RAMADHAN 1445 H. / Maret 2024 M. datang bersama dentuman bom yang mengguncang langit Gaza.
Thufanul Aqsa baru saja terjadi, sejak Oktober 2023. Dunia terkejut, Palestina berdarah.
Di bulan suci Ramadhan itu, rakyat Gaza berpuasa bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi berpuasa dari rasa aman, rumah dan keluarga tercinta.
Namun, umat Islam di Jalur Gaza tetap melaksanakan shalat tarawih berjama’ah, walaupun harus shalat di antara reruntuhan Masjid Al-Farouq, Rafah.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Jamaah shalat tarawih justru terlihat khusyu shalat berjama’ah di tengah puing-puing tanpa penerangan yang memadai dan dengan peralatan seadanya.
Masjid Al Farouq merupakan salah satu dari beberapa lokasi penting di Jalur Gaza yang menjadi sasaran gempuran pasukan pendudukan Zionis. Kehancuran masjid ini tidak menghentikan tekad para warga Muslim di Gaza untuk tetap menggunakannya sebagai tempat beribadah utama, termasuk untuk shalat Jumat dan tarawih.
Ramadhan kedua pun tiba, tahun 1446 H. bertepatan dengan Maret 2025 M. Luka belum sembuh. Reruntuhan masih menjadi sajadah. Masjid-masjid hancur, namun shalat tidak pernah runtuh. Takbir tetap menggema dari warga Gaza.
Gaza telah mengajarkan kita bahwa sabar bukan pasrah, melainkan bertahan sambil terus berharap pada pertolongan Allah.
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
Begitulah, kehadiran bulan suci Ramadhan selalu disambut suka cita dan kebahagiaan, oleh warga Palestina di Jalur Gaza. Walaupun harus dijalaninya di tengah reruntuhan bangunan.
Masyarakat Gaza tetap semangat menyambut bulan suci Ramadhan dengan gembira meskipun sebagian besar dari mereka telah kehilangan keluarga, rumah dan pekerjaan. Mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa masjid-masjid di daerah mereka telah hancur tak bersisa.
Kendati demikian, masyarakat Gaza tetap khusyuk menjalani puasa dan ibadah sunnah lain di bulan Ramadhan. Ramadhan tahun 1446 H. / Maret 2025 M, Gaza berada di kondisi gencatan senjata. Tak ada suara bom dan tembakan. Walaupun kemudian gencatan senjata itu lagi-lagi dilanggar oleh pendudukan. Dan blokade tetap masih diberlakukan oleh pendudukan.
Esraa Abo Qamar, salah satu tokoh di Gaza, menceritakan suasana Ramadhan tahun 1446, banyak warga yang berbuka puasa hanya dengan sekaleng hummus atau kacang-kacangan yang dibagi untuk enam orang. Tanpa listrik, makan di tengah kegelapan.
Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza
“Kami hampir tidak bisa melihat wajah satu sama lain di seberang meja,” kata Esraa.
Esraa dan keluarga besarnya juga tidak dapat berkumpul dengan sempurna karena mereka berada di lokasi yang terpencar untuk berlindung dari serangan.
Suasana tetap masih mencekam. Kaum perempuan Palestina yang tinggal di Gaza berharap bisa mendengar suara adzan Maghrib saat berbuka puasa. Warga juga berharap bisa menjalani shalat Subuh berjamaah sebelum menjalani puasa.
Sayangnya hal ini tidak bisa dilakukan lagi karena sebagian besar masjid telah hancur. Bahkan orang yang ingin mengumandangkan adzan, takut akan menjadi target sasaran.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Masjid Agung Umari, yang menjadi salah satu masjid terindah dan bersejarah di Gaza telah hancur, dibom hingga menjadi puing-puing, hancur tak dapat dikenali lagi.
Tempat yang dulu bergema dengan doa dan kedamaian kini berubah menjadi debu dan puing-puing.
Tahun 2026 ini, Ramadhan 1447 akan menjadi Ramadhan ketiga bagi warga Gaza, di tengah genosida yang belum berhenti, mengiringi 71.441 orang yang gugur sebagai syuhada, bersama dengan 171.329 warga lainnya yang luka-luka. Sementara ratusan ribu warga lainnya harus tinggal di kamp-kamp pengungsian yang rawan banjir pada musim dingin saat ini
Anak-anak yang dua kali Ramadhan lalu berpuasa, kini telah menjadi syuhada. Para ibu yang sebelumnya bersama-sama shalat Tarawih walaupun di tengah rerutuhan, kini telah kembali kepada Tuhan-nya.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Namun Gaza tetap berdiri, dengan iman yang tak pernah runtuh. Di tengah kehancuran infrastrukur itu, warga Gaza mempraktikkan hakikat puasa yang sejati.
Bagi warga Gaza, berpuasa benar-benar telah menjadi perisai dari keputusasaan, perisai dari tunduk pada kezaliman, dan perisai dari hilangnya iman.
Di saat sebagian umat Muslim berbuka puasa Ramadhan dengan berbagai menu, warga Gaza tetap bersyukur walau hanya dengan seteguk air.
Karena itu, Ramadhan di Gaza bukan sekadar ibadah individual, tetapi kesaksian sejarah. Bahwa iman tidak pernah bisa dibom. Bahwa Al-Qur’an tidak pernah bisa dibungkam.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Menjadi pelajaran berharga bagi kita umat Islam di seluruh dunia. Jika tiga kali Ramadhan Gaza mampu bertahan, lalu mengapa kita masih abai terhadap mereka? Sebab Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang keberpihakan, tentang kepedulian yang nyata, tentang menyuarakan kebenaran.
Semoga Ramadhan tahun ini, Ramadhan ketiga bagi warga Gaza, menjadikan kita bukan sekadar penonton penderitaan Gaza lewat media, tetapi bagian dari barisan yang terus membantu dan membela mereka.
Karena mereka warga di Gaza adalah bagian dari tubuh kaum Muslimin, satu saudara, satu kesatuan yang tak terpisahkan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
















Mina Indonesia
Mina Arabic