Unilever Alami Kerugian karena Boikot Anti-Israel

Seorang pembeli membeli pasta gigi Pepsodent, produk PT Unilever Indonesia, di sebuah supermarket di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 2009 (Foto: Dimas Ardian/Bloomberg via Getty Images)

, MINA- Penjualan pada kuartal keempat di Asia Tenggara telah mengalami penurunan akibat aksi boikot sebagai respons terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah.

Dikutip dari MEMO, Jumat (9/2), produsen sabun Dove, kaldu Knorr, dan es krim Ben & Jerry’s serta beberapa merek Barat yang mengalami kerugian khususnya di negara-negara dengan populasi muslim yang besar, karena sikap mereka yang dianggap pro-Israel.

McDonald’s juga mencatat penurunan penjualan kuartal pertamanya dalam hampir empat tahun, sebagian karena serangan pendudukan Israel terhadap warga di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Perusahaan mengatakan, situasi tersebut sangat mempengaruhi kinerja di beberapa pasar luar negeri.

Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 200 juta penduduk muslim, penjualan Unilever pada kuartal keempat turun dua digit, kata perusahaan tersebut. “Sejak itu, ada beberapa peningkatan dalam penyerapan pelanggan dan konsumen pada bulan Januari,” tambahnya.

CEO Unilever, Hein Schumacher mengatakan perusahaannya mengalami kerugian tidak hanya dari boikot, tetapi juga serangan terhadap kapal-kapal yang mengangkut produk mereka di Laut Merah.

Dewan direksi Unilever Ben & Jerry’s bulan lalu menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza. Merek tersebut mengumumkan pada bulan Juli 2021, mereka akan menghentikan penjualan di Tepi Barat yang diduduki Israel dan sebagian Yerusalem Timur, dengan mengatakan, penjualan es krim di wilayah Palestina yang diduduki “tidak sejalan dengan nilai-nilai kami.” (T/chy/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)