Wawancara: Kesultanan Oman Akui Indonesia Simbol Dalam Toleransi

Jakarta, MINA – Indonesia dipilih menjadi kota diperingatinya Hari Toleransi Internasional yang ke-130, Sabtu (16/11). Perayaan tersebut diselenggarakan di Hotel Raffles, Jakarta, yang merupakan puncak dari serangkaian acara pameran Pesan Islam dari Oman di Perpustakaan Nasional tanggal 14-18 /11.

Pameran berisi pertunjukan toleransi beragama, pemahaman antarbudaya, pemahaman antaragama yang mencerminkan penerapan Islam dalam kehidupan pada masyarakat Arab di Oman.

Dalam acara perayaan tersebut kemarin, MINA berkesempatan berbincang dengan Wakil Menteri Komunikasi Kesultanan Oman Sheikh Ali Jabiri membahas beberapa hal seputar Peran Oman dalam mendorong perdamaian dunia.

MINA: Sejauh mana Oman melakukan diplomasi untuk mewujudkan perdamaian dunia?

Ali Al Jabiri: Kesultanan Oman dengan diplomasinya sudah sejak lama mengupayakan terbentuknya kesadaran global akan pentingnya toleransi dan kemanusiaan, keduanya adalah komponen penting dalam terwujudnya perdamaian.

Hari ini kita saksikan bahwa Indonesia mengambil peran dalam mewujudkan perdamaian, Indonesia memiliki sejarah toleransi yang kuat dengan keberagaman agama, suku dan bahasa. Perdamaian global bisa terbentuk dengan keyakinan bahwa setiap masyarakat memiliki kesamaan pandangan dalam melihat kedamaian dan keadilan. Sehingga perdamaian global bisa diusung secara bersama-sama oleh semua elemen bangsa tidak hanya Oman tapi semuanya bisa ikut andil dalam menghentikan kekerasan, penindasan, penjajahan yang kita saksikan saat ini di beberapa belahan dunia.

MINA: Bagaimana Anda melihat krisis kemanusiaan yang saat ini terjadi di Palestina, Suriah, Yaman, Rohingya dst?

Ali Al Jabiri: Kebencian atau rasa benci antaragama, antarbudaya yang sengaja ditebarkan menimbulkan kerusuhan dan krisis kemanusiaan. Rasa kemanusiaan adalah nikmat agung yang diciptakan Allah SWT, meskipun berbeda warna kulit, suku dan bahasa bahkan berbeda dalam karakter, sikap dan tindakan, tapi kemanusiaan tertanam dalam dasar kesadaran setiap manusia. Maka keberagaman ini seharusnya digunakan untuk memperkuat rasa kemanusiaan antar sesama, bukan sebaliknya.

Kebencian muncul karena ajakan-ajakan menyimpang yang masuk dalam masyarakat. Hari ini kita menikmati kemudahan komunikasi dengan adanya media sosial, meski di sisi lain negatifnya media ini digunakan untuk mengumbar ujaran-ujaran kebencian.

Kekerasan kemanusiaan dan Islamphobia telah menyebar ke banyak negara ditambah terjadinya genosida manusia di beberapa wilayah minoritas Islam.

Maka melalui konferensi hari ini, Kesultanan Oman mengajak kepada pentingnya kemanusiaan dan kesadaran akan memahami perbedaan yang merupakan tonggak toleransi.

(W/RA-1/P1)

 

Miraj News Agency (MINA)