Kolombo, MINA – Pemerintah Sri Lanka menolak permintaan Amerika Serikat untuk mendaratkan dua jet tempur di wilayahnya, sebagai bentuk penegasan sikap netral di tengah meningkatnya konflik antara AS dan Iran.
Keputusan tersebut disampaikan langsung Presiden Anura Kumara Dissanayake dalam sidang parlemen, yang menegaskan negaranya tidak ingin terlibat dalam konflik geopolitik yang memanas. Anadolu melaporkan, Sabtu (21/3).
Menurut keterangan resmi, permintaan dari Washington diajukan pada 26 Februari lalu, yakni beberapa hari sebelum pecahnya serangan militer terhadap Iran. AS meminta izin agar dua pesawat tempur yang dilengkapi persenjataan, termasuk rudal anti-kapal, dapat mendarat di Bandara Internasional Mattala.
Presiden Dissanayake mengungkapkan, pada hari yang sama Sri Lanka juga menerima permintaan dari Iran untuk kunjungan tiga kapal angkatan laut.
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
Pemerintah kemudian memutuskan menolak kedua permintaan tersebut secara bersamaan agar tidak dianggap memihak salah satu pihak di tengah eskalasi konflik internasional yang semakin meningkat.
Sikap netral Sri Lanka semakin mendapat sorotan setelah insiden penenggelaman kapal perang Iran, IRIS Dena, oleh kapal selam Angkatan Laut AS di dekat perairannya pada awal Maret.
Serangan tersebut menewaskan puluhan awak kapal dan memicu ketegangan baru di kawasan Samudra Hindia, sekaligus menyeret Sri Lanka ke dalam dampak konflik secara tidak langsung.
Di sisi lain, Sri Lanka tetap menjalankan prinsip kemanusiaan dengan mengevakuasi dan menampung ratusan awak kapal Iran lainnya yang mengalami gangguan teknis setelah insiden tersebut.
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
Pemerintah menegaskan langkah itu dilakukan sesuai hukum internasional, sekaligus menunjukkan upaya menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dengan kedua pihak yang sama-sama menjadi mitra penting negara tersebut.
Konflik Iran-AS yang terus meluas juga berdampak pada kondisi ekonomi Sri Lanka, terutama terkait pasokan energi dan stabilitas perdagangan.
Bahkan, pemerintah setempat sempat menerapkan kebijakan penghematan bahan bakar, termasuk pengurangan hari kerja, sebagai respons terhadap potensi krisis energi global akibat perang tersebut. []
Baca Juga: Yair Golan Kritik Netanyahu Usai Trump Umumkan Penghentian Bantuan AS untuk Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic