Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Fakta Penting tentang Masjid Ibrahimi di Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:08 WIB

14 Views ㅤ

Masjid Ibrahimi di Kota Al-Khalil (Hebron), Palestina. (Aawsat)

Hebron, MINA – Di kota tua Al-Khalil (Hebron), terdapat kompleks kuno yang menyimpan lapisan sejarah dan spiritualitas mendalam, Masjid Ibrahimi. Bukan sekadar bangunan, tempat ini adalah simbol perjuangan dan memori kolektif yang tak pernah usai.

Di jantung kota tua Al-Khalil, sekitar 30 kilometer selatan Yerusalem, berdiri sebuah kompleks kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang iman, sejarah, dan konflik. Masjid Ibrahimi, atau yang dikenal dalam tradisi Yahudi sebagai Makam Para Patriark (Tomb of the Patriarchs), adalah salah satu situs paling suci di dunia. Namun, di balik kemuliaannya, tempat ini juga menyimpan luka mendalam yang terus berdarah hingga hari ini.

Berikut adalah 5 fakta penting untuk memahami kompleksitas dan sejarah Masjid Ibrahimi:

  1. Makam Para Nabi

Masjid Ibrahimi diyakini sebagai lokasi pemakaman para nabi. Di kompleks ini, dimakamkan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, Nabi Ishak, dan Nabi Ya’qub.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Bagi umat Islam, Masjid Ibrahimi adalah situs suci keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Ini menjadikannya salah satu tempat paling dihormati di dunia Islam.

  1. Kompleks yang Terbelah

Sejak peristiwa berdarah pada 1994, terjadi perubahan signifikan dalam tata kelola dan akses ke situs ini. Kompleks yang dulunya sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam, kini secara fisik terbagi menjadi dua zona. Zona pertama sebagai masjid wakaf umat Islam, dan zona kedua sinagoge untuk ritual Yahudi.

Hampir setiap tahun, terutama saat hari raya keagamaan, ketegangan memuncak. Umat Islam sering menghadapi pembatasan akses, sementara pemukim Yahudi mendapatkan kemudahan masuk dalam pengawalan tentara Zionis.

  1. Tragedi 1994 Pembantaian di Bulan Suci

Pada tanggal 25 Februari 1994, saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Subuh di dalam masjid, seorang pemukim Yahudi ekstremis bernama Baruch Goldstein memasuki kompleks dan melepaskan tembakan. Ia menembaki jamaah yang sedang sujud dengan senapan serbu.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Korban saat itu, ada 29 jamaah Palestina tewas seketika, dan 125 orang lainnya terluka, sebagian mengalami luka permanen.

  1. Rezim Akses dan Checkpoints

Karena letaknya di Hebron, wilayah yang berada di bawah kendali militer pendudukan Zionis Israel, akses menuju Masjid Ibrahimi sangat dibatasi. Kehidupan di sekitar situs ini diatur oleh sistem checkpoints militer dan jalan-jalan yang ditutup.

Beberapa fakta tentang pembatasan akses, berupa warga Muslim sering kali memerlukan izin khusus untuk masuk, terutama pada hari-hari besar Islam seperti Ramadan dan Idul Fitri.

Bagi warga Palestina, perjalanan menuju masjid yang hanya berjarak beberapa kilometer bisa memakan waktu berjam-jam karena harus melewati pos-pos pemeriksaan. Akses ibadah yang setara menjadi salah satu isu hak asasi manusia yang terus diperjuangkan.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Sebaliknya, pemukim Yahudi mendapatkan akses yang lebih mudah dan sering kali didampingi oleh pasukan Israel.

  1. Status Hukum dan Kontroversi Internasional

Status Masjid Ibrahimi dan kota tua Hebron menjadi sorotan dunia internasional. Pada tahun 2017, UNESCO secara resmi mengakui kota tua Hebron, termasuk Masjid Ibrahimi, sebagai Situs Warisan Dunia yang terancam punah (World Heritage in Danger).

Namun, pengakuan ini tidak serta-merta menghentikan kontroversi. Beberapa poin penting, Zionis Israel secara sepihak memasukkan Masjid Ibrahimi ke dalam daftar warisan nasional Yahudi, sebuah langkah yang dianggap ilegal oleh komunitas internasional.

Upaya Zionis Israel untuk mengubah tata kelola atau status quo historis sering menuai kecaman dari negara-negara Islam dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Resolusi PBB dan berbagai badan internasional lainnya menegaskan bahwa perubahan sepihak terhadap status situs suci adalah batal demi hukum.

Palestina dan dunia Islam terus memperjuangkan agar Masjid Ibrahimi tetap berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam, sebagaimana yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Begitulah, Masjid Ibrahimi bukan sekadar bangunan bersejarah. Masjid Ibrahimi adalah pusat dari konflik yang lebih besar, tentang identitas, sejarah, dan hak kepemilikan atas tanah suci. Memahami situs ini berarti melihat bagaimana teologi, sejarah, dan politik saling bertemu dalam realitas yang sangat kompleks di Palestina.

Masjid Ibrahimi adalah tempat ibadah milik umat Islam yang wajib kita jaga, kita kawal dan kita amankan dari tindakan-tindakan illegal pemukim Yahudi dan tindakan brutal penjajahan Zionis Israel. []

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda