Teheran, MINA — Ekonomi Iran berada di ambang kehancuran. Mata uang nasionalnya, rial, terus merosot ke rekor terendah sepanjang Sejarah. Sementara tingkat inflasi telah melampaui 90 persen.
Kombinasi perang, blokade laut Amerika Serikat, dan sanksi internasional telah menciptakan badai sempurna yang menghantam rakyat Iran dari segala arah.
Data terbaru dari pasar valuta asing menunjukkan rial diperdagangkan sekitar 2,69 juta per dolar AS di pasar bebas pada awal Oktober 2026, turun dari 2,63 juta sehari sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan, Euro menembus 3 juta rial untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kehancuran Nilai Tukar yang Tak Terbendung
Baca Juga: Trump Sebut Paris Segera Jadi Kota Muslim, Desak Macron Tutup Perbatasan
Membandingkan dengan awal tahun, gambaran kehancuran rial menjadi semakin jelas. Pada 2 Januari 2026, kurs rial masih berada di level 762.100 per dolar AS. Pada 8 Oktober, angka itu telah meroket menjadi 1.768.000 rial per dolar menurut data Refinitiv. Artinya, rial telah kehilangan hampir 57 persen nilainya dalam kurang dari setahun.
Bank Sentral Iran berupaya keras menahan kejatuhan. Pada awal Oktober, otoritas moneter mengumumkan intervensi senilai 2 miliar dolar AS (sekitar Rp35,7 triliun) melalui penjualan valuta asing oleh bank-bank milik negara. Namun langkah ini tampaknya hanya menunda, bukan menghentikan, kejatuhan.
Inflasi 90 Persen: Ketika Harga Melampaui Upah
Pusat Statistik Iran melaporkan inflasi point-to-point mencapai 89,8 persen pada akhir September 2026, sementara inflasi tahunan berada di 73,6 persen. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim angka inflasi Iran telah menembus 301 persen, meskipun klaim ini dibantah oleh data resmi Iran.
Baca Juga: Macron Kecam Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis, Hampir 2.400 Orang Ditangkap
Yang lebih mengerikan: di sembilan provinsi, inflasi tahunan telah melampaui 100 persen. Provinsi Ilam mencatat angka tertinggi, 114,3 persen, diikuti Hormozgan dengan 113,8 persen dan Kurdistan dengan 108,3 persen. Bahkan Teheran, yang mencatat inflasi terendah, masih berada di angka 74,6 persen.
Dampaknya terasa langsung di meja makan rakyat Iran. Harga sepotong roti telah berlipat ganda dari 250.000 rial menjadi 500.000 rial. Harga satu kilogram beras melonjak dari 3,5 juta menjadi 5,5 juta rial. Daging, bagi banyak rumah tangga, telah menjadi barang mewah yang tak terjangkau.
Inflasi pangan jauh lebih parah daripada inflasi umum. Di Hormozgan, harga makanan dan minuman naik hingga 149,8 persen. Secara nasional, inflasi pangan mencapai 121,7 persen. Ini berarti keluarga Iran harus membayar lebih dari dua kali lipat untuk membeli makanan yang sama dibanding tahun lalu.
Upah yang Tak Mampu Mengejar Harga
Baca Juga: Wapres AS Akui Kesalahan dalam Perang Iran
Yang paling tragis: upah rata-rata bulanan telah anjlok dari setara 120 euro menjadi sekitar 70 euro sejak awal tahun. Dengan kata lain, rakyat Iran bekerja lebih keras, tetapi daya beli mereka hampir setengahnya hilang dalam hitungan bulan.
Seorang ekonom Iran, Ehsan Zakernia, menjelaskan mekanismenya, “Sebagian besar orang Iran menerima pendapatan dalam rial, dan pendapatan mereka terbatas. Ketika harga dolar naik, barang-barang yang terpengaruh dolar, terutama kebutuhan pokok, menjadi lebih mahal”.
Penderitaan ini dirasakan paling dalam oleh kelompok berpenghasilan tetap: pekerja, pensiunan, dan penerima upah.
Menurut laporan UNDP, rumah tangga termiskin menghabiskan sekitar 45 persen dari total konsumsi mereka untuk makanan, dibandingkan hanya 26 persen pada rumah tangga terkaya. Ketika harga pangan meroket, kelompok termiskinlah yang paling terpukul.
Baca Juga: Inggris Ancam Sanksi Perusahaan yang Ikut Tender Permukiman Ilegal Israel di E1
Perang dan Blokade: Akar dari Semua Ini
Kehancuran ekonomi Iran bukan fenomena alam. Ia adalah akibat langsung dari perang dan blokade.
Sejak AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada April 2026, ekspor minyak Iran, yang tahun lalu mencapai 80 miliar dolar AS (Rp 1.431 triliun), praktis terhenti total.
Padahal, minyak adalah tulang punggung ekonomi Iran. Tanpa pemasukan dari sektor ini, negara kehabisan devisa untuk mengimpor barang dan menopang nilai tukar.
Baca Juga: Anis Matta Dorong Reformasi OKI, Indonesia Siap Jadi Oasis Perdamaian
Serangan udara AS dan Israel juga telah menghancurkan infrastruktur industri. Pemerintah Iran memperkirakan kerugian mencapai 270 miliar dolar AS (Rp 4.831 triliun), dengan hampir 3.000 infrastruktur industri rusak. Sejumlah 50 pabrik petrokimia tutup, dan pabrik baja utama Mobarakeh, salah satu terbesar di Timur Tengah, memerlukan setidaknya satu tahun untuk pulih.
Dampaknya terhadap lapangan kerja sangat parah. Wakil Menteri Tenaga Kerja Iran melaporkan 2 juta orang kehilangan pekerjaan akibat perang. Pemutusan akses internet global sejak Februari 2026, dengan biaya 3,3 juta dolar AS per hari, semakin melumpuhkan bisnis kecil dan menengah.
Ketakutan yang Mengubah Perilaku Sehari-hari
Di jalan-jalan Teheran, ketidakpastian telah mengubah cara orang hidup. Dengan tidak adanya bisnis , orang-orang takut untuk bertransaksi.
Baca Juga: Kerusuhan di Prancis Memburuk, 2.000 Orang Ditangkap dan 600 Aparat Terluka
Ketakutan akan eskalasi militer lebih lanjut menambah beban psikologis. Banyak yang memilih menyimpan tabungan dalam bentuk dolar AS, mata uang keras, atau emas, bukan rial yang terus merosot.
Peringatan bagi Dunia, Refleksi bagi Indonesia
Krisis ekonomi Iran adalah pelajaran pahit tentang bagaimana perang dan sanksi dapat menghancurkan kehidupan rakyat biasa. Dalam hitungan bulan, sebuah negara dengan cadangan minyak raksasa bisa terpuruk hingga rakyatnya kesulitan membeli roti.
Bagi Indonesia, ketergantungan pada satu komoditas ekspor, terutama yang rentan terhadap gejolak geopolitik, adalah risiko besar. Diversifikasi ekonomi bukan pilihan, melainkan keharusan.
Baca Juga: Jelang Pemilu Israel, Donald Trump Dukung Penuh Netanyahu
Dalam dunia yang saling terhubung, konflik di satu kawasan bisa berdampak global. Blokade Selat Hormuz tidak hanya menghancurkan Iran, tetapi juga mengancam pasokan energi dunia, termasuk Indonesia.
Iran hari ini adalah cermin dari apa yang bisa terjadi ketika ekonomi, politik, dan perang saling bertabrakan. Semoga kita tidak mengalaminya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wapres AS JD Vance: Jika Iran Kuasai Selat Hormuz, Harga BBM di Amerika Pasti Meroket
Rial Iran anjlok ke rekor terendah dengan inflasi menembus 90 persen. Perang, blokade AS, dan sanksi membuat harga pangan melonjak dan 2 juta orang kehilangan pekerjaan.
















Mina Indonesia
Mina Arabic