Tuntunan I’tikaf Sesuai Sunnah, oleh Majelis Dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

I’tikaf berasalah dari kata i’tikafan-ya’takifu-i’tikafan. Menurut bahasa Arab i’tikaf adalah berdiam dan bertaut pada sesuatu, baik sesuatu berupa kebaikan atau keburukan, secara terus menerus. Sedangkan i’tikaf menurut istilah syara’ ialah menetapnya seorang muslim di dalam masjid untuk melaksankan ketaatan dan ibadah kepada Allah Subahanhu Wa Ta’ala.

Syariat i’tikaf disebut dalam firman Allah Ta’ala,

…ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ …

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid”. (QS. Al-Baqarah: 187)

Dalil dari hadits adalah riwayat Ibnu Umar, Anas, dan Aisyah, “Nabi Subahanhu Wa Ta’ala dulu senantiasa beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sejak beliau tiba di Madinah sampai beliau wafat.” (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam lafal Bukhari dan Muslim disebutkan, “Nabi Shallallahu alaihi wa salam dulu beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir pertengahan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir, dan (yang terakhir) inilah yang beliau lakukan terus sampai wafat.” Para istri beliau pun beri’tikaf sepeninggalan beliau. (Nailul Authaar (4/264)).

Az-Zuhri berkata, “Sungguh mengherankan, mengapa orang-orang meninggalkan i’tikaf?! Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dulu kadang melakukan sesuatu dan kadang meninggalkannya, tetapi beliau tidak pernah meninggalkan i’tikaf sampai beliau meninggal!”

I’tikaf merupakan syariat pra-Islam. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf…” (QS. Al-Baqarah: 125)

Tujuan disyariatkannya i’tikaf adalah untuk menjernihkan hati dengan cara ber-muraqabah kepada Allah Ta’ala, memusatkan diri untuk beribadah dalam waktu-waktu luang, dengan berkonsentrasi kepada ibadah tersebut dan kepada Allah, melepaskan diri dari kesibukan-kesibukan duniawi, berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan urusan jiwa ke tangan-Nya, bertumpu kepada karunia-Nya, terus menerus beribadah kepada-Nya di rumah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya agar lebih dekat ke rahmat-Nya.

I’tikaf termasuk amal paling mulia dan paling dicintai oleh Allah jika dilakukan dengan ikhlas. Sebab, orang yang beri’tikaf senantiasa menunggu shalat, dan orang yang menunggu shalat sama dengan orang yang sedang menunaikan sholat; dan ini adalah kondisi yang paling dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ

“Salah seorang di antara kalian dianggap terus menerus di dalam sholat selama ia menunggu sholat di mana sholat tersebut menahan nya untuk pulang, tidak ada yang menahanya untuk pulang ke keluarganya kecuali sholat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’” (HR. Muslim)

Terlebih i’tikaf yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan mendorong pelakunya semakin dekat kepada Allah berkat kesucian hati dan kejernihan jiwa yang dikaruniakan-Nya disebabkan dia sedang berpuasa.

Hukum i’tikaf ada dua macam,

  1. i’tikaf wajib, adalah i’tikaf yang wajib di lakukan oleh seseorang karena terealisasinya nazar yang diniatkan.
  2. i’tikaf sunnah ialah i’tikaf yang dilaksanakan oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, mencari pahala dan meneladani Rasulullah Shallallahi alaihi wa salam.

Sebagaiman i’tikaf sepuluh hari di bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah setiap bulan Ramadhan sampai ia wafat.

Syarat i’tikaf adalah,

  1. Muslim, i’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir sebab i’tikaf adalah cabang dari iman.
  2. Berakal atau tamyiz, i’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang gila dan sejenisnya, juga tidak sah dilakukan oleh bocah yang belum mumayiz.
  3. Bertempat di masjid.
  4. Niat, sebagaimana disepakati seluruh ulama. Sebagaimana hadis, “semua amal bergantung kepada niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang dia niatkan”.
  5. Suci dari janabat, haid dan nifas.
  6. Puasa
  7. Ijin suami bagi istrinya.

Adapun rukun i’tikaf adalah adanya niat dari mu’takif serta bertempat di masjid.

I’tikaf dapat dimulai setelah matahari terbenam pada sepuluh malam terakhir (malam 21 bulan Ramadhan) berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang hendak i’tikaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir.”

Atau pagi hari (ba’da shubuh) tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Syaihani, “Adalah Nabi bila hendak i’tikaf, beliau shalat shubuh dulu, kemudia masuk ketempat i’tikaf, sehingga mereka berpendapat bahwa permulaan waktu i’tikaf adalah permulaan siang.”

Adapun berakhirnya i’tikaf adalah setelah terbenamnya matahari, tanggal terkahir bulan Ramadhan.

Hal-hal yang disunahkan bagi orang yang beri’tikaf antara lain:

  1. Memperbanyak ibadah sunnat,
  2. Menyibukan diri dengan shalat berjama’ah lima waktu,
  3. Shalat-shalat sunnah,
  4. Membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, dzikir, istighfar, berdo’a, membaca shalawat, dan ibadah-ibadah lain yang dapat mendekatkan diri dengan Allah Ta’ala.

Dimakruhkan sewaktu i’tikaf melakukan hal-hal yang tidak perlu dan tidak bermanfaat, baik berupa perkataan maupun perbuatan seperti bercanda, mengobrol, dan sebagainya.

Orang yang beri’tikaf diperbolehkan keluar dari masjid karena keperluan mendesak, seperti; mandi, buang hajat, makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan, berobat jika sakit, dan boleh pula mengeluarkan kepala keluar masjid untuk dicuci atau disisir.

Hal-hal yang membatalkan i’tikaf antara lain,

  1. Keluar dari masjid dengan sengaja tanpa ada keperluan meskipun sebentar,
  2. Murtad,
  3. Hilang akal baik yang disebabkan gila maupun mabuk,
  4. Haid atau nifas

Selama i’tikaf disunahkan memperbanyak membaca,

اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Suka Memaafkan, maka maafkanlah aku”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Atau doa yang juga sering dibaca oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam ketika malam lailatul qadar adalah:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” (A/NA/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)