TIDAK ada warisan yang lebih berharga daripada tauhid. Rumah boleh hancur, harta boleh habis, tetapi jika tauhid tetap terjaga maka seorang anak masih memiliki bekal terbesar menuju keselamatan. Karena itulah para nabi memulai dakwah mereka dengan tauhid. Mereka mengajarkan manusia agar mengenal Allah sebelum mengenal yang lainnya.
Allah mengabadikan nasihat Luqman kepada putranya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.”
(QS. Luqman: 13)
Perhatikan bahwa nasihat pertama bukan tentang pekerjaan, kekayaan, atau kedudukan. Nasihat pertama adalah tauhid. Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang penuh dengan “sesembahan baru”. Ada yang menjadikan popularitas sebagai tujuan hidup. Ada yang menjadikan uang sebagai ukuran kebahagiaan. Ada yang rela mengorbankan agama demi pengakuan manusia.
Karena itu, tauhid harus ditanamkan sejak dini. Kenalkan anak kepada Allah dalam setiap kesempatan. Saat melihat langit, ajarkan bahwa Allah yang menciptakannya. Saat mendapat nikmat, ajarkan bahwa semua berasal dari Allah. Saat menghadapi kesulitan, ajarkan untuk meminta pertolongan kepada Allah.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Siapa yang menelantarkan pendidikan anaknya, maka sungguh ia telah berbuat kejahatan yang besar kepada anak tersebut.”
Dan bentuk pendidikan terbesar adalah menanamkan tauhid. Sebab tauhid adalah akar seluruh kebaikan. Jika akarnya kuat, maka cabang-cabang amal akan tumbuh dengan baik.
Bayangkan seorang ayah yang setiap hari bekerja keras demi masa depan anaknya. Pagi berangkat sebelum matahari tinggi, pulang ketika senja mulai menghilang. Ia menabung, membangun rumah, membeli tanah, dan berusaha menyediakan segala kebutuhan keluarga. Namun ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: jika suatu hari ayah itu dipanggil Allah, apakah anak-anaknya sudah mengenal Rabb yang akan mereka temui kelak?
Betapa banyak orang tua yang berhasil mewariskan kekayaan, tetapi gagal mewariskan keyakinan. Harta memang dapat mengantarkan anak pada kenyamanan hidup, tetapi tidak selalu mengantarkan mereka kepada ketenangan jiwa. Bahkan tidak sedikit anak yang tumbuh dalam kemewahan namun kehilangan arah karena tidak mengenal tujuan penciptaannya. Tauhidlah yang membuat seseorang memahami dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Karena itu, tugas terbesar seorang ayah bukan hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga menjadi penunjuk jalan menuju Allah. Tangan yang bekerja mencari rezeki harus berjalan beriringan dengan lisan yang mengajarkan kalimat tauhid. Sebab kebutuhan ruh jauh lebih besar daripada kebutuhan jasad. Jasad yang lapar mungkin menangis beberapa jam, tetapi hati yang kosong dari tauhid dapat tersesat sepanjang hidup.
Lihatlah bagaimana Al-Qur’an menggambarkan Luqman ketika berbicara kepada putranya. Tidak ada bentakan, tidak ada ancaman, tidak ada kemarahan. Yang ada adalah panggilan penuh kasih, “Yaa bunayya…” (Wahai anakku yang tercinta). Seakan Allah ingin mengajarkan kepada para ayah bahwa tauhid paling mudah masuk ke dalam hati anak ketika disampaikan dengan cinta dan kelembutan.
Di tengah derasnya arus zaman, anak-anak kita sedang dibombardir oleh berbagai pemikiran dan pengaruh. Setiap hari mereka melihat orang terkenal dipuja, kekayaan dipamerkan, dan kesuksesan dunia dijadikan ukuran kemuliaan. Perlahan-lahan mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kebahagiaan ada pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pengakuan manusia. Padahal semua itu hanyalah bayangan yang bisa hilang dalam sekejap.
Maka sejak kecil, tanamkan dalam hati mereka bahwa Allah adalah tujuan tertinggi kehidupan. Ketika mereka berhasil meraih sesuatu, ajarkan untuk bersyukur kepada Allah. Ketika mereka gagal, ajarkan untuk bersabar karena Allah. Ketika mereka takut, ajarkan untuk berlindung kepada Allah. Dengan cara itulah hati anak akan terbiasa bergantung kepada Rabb-nya, bukan kepada makhluk.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Allah berfirman, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)
Ayat ini mengajarkan bahwa ciri keimanan yang benar adalah ketergantungan hati kepada Allah. Inilah pelajaran yang sangat dibutuhkan anak-anak di zaman sekarang. Mereka hidup di era yang mengajarkan manusia untuk percaya kepada kemampuan diri sendiri, tetapi sering melupakan ketergantungan kepada Rabb semesta alam. Padahal kekuatan sejati lahir ketika seorang hamba menyadari kelemahannya di hadapan Allah Yang Mahakuasa.
Menanamkan tauhid tidak selalu harus dilakukan dalam majelis yang formal. Kadang pelajaran terbesar justru lahir dari momen-momen sederhana. Saat melihat hujan turun, ayah bisa mengajak anak mengagumi rahmat Allah. Saat memandang langit malam, ayah bisa mengingatkan bahwa Allah menciptakan miliaran bintang tanpa pernah salah mengaturnya. Saat mendengar suara petir, ayah bisa mengajarkan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah yang tidak tertandingi.
Anak-anak yang tumbuh dengan cara seperti ini akan memiliki hubungan yang dekat dengan Rabb mereka. Mereka tidak hanya mengenal Allah melalui teori, tetapi merasakan kehadiran-Nya dalam setiap peristiwa kehidupan. Hati mereka akan terbiasa menghubungkan segala sesuatu dengan Allah. Dan itulah hakikat pendidikan tauhid yang sebenarnya.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Rasulullah ﷺ pernah menanamkan tauhid kepada Abdullah bin Abbas yang saat itu masih sangat muda. Beliau bersabda, “Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikanlah, Rasulullah ﷺ tidak menunggu Ibnu Abbas dewasa. Beliau menanamkan fondasi tauhid sejak usia belia. Sebab hati anak kecil ibarat tanah yang subur. Apa yang ditanam hari ini akan tumbuh dan berbuah di masa depan. Jika yang ditanam adalah tauhid, insya Allah yang tumbuh adalah keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang mulia.
Sebaliknya, ketika pendidikan tauhid diabaikan, anak akan mencari pegangan hidup dari tempat lain. Ia mungkin mencari makna hidup dari popularitas, menjadikan manusia sebagai pusat penilaian, atau menggantungkan kebahagiaannya pada dunia yang fana. Inilah salah satu sebab banyak orang terlihat sukses secara lahiriah, tetapi rapuh secara batiniah. Mereka memiliki segalanya kecuali kedekatan dengan Allah.
Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa mayoritas kerusakan anak bersumber dari kelalaian orang tua dalam mendidik mereka. Kalimat ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi setiap ayah. Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun masa depan dunia anak, tetapi lupa membangun fondasi akhiratnya. Jangan sampai kita bangga karena anak berhasil meraih gelar tinggi, tetapi tidak sedih ketika ia mulai jauh dari Rabb-nya.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Kelak ketika usia semakin senja dan tenaga tidak lagi sekuat dahulu, seorang ayah akan menyadari bahwa semua yang dimilikinya akan ditinggalkan. Rumah akan ditempati orang lain. Harta akan berpindah tangan. Jabatan akan berganti pemilik. Namun anak yang bertauhid akan menjadi investasi akhirat yang terus hidup. Dari lisannya akan keluar doa-doa yang mengalir kepada orang tuanya. Dari amal salehnya akan terpancar pahala yang terus bertambah. Dari keimanannya akan lahir generasi-generasi berikutnya yang tetap menyembah Allah semata.
Maka jangan tunda lagi. Sebelum anak mengenal dunia terlalu jauh, kenalkanlah ia kepada Allah. Sebelum berbagai suara memenuhi pikirannya, penuhilah hatinya dengan kalimat tauhid. Sebelum zaman membentuk cara pandangnya, bentuklah keyakinannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab pada akhirnya, tugas terbesar seorang ayah bukan membuat anak menjadi orang yang hebat di mata manusia, melainkan menjadi hamba yang selamat di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic