar kemewahan sebagai ukuran keberhasilan. Ia juga tidak menjadikan banyaknya harta sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Dalam dirinya, kita melihat seorang sahabat yang berusaha menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pembuka Jalan ke Madinah

 

Rekomendasi untuk Anda