Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Energi Uni Eropa

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - 23 detik yang lalu

23 detik yang lalu

0 Views

Bendera Uni Eropa (foto: Ist)

Brussel, MINA – Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada sektor energi global, dengan Uni Eropa dilaporkan mengalami lonjakan biaya impor energi hingga 22 miliar euro atau setara sekitar Rp370 triliun dalam kurun 44 hari terakhir.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyatakan lonjakan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan energi akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kondisi ini menyebabkan harga bahan bakar fosil meningkat tajam dan membebani negara-negara anggota Uni Eropa. Anadolu melaprokan, Selasa (14/4).

Menurut Von der Leyen, gangguan distribusi energi menjadi faktor utama melonjaknya biaya impor tersebut. Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap pasar energi masih akan berlangsung, seiring belum meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Trump Tolak Minta Maaf ke Paus Leo XIV

Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi yang lebih luas di Eropa. Sejumlah pejabat Uni Eropa memperingatkan bahwa ketidakstabilan pasokan energi berpotensi berlangsung dalam jangka menengah, sehingga dapat mengganggu stabilitas ekonomi kawasan secara keseluruhan.

Sebagai langkah antisipasi, Komisi Eropa mengusulkan pelonggaran aturan bantuan negara guna melindungi rumah tangga dan sektor industri yang paling terdampak lonjakan harga energi.

Kebijakan ini diharapkan mampu meredam tekanan ekonomi yang ditimbulkan akibat krisis energi yang sedang berlangsung.

Dampak konflik Timur Tengah tidak hanya dirasakan di Eropa, tetapi juga secara global. Lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi telah mendorong kenaikan harga minyak, gas, hingga pupuk, serta berpotensi memicu krisis pangan dan meningkatnya pengangguran di berbagai negara.

Baca Juga: Respon Ancaman AS atas Selat Hormuz, Haouthi Yaman Akan Tutup Selat Bab el-Mandeb

Sebelumnya, harga gas di Eropa dilaporkan melonjak hingga 70 persen dan harga minyak naik sekitar 60 persen sejak awal konflik, menunjukkan besarnya tekanan terhadap sektor energi global.

Kondisi ini mempertegas bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dunia, terutama bagi negara-negara pengimpor energi. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sepatu Anak-Anak Gaza yang Syahid Dipamerkan di Alun-Alun Amsterdam

Rekomendasi untuk Anda