Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak Saleh: Tiket Pahala yang Tidak Kedaluwarsa

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 26 Juni 2026 - 05:37 WIB

Jumat, 26 Juni 2026 - 05:37 WIB

32 Views ㅤ

Karena itu, ukuran keberhasilan orang tua sebenarnya bukan hanya seberapa banyak harta yang ditinggalkan, tetapi seberapa banyak nilai kebaikan yang berhasil ditanamkan.(Foto: ig)

BANYAK orang bekerja keras siang dan malam demi menyiapkan masa depan anak-anaknya. Ada yang rela menghabiskan usia untuk membangun rumah, membeli tanah, mengumpulkan tabungan, bahkan meninggalkan berbagai aset berharga.

Namun sering kali ada satu warisan yang justru paling mahal nilainya tetapi kurang mendapat perhatian, yaitu menjadikan anak sebagai anak yang saleh. Padahal rumah bisa roboh, harta bisa habis, usaha bisa bangkrut, tetapi anak saleh adalah investasi yang nilainya terus mengalir bahkan ketika orang tuanya telah lama berada di dalam kubur.

Dalam perspektif Islam, anak saleh bukan sekadar kebanggaan keluarga, melainkan salah satu amal yang pahalanya terus hidup setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Hadis di atas menunjukkan bahwa anak saleh adalah tiket pahala yang tidak memiliki masa kedaluwarsa. Selama ia berdoa, beribadah, berbuat baik, dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya, pahala akan terus mengalir kepada ayah dan ibunya.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Menariknya, temuan ilmiah modern juga menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang kuat pada anak memiliki dampak jangka panjang yang luar biasa. Berbagai penelitian psikologi perkembangan menemukan bahwa anak yang dibesarkan dengan nilai moral, kedekatan emosional, dan keteladanan yang baik cenderung memiliki kehidupan yang lebih stabil, lebih bertanggung jawab, serta lebih mampu memberi manfaat kepada masyarakat.

Dengan kata lain, investasi terbaik bukan hanya pada kecerdasan akademik, melainkan pada pembentukan karakter dan akhlak.

Sayangnya, banyak orang tua lebih khawatir anaknya tidak menjadi dokter daripada tidak menjadi orang jujur. Lebih takut anaknya tidak sukses secara materi daripada tidak mengenal Tuhannya.

Padahal sejarah membuktikan bahwa kepintaran tanpa akhlak sering melahirkan kerusakan, sedangkan akhlak yang baik akan mengarahkan ilmu dan kekuasaan kepada kebaikan. Anak saleh mungkin tidak selalu menjadi orang terkaya, tetapi ia akan menjadi sumber keberkahan yang tidak ternilai bagi keluarganya.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Al-Qur’an mengabadikan doa para hamba pilihan Allah: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami.” (QS. Al-Furqan: 74).

Menarik bahwa yang diminta bukan sekadar keturunan, melainkan keturunan yang menjadi penyejuk mata. Sebab tidak semua anak menjadi penyejuk hati. Ada anak yang membuat orang tua tersenyum ketika hidup, tetapi menangis sepanjang sisa usianya. Sebaliknya, anak saleh menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang tuanya di dunia dan akhirat.

Anak saleh tidak lahir secara kebetulan. Ia lahir dari doa yang panjang, keteladanan yang konsisten, kasih sayang yang tulus, dan pendidikan yang penuh kesabaran. Orang tua yang ingin memiliki anak saleh tidak cukup hanya menyuruh, tetapi harus memberi contoh.

Anak lebih banyak meniru daripada mendengar. Ia melihat bagaimana ayahnya shalat, bagaimana ibunya berbicara, bagaimana keluarganya memperlakukan orang lain. Rumah sesungguhnya adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru yang paling berpengaruh.

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Ada satu kenyataan yang sering terlupakan. Ketika seseorang meninggal dunia, teman-temannya akan pulang. Hartanya akan diwariskan. Jabatan akan digantikan. Namanya perlahan dilupakan. Tetapi doa anak saleh akan terus mengetuk pintu langit.

Di saat tubuh telah menjadi tanah, bisa jadi seorang anak mengangkat kedua tangannya lalu berkata, “Ya Allah, ampunilah ayahku. Ya Allah, sayangilah ibuku.” Dan doa itu menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepada kedua orang tuanya.

Karena itu, ukuran keberhasilan orang tua sebenarnya bukan hanya seberapa banyak harta yang ditinggalkan, tetapi seberapa banyak nilai kebaikan yang berhasil ditanamkan. Sebab pada akhirnya, yang menemani seseorang di alam kubur bukanlah rekening bank, kendaraan, atau gelar yang pernah dimiliki. Yang tetap hidup adalah amal-amal yang terus mengalir.

Maka jika hari ini kita sedang membangun masa depan anak-anak, jangan hanya sibuk menyiapkan bekal dunia mereka. Siapkan juga hati mereka agar mengenal Allah, mencintai kebaikan, menghormati orang tua, dan bermanfaat bagi sesama.

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Sebab anak saleh adalah hadiah terindah yang Allah berikan kepada orang tua. Ia adalah kebanggaan di dunia, penyejuk hati sepanjang usia, dan tiket pahala yang terus berlaku hingga hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Rekomendasi untuk Anda

Artikel
Tausiyah
Khutbah Jumat
MINA Edu
Tausiyah