Tingkatkan Ekspor Tuna, Indonesia Ajak Pengusaha Jepang Berinvestasi

Jakarta, MINA – Dalam rangka meningkatkan nilai ekspor tuna dan udang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mengajak pengusaha-pengusaha Jepang berinvestasi di Indonesia.

“Komposisi ekspor ke Jepang paling banyak adalah udang dan Tuna. Namun, sebanyak 30 persen ekspor tuna larinya ke Amerika Serikat sedangkan Jepang hanya menerima 16, 9 persen saja,” ungkap Nilanto Prabowo, Sekretaris Jenderal KKP dalam acara Japan-Indonesia Investment Forum di Jakarta, Selasa (29/1).

Acara tersebut merupakan pertemuan antara pelaku usaha Indonesia dan dari Jepang yang berjumlah 13 tergabung dalam Japan Eksternal Trade Organization (JETRO).

Mereka mempresentasikan profil, visi dan misi perusahaan masing-masing di depan jajaran pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan serta perwakilan duta besar Jepang.

Sementara itu, ekspor udang juga masih didominasi oleh Amerika Serikat dengan 60 persen sedangkan Jepang hanya 19,22 persen.

Oleh karena itu, Nilanto berharap dalam pertemuan tersebut akan tercipta kesepakatan antara pemerintah atau pengusaha Indonesia dan Jepang.

Dalam kesempatan tersebut Nilanto juga mengatakan, kinerja ekspor udang dan tuna Indonesia terus meningkat dari waktu-waktu sejak empat tahun terakhir.

“Ini menunjukkan reformasi kebijakan KKP mengalami keberhasilan, per tahun rata-rata nilai ekspor tumbuh 1, 03 persen,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, salah satu kebijakan yang berhasil adalah penangkapan kapal-kapal pencuri ikan di perairan Indonesia.

Kebijakan tersebut membuat perkembangbiakan ikan-ikan berjalan dengan baik, sehingga hasil melaut nelayan Indonesia semakin meningkat.

Dengan pertimbangan tersebut, dapat meyakinkan para pelaku usaha untuk berinvestasi dan pemerintah Jepang mau mengubah kebijakan tarif ekspor agar lebih berkompeten.

Sementara itu, Ketua JETRO Keishi Suzuki menyambut baik hubungan Jepang-indonesia yang sudah berjalan selama 60 tahun.

Ia berharap kepada pemerintah dan pelaku usaha Indonesia untuk lebih memperhatikan kebutuhan dan kebijakan negara tujuan ekspor.

“Proses penangkapan, pembungkusan, pengolahan serta pengiriman adalah hal perlu diperhatikan dalam dunia ekspor,” kata Suzuki.

Namun, Nilanto mengakui, masih terdapat beberapa kendala di lapangan seperti mahalnya biaya listrik dan logistik serta terkendala oleh lemahnya sistem dilapangan.

Oleh sebab itu, beberapa hari kedepan ke-13 pengusaha asal Jepang tersebut akan berkunjung dibeberapa tempat pengolahan udang dan tuna untuk mengetahui langsung proses serta berharap bisa memberikan masukan atau saran. (L/Sjd/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)