Wawancara Eksklusif Dubes Arief Rachman: Afghanistan Belajar Banyak Hal dari Indonesia

Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Afghanistan Mayjend TNI Arief Rachman.(Foto: Abdullah/MINA)

Tim Wartawan Kantor Berita MINA mengadakan wawancara eksklusif dengan Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Afghanistan Mayjen. TNI (Purn.) Arief Rachman pada Sabtu (25/9) di kediamannya di Jakarta Timur.

Tim MINA terdiri dari Pemimpin Redaksi Ismet Rauf, Redaktur Senior Widi Kusnadi, Kepala Redaksi Bahasa Arab Rifa Berliana Arifin, Kepala Peliputan Rana Setiawan, dan  wartawan Sri Astuti serta juru kamera Abdullah.

Dalam wawancara bertajuk Ambassador Talks tersebut, Dubes Arief menegaskan, salah satu yang dikagumi Afghanistan dari Indonesia adalah kerukunan antarumat beragama dan kerukunan sesama  muslim.

Para pemimpin Afghanistan maupun Taliban telah melihat juga bagaimana pendidikan secara luas dan khususnya bagi kaum perempuan diberi ruang yang setara dengan  kaum pria. Mereka menyatakan, masyarakat Indonesia yang hidup dengan harmoni dan penuh perdamaian dalam berbagai perbedaan, dapat menjadi contoh bagi perdamaian di  Afghanistan.

Dia juga menekankan, peran Indonesia sangat signifikan dalam konteks multitrack diplomacy dengan landasan soft power diplomacy, tidak hanya aktor state saja tetapi ada aktor nonstate, yaitu peran organisasi kemanusiaan, organisasi keagamaan, dan para ulama dalam membantu mewujudkan perdamaian di Afghanistan.

Saat lima tahun lalu ia diminta oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menjadi duta besar di Kabul. Pria yang pernah bertugas di Kamboja dan di Pakistan sebagai Atase Pertahanan ini tak gentar untuk kembali ditugaskan di negara konflik.

Sosok Duta Besar Arief Rachman pun saat ditemui penuh kesan beliau sebagai seorang dai yang telah mendirikan pesantren tahfidz dan Masjid Manunggal Silaturahim di lingkungan tempat tinggalnya di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Konon penamaan Masjid Manunggal Silaturahim itu sendiri terinspirasi dengan Radio Silaturahim mengusung tagline “Untuk Islam yang Satu’’, yang memosisikan diri di jalur dakwah secara terbuka merangkul perbedaan dan mengedepankan persatuan umat.

Berikut kutipan wawancaranya:

MINA: Bagaimana kesan Anda selama menjalankan tugas di Afghanistan?

Dubes Arief: Afghanistan tidak hanya melulu soal bom dan perang serta Taliban. Afghanistan itu cantik. Apalagi Kabul dan beberapa wilayah lainnya. Saya sangat berkesan saat pengalaman awal bertugas di sana bersama keluarga. Saya ajak anak saya untuk berkunjung ke Lembah Bamiyan. Lembah Bamiyan merupakan suatu wilayah yang berjarak sekitar 180 km barat laut ibu kota Afghanistan. Setibanya di lembah Bamiyan, kami tidak mampu menyembunyikan ketakjuban saat menyaksikan pemandangan indah dengan eksotisme  padang yang hijau terhampar.

MINA: Taliban sekarang memerintah Afghanistan. Taliban memiliki hubungan baik dengan Indonesia, bagaimana peluang kerja sama ke depan dengan Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban?

Dubes Arief: Indonesia dan Afghanistan memiliki sejarah yang kuat karena ketika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, dua tahun kemudian, Afghanistan mengakui kedaulatan RI yakni pada 23 September 1947.

Afghanistan yang merdeka pada tanggal 19 Agustus 1919, kemudian kini seolah merdeka kembali setelah diduduki Amerika Serikat (AS) dan sekutunya selama 20 tahun sejak Desember 2001. AS resmi menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan tanggal 31 Agustus 2021.

Melalui kebijakan Presiden Joe Biden yang memandang sudah saatnya memutuskan masa depan Afghanistan sendiri, maka akhir Agustus 2021 itu Afghanistan mulai berbenah  bersama saudara sebangsanya sendiri.

Keberadaan kelompok Taliban yang kini menjadi penguasa Afghanistan, tengah bergelojak dengan warga yang menolak Taliban. Bagaimana pun, kelompok yang bertikai di Afghanistan adalah warga negara Afghanistan sendiri, yang perlu didamaikan melalui berbagai upaya diplomasi.

Salah satu yang dikagumi Afghanistan dari Indonesia adalah kerukunan antarumat beragama ataupun yang sesama muslim.

Para pemimpin  Afghanistan maupun Taliban telah melihat juga bagaimana pendidikan secara luas dan khususnya bagi kaum perempuan diberi ruang yang setara dengan kaum pria di Indonesia. Mereka menyatakan, masyarakat Indonesia yang hidup dengan harmoni dan penuh perdamaian dalam berbagai perbedaan, dapat menjadi contoh bagi perdamaian di Afghanistan.

Keinginan negara Afghanistan untuk belajar dari Indonesia menguat tentang toleransi dan interpretasi peradaban Islam sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat bagi alam semesta.

MINA: Lalu bagaimana dengan peluang kerja sama dalam bidang ekonomi?

Dubes Arief: Peluang kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Afghanistan luar biasa besarnya karena mayoritas penduduk Afghanistan itu hidupnya dari perdagangan. Hal ini tentu meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat dari kedua negara cukup signifikan.

Presiden Joko Widodo dalam arahannya menyampaikan, perdamaian harus diiringi dengan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, peluang kerja sama perdagangan ini harus  dimaksimalkan untuk mencapai kesejartaraan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor Indonesia ke Afghanistan meningkat 361,7 persen dari US$495,28 ribu pada Juli 2021 menjadi US$2,28 juta pada Agustus 2021. Peningkatan realisasi ekspor ini terjadi saat kekuasaan di Afghanistan resmi diambil alih oleh kelompok Taliban sejak pertengahan bulan Agustus lalu.

BPS mencatat kinerja ekspor utamanya merupakan produk industri farmasi, buah-buahan, hingga karet dan barang dari karet. Namun tak ada rincian nilai ekspor dari masing-masing komoditas. Di sisi lain, BPS mencatat neraca dagang Indonesia menorehkan surplus mencapai US$4,74 miliar pada Agustus 2021. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Terkait peningkatan ekspor itu, sebenarnya sudah sejak lama ekspor Indonesia ke Afghanistan sudah besar. Hanya mungkin belum tercatat dalam data resmi.

MINA: Bagaimana pemerintahan Taliban mengembalikan kepercayaan masyarakat, khususnya pada isu-isu yang tengah disoroti dunia?

Dubes Arief: Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban telah beberapa kali datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana negara majemuk ini bisa begitu demokratis. Sebagai negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, ternyata segenap rakyat Indonesia dapat bersatu padu membangun menjadi bangsa yang maju.

Semangat berwirausaha dan belajar orang-orang Afghanistan juga cukup tinggi, bahkan patut dicontoh dengan segala situasi yang menimpanya.

Menanggapi isu kekhawatiran akan pemenuhan hak serta kebebasan perempuan Afghanistan dalam berbagai akses di bawah pemerintahan Taliban, saat ini masih perlu waktu.

Pasti. Bukan ragu-ragu pasti ada perubahan dan untuk noto proses ini perlu waktu, tidak bisa semudah membalik telapak tangan lalu terjadi. Apalagi itu kaitannya dengan syariat dan keyakinan seseorang. Kita tidak bisa memaksakan itu, tidak boleh. Kita juga harus mengerti, jika  memaksakan siapa kita?

Kalau dulu Taliban dipropagandakan sebagai sesuatu yang kejam dan jauh dari wanita, tentunya belum sepenuhnya seperti itu, karena memang dalam keadaan perang kita umat  Islam itu selalu lebih menjaga wanita dan takut jika wanita kita terluka kemudian menjadi korban perang, yang seharusnya tidak boleh apalagi anak-anak. Nah hal itu kemudian dieksploitasi sehingga dunia yang sudah memahami pentingnya peran wanita menjadi kaget akan hal ini, padahal ada keadaan-keadaan yang mengharuskan begitu. Syariat mereka menurut mazhabnya berbeda dengan kita dan ya tadi, disesuaikan dengan keadaan.

Kalau nanti sudah aman, insya Allah. Saya rasa mereka punya anak perempuan yang juga butuh sekolah, mereka ingin pasien perempuan ditangani dokter perempuan, lalu dokter perempuannya dari siapa?

Mengenai aturan-aturan tertentu bagi wanita sendiri tidak hanya terjadi di Afghanistan tetapi juga di Pakistan, Muslim di India demikian juga Saudi.

Indonesia juga dulu seperti itu, tidak ada sekolah perempuan hingga pada akhirnya pelan-pelan orang memahami, berproses jadi tidak menimbulkan fitnah dan isu-isu negatif. Kita harus cerdas dan bisa melihat situasi-situasinya dan siapa yang berbicara. Jangan menambah kesimpangsiuran apalagi tidak mau bertanya, tidak mau  belajar, sehingga kita nanti menjadi penyebar fitnah juga.

Menlu Retno Marsudi dan saya menjadi yang terus menyuarakan pentingnya peran wanita dalam perdamaian di Afghanistan. Sejak 2013 Indonesia dan Afghanistan sendiri sudah ada MoU mengenai pemberdayaan perempuan Afghanistan. Kalau ada yang bilang itu kan pemerintahan sebelumnya bukan Taliban.

MINA: Bagaimana peran Indonesia dalam menjawab tantangan perkembangan situasi di Afghanistan?

Dubes Arief: Kami tekankan peran Indonesia sangat signifikan dalam konteks multitrack diplomacy dengan landasan soft power diplomacy, tidak hanya aktor state saja tetapi ada aktor nonstate, yaitu peran organisasi kemanusiaan, organisasi keagamaan, dan para ulama dalam membantu mewujudkan perdamaian di Afghanistan.

Dengan pendekatan soft power dalam artian pendekatan dari hati ke hati, semoga kerja sama ke depan semakin baik. Kita banyak kesamaan terutama kesamaan agama dan budaya.

Indonesia dapat memberikan sumbangan pada penyelesaian masalah Afghanistan terutama setelah negara itu kembali dikuasai oleh Taliban.

Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia secara aktif terlibat dalam proses bina damai (peace-building) di Afghanistan. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah mengundang perwakilan Taliban dan pemerintah Afghanistan ke Jakarta pada 2019.

Kontribusi lain Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Afghanistan adalah menjadi tuan rumah konferensi trilateral ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan pada 2018.

Konferensi yang diadakan di Istana Kepresidenan Bogor itu menghasilkan “Deklarasi Bogor” yang berisi sejumlah poin penting untuk perdamaian dan solusi konflik di Afghanistan.

Pemerintah Indonesia juga pernah mengundang puluhan anak muda Afghanistan untuk menetap di salah satu pesantren di Jawa Tengah.

Selain itu, pertemuan woman empowering di Afghanistan pada 2018 lalu dengan mendatangkan Menteri Perempuan dari Indonesia sebagai pembicara kunci menambah nilai positif di mata rakyat Afghanistan. Indonesia dinilai istimewa, salah satunya karena berhasil menggelar konferensi perempuan dunia.

Indonesia juga telah membangun Indonesia Islamic Center, yang di dalam kompleks tersebut sudah berdiri Masjid Assalam berkapasitas 2.500 jamaah. Di sektor pendidikan, Indonesia juga menawarkan beasiswa baru untuk pelajar mahasiswa Afghanistan.

Presiden Joko Widodo pernah berkunjung ke Kabul pada Januari 2018.

Ke depan usaha Indonesia untuk membantu menyelesaikan konflik di Afghanistan ialah berupaya menjembatani perdamaian antara Taliban dengan kelompok-kelompok non-Taliban, melalui diplomasi budaya. salah satunya memfasilitasi dialog yang intensif dengan ulama moderat Indonesia.

Selain itu, Indonesia dapat melakukan multitrack diplomacy di Afghanistan melalui lembaga kemanusiaan seperti Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sudah memulai kegiatan-kegiatan kemanusiaan di Afghanistan saat perang dulu (2001-2002), kini bisa berperan lebih aktif pasca perang.(A/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)