Thufeil Bin ‘Amr Ad Dausi, Tokoh Sahabat yang Cerdas

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Ia lahir di bumi Daus. Dari keluarga yang mulia dan terhormat. la dikaruniai bakat sebagai penyair handal. Tak heran, nama dan kemahirannya termasyhur di kalangan suku-suku. Di musim ramainya pekan ‘Ukadh; tempat berkumpul dan berhimpunnya manusia, untuk mendengar dan menyaksikan penyair-penyair Arab yang datang berkunjung dari seluruh pelosok demi menonjolkan dan membanggakan penyair masing-masing, maka Thufeil mengambil kedudukannya di barisan terkemuka. Bahkan, walau bukan pada musim ‘Ukadh, ia sering pula pergi ke Mekkah.

Suatu hari, saat ia berkunjung ke kota suci itu – di waktu yang sama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mulai mendakwahkan Islam. Orang-orang Quraisy begitu takut jika Thufeil bertemu Rasulullah lalu masuk Islam. jika Thufeil masuk Islam, bisa ditebak, ia akan menggunakan bakatnya sebagai penyair membela Islam, hingga merupakan bencana besar bagi Quraisy dan berhala­-berhala mereka.

Maka kafir-kafir Quraisy itu selalu berusaha untuk menelingkunginya dan menyediakan segala kesenangan dan kemewahan untuk melayani dan menerima kedatangan Thufeil sebagai tamu. Bukan santunan, bahkan kaum Quraisy itu menakut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.  “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir, hingga dapat mencerai­beraikan anak dari bapak dan seseorang dari saudaranya, serta seorang suami dari istrinya. Dan sesungguhnya kami ini cemas terhadap dirimu dan kaummu dari kejahatannya, maka janganlah ia diajak bicara, dan jangan dengarkan apa katanya,” kata salah satu kaum kafir Quraisy kepadanya.

Apa kata Thufeil tentang kafir Quraisy itu? Thufeil menceritakan sendiri kisahnya. Katanya, “Demi Allah, mereka selalu membuntutiku, hingga aku hampir saja membatalkan maksudku untuk menemui dan mendengar ucapannya (Muhammad SAW). Dan ketika aku pergi ke Ka’bah, kututup telingaku dengan kapas, agar bila ia berkata, aku tidak mendengar perkataannya. Kiranya ia kudapati sedang shalat dekat Ka’bah, maka aku berdiri di dekatnya, taqdir Allah menghendaki agar aku mendengarkan sebahagian apa yang dibacanya, dan terdengarlah olehku perkataan yang baik.”

Lalu kataku kepada diriku, “Wahai malangnya ibuku kehilangan daku! Demi Allah, aku ini seorang yang pandai dan jadi penyair, dan mampu membedakan mana yang baik dari yang buruk! Maka apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu? Jika yang dikemukakannya itu barang baik, dapatlah kuterima, dan seandainya jelek, dapat pula kutinggalkan. Kutunggu sampai ia berpaling hendak pulang ke rumahnya, lalu kuikuti hingga ia masuk rumah, maka kuiringkan dari belakang dan kukatakan kepadanya, “Wahai Muhammad! Kaummu telah menceritakan padaku bermacam-macam, tentang dirimu!

Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku terhadap urusanmu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu. Tetapi iradat Allah menghendaki agar aku mendengarnya, dan terdengarlah olehku ucapan yang baik, maka kemukakanlah padaku apa yang menjadi urusanmu itu!”

Rasul pun mengemukakan padaku terperinci tentang Agama Islam dan dibacakannya al-Quran. Sungguh! Demi Allah, tak pernah kudengar satu ucapan pun yang lebih baik dari itu, atau suatu urusan yang lebih benar dari itu!

Maka masuklah aku ke dalam Islam, dan kuucapkan syahadat yang haq, lalu kataku, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini seorang yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, serta akan menyeru mereka kepada Islam. Maka doakanlah kepada Allah agar aku diberi-Nya suatu tanda yang akan menjadi pembantu bagiku mengenai soal yang kuserukan pada mereka itu. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Allah! Jadikanlah baginya suatu tanda.”

Demi telinganya mendengar sebagian ayat-ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah atas kalbu hamba­Nya, maka seluruh pendengaran dan seluruh hatinya terbuka selebar-lebarnya, dan diulurkannya tangannya untuk bai’at kepada Rasulnya.

Tidak hanya sampai di sana, tetapi dengan secepatnya dibebaninya dirinya dengan tanggung jawab menyeru kaum dan keluarganya kepada agama yang haq dan jalan yang lurus ini.

Saat dakwah itu dimulai

Baru saja ia sampai di rumah dan kampung halamannya Daus, dikemukakannyalah kepada bapaknya aqidah dan keinginan yang terkandung dalam hatinya, dan diserunya ia kepada Islam, yakni setelah menceritakan perihal Rasul yang menyebarkan agama itu, tentang kebesaran, kesucian, amanah dan ketulusan serta ketaatannya kepada Allah Rabbul­’alamin.

Pada waktu itu juga bapaknya masuk Islam. Lalu ia beralih kepada ibunya, yang juga menganut Islam. Kemudian kepada istrinya yang mengambil tindakan yang serupa. Tatkala hatinya menjadi tenteram karena Islam telah meliputi rumahnya, ia pun berpindah tempat kepada kaum keluarga, bahkan kepada seluruh penduduk Daus. Tetapi tak seorang pun di antara .mereka yang memenuhi seruannya memeluk Islam, kecuali Abu Hurairah r.a.

Kaumnya itu menghinakan dan memencilkannya, hingga akhirnya hilanglah keshabarannya terhadap mereka. Maka dinaikinya kendaraannya menempuh padang pasir dan kembali kepada Rasulullah saw. mengadukan halnya dan membekali diri dengan ajaran-ajarannya.

Tatkala tiba di Mekkah, segeralah ia ke rumah Rasul, dibawa oleh hatinya yang rindu. Katanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah,  saya kewalahan menghadapi riba dan perzinahan yang merajalela di desa Daus.  Maka mohonkanlah kepada Allah agar Ia menghancurkan Daus!”

Namun, alangkah terpesonanya Thufeil ketika dilihatnya Rasulullah mengangkatkan kedua tangannya ke langit serta katanya, “Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan datangkanlah mereka ke sini dengan memeluk Islam!” Lalu sambil berpaling kepada Thufeil, katanya, “Kembalilah kamu kepada kaummu, serulah mereka dan bersikap lunak-lembutlah kepada mereka.”

Peristiwa yang disaksikannya ini memenuhi jiwa Thufeil dengan keharuan dan mengisi ruhnya dengan kepuasan, lalu dipujinya Allah setinggi-tingginya, yang telah menjadikan Rasul, insan pengasih ini sebagai guru dan pembimbingnya, dan menjadikan Islam sebagai agama dan tempat berlindungnya.

Maka bangkitlah ia pergi kembali ke kampung halaman dan kaumnya. Di sana, ia terus mengajak mereka kepada Islam secara lunak lembut sebagai dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dakwah itupun berbuah

Selama proses dakwah itu dan tenggang waktu yang dilaluinya di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah hijrah ke Madinah, dan telah terjadi perang Badar, Uhud dan Khandak. Tiba-tiba ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di Khaibar, yakni setelah kota itu diserahkan Allah ke tangan Muslimin, satu rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka lalu duduk di hadapannya mengangkat bai’at secara bergantian.

Tatkala selesai peristiwa mereka yang bersejarah dan upacara bai’at yang diberkahi itu, Thufeil pergi duduk seorang diri, merenungkan kembali kenangan-kenangan lamanya dan mengira-ngirakan langkah yang akan diambilnya untuk masa mendatang.

Maka teringatlah ia saat kedatangannya kepada Rasulullah memohon agar ia menadahkan tangannya ke langit untuk mengucapkan doa “Ya Allah, hancurkanlah orang-orang Daus, tetapi ternyata Rasulullah menyampaikan permohonan lain yang menggugah keharuannya dengan ucapan sebagai berikut, “Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan bawalah mereka ke sini setelah menganut Islam!”

Sungguh, Allah telah menunjuki orang-orang Daus dan Ia telah mendatangkan mereka sebagai Kaum Muslimin! Mereka terdiri dari 80 kepala keluarga beserta penghuni rumahnya dan merupakan bagian terbesar dari penduduk, serta mengambil kedudukan mereka di barisan suci di belakang Rasulullah al Amin.

Thufeil melanjutkan usahanya bersama jama’ah yang telah beriman itu. Tatkala tiba saat pembebasan Mekkah ia ikut rombongan yang memasukinya, yang jumlahnya sepuluh ribu orang. Sekali-kali tidak merasa bangga atau besar kepala, hanya sama-sama menundukkan kening karena hormat dan takzim, mensyukuri nikmat Allah yang telah membalas usaha mereka dengan kemenangan nyata, dan pembebasan Mekah yang tak menunggu waktu lama.

Thufeil melihat Rasulullah menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah dan membersihkan dengan kotoran dan najis yang telah lama berkarat. Putera Daus itu teringat akan sebuah berhala milik Amr bin Himamah. Amr ini sering membawanya memuji berhala itu sewaktu ia menginap di rumahnya sebagai tamunya, hingga ia berlutut di hadapannya dan merendahkan diri dan memohon kepadanya.

Datanglah sudah saatnya bagi Thufeil sekarang ini untuk menghapus dan melebur dosa-dosanya di hari itu. Ketika itu pergilah ia kepada Rasulullah meminta izin untuk pergi membakar berhala milik Amr bin Humamah tadi, yang biasa disebut “Dzal kaffain”, atau “si Telapak tangan dua”.

Rasulullah memberinya izin, maka pergilah ia ke tempat berhala itu lalu membakarnya dengan api yang bernyala; setiap api itu surut, dinyalakannya kembali, dan sementara itu mulutnya asyik berpantun:

“Hai Dzal kaffain, aku ini bukan hambamu, Kami lebih dulu lahir daripadamu!

Nah, terimalah api ini untuk pengisi perutmu!

Demikianlah Thufeil melanjutkan hidupnya bersama Nabi, shalat di belakangnya dan belajar kepadanya serta berperang dalam rombongannya. Ketika Rasulullah naik ke Rafiqul Ala, Thufeil berpendapat bahwa dengan wafatnya Rasulullah itu, tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim belumlah berhenti, bahkan boleh dikata baru saja mulai.

Berperang dan syahid

Ketika pertempuran melawan orang-orang murtad berkobar, Thufeil menyingsingkan lengan bajunya, lalu terjun mengalami pahit getirnya dengan semangat dan kegairahan dari seorang yang rindu menemui syahid. la ikut dalam Perang Riddah itu, pertempuran demi pertempuran.

Pada pertempuran Yamamah, ia berangkat bersama kaum Muslimin dengan membawa puteranya ‘Amr bin Thufeil. Baru saja perang mulai, telah dipesankannya kepada puteranya itu agar berperang mati-matian menghadapi tentara Musailamah si pembohong itu, bahkan walau akan mati syahid sekalipun. Dibisikkannya pula kepada puteranya itu bahwa menurut firasatnya, dalam pertempuran kali ini ia akan menemui ajalnya.

Setelah itu disiapkannya pedangnya dan diterjuninya pertempuran dengan semangat berkorban dan berani mati. Bukan hanya membela nyawanya dengan mata pedangnya, tetapi pedangnya pun dibelanya dengan nyawanya.

Ketika ia wafat dan tubuhnya rubuh, pedangnya masih teracung dan siap sedia, untuk ditebaskan oleh tangannya yang sebelah yang tidak mengalami cedera sedikitpun.

Maka dalam pertempuran itu syahidlah Thufeil ad-Dausi r.a. memenuhi panggilan Kekasihnya, Allah SWT. Jasadnya pun rubuh akibat tusukan senjata, sementara sinar matanya seakan hendak memberi isyarat kepada puteranya yang tak kunjung dilihatnya dekat arena. Sebuah isyarat, agar ia waspada dan tidak menyusul dan mengikuti langkahnya.

Namun, rupanya puteranya itu tak hendak ketinggalan, lalu menyusul ayahandanya pula, memang tidak pada waktu itu, hanya beberapa lama setelahnya. Di pertempuran di Syria, ketika Amr bin Thufeil turut mengambil bagian sebagai pejuang, di sanalah ia menemui apa yang dicita-citakannya, yakni mati syahid.

Selamat jalan wahai sahabat mulia, Thufeil ad Dausi, ruhmu senantiasa menginspirasi Kaum Muslimin hingga akhir zaman.(A/RS3/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)