Teheran, MINA – Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz akibat eskalasi geopolitik di kawasan Teluk kini memicu kekhawatiran serius akan terjadinya krisis pupuk global yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dunia.
Sebagai jalur nadi bagi sepertiga pengiriman gas alam cair (LNG) dunia, kemacetan di selat ini tidak hanya mengganggu sektor energi, tetapi juga memutus rantai pasok bahan baku utama pembuatan pupuk nitrogen, seperti amonia.
Situasi ini menempatkan sektor pertanian global dalam risiko besar, mengingat ketergantungan banyak negara terhadap input nutrisi tanaman yang berasal dari kawasan tersebut. Al-Jazeera melaporkan, Selasa (31/3).
Dampak dari tersendatnya jalur Hormuz ini diprediksi akan memicu lonjakan harga pupuk di pasar internasional hingga ke tingkat yang tidak terjangkau oleh petani kecil.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Kelangkaan bahan baku energi yang merupakan komponen biaya produksi terbesar dalam industri pupuk akan memaksa pabrik-pabrik di berbagai belahan dunia mengurangi kapasitas produksinya atau bahkan berhenti beroperasi.
Jika kondisi ini bertahan dalam jangka panjang, produktivitas lahan pertanian global akan merosot drastis, yang pada gilirannya akan memicu inflasi harga pangan di tingkat konsumen secara masif.
Indonesia, sebagai salah satu negara agraris yang masih bergantung pada impor sejumlah bahan baku pupuk, perlu meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap dinamika di Timur Tengah ini.
Kenaikan biaya produksi tani akibat mahal dan langkanya pupuk berpotensi menekan kesejahteraan petani domestik serta mengancam target swasembada pangan nasional.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Selain faktor energi, Selat Hormuz juga merupakan jalur logistik krusial bagi perdagangan komoditas pertanian lainnya. Gangguan di wilayah ini menciptakan efek domino pada biaya logistik global yang semakin membengkak karena kapal-kapal kargo harus mengambil rute lebih jauh dengan risiko keamanan yang lebih tinggi.
Kondisi ini memperparah kerentanan pangan di negara-negara miskin dan berkembang yang sangat bergantung pada impor pangan dan sarana produksi pertanian dari luar negeri.
Komunitas internasional kini mendesak adanya de-eskalasi segera di kawasan Teluk agar jalur perdagangan global tetap terbuka bagi kepentingan kemanusiaan.
Kegagalan dalam meredam konflik di Selat Hormuz bukan hanya akan memicu krisis energi, tetapi juga ancaman kelaparan massal akibat lumpuhnya sistem pangan dunia. []
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic