Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

9 Ciri Teman yang Membawa Kebinasaan

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 20 Desember 2025 - 15:52 WIB

Sabtu, 20 Desember 2025 - 15:52 WIB

14 Views

TIDAK semua teman yang sering tertawa bersama adalah sahabat yang menyelamatkan. Ada teman yang hadir membawa senyum, namun perlahan menyeret jiwa menuju jurang kebinasaan.(Foto: ig)

TIDAK semua teman yang sering tertawa bersama adalah sahabat yang menyelamatkan. Ada teman yang hadir membawa senyum, namun perlahan menyeret jiwa menuju jurang kebinasaan. Tanpa disadari, pengaruhnya bekerja diam-diam, seperti racun yang diteteskan sedikit demi sedikit. Hingga suatu hari, hati menjadi keras dan iman melemah tanpa sebab yang terasa jelas.

Ciri pertama teman yang membawa kebinasaan adalah mereka yang meremehkan dosa. Awalnya hanya candaan, “Ah, itu biasa,” atau “Allah Maha Pengampun.” Kalimat-kalimat ini terdengar menenangkan, padahal perlahan mematikan rasa takut kepada Allah. Ketika dosa dianggap remeh, maka pintu kehancuran terbuka lebar.

Ciri kedua adalah teman yang menjauhkan dari ketaatan. Setiap kali engkau ingin shalat tepat waktu, menuntut ilmu, atau menghadiri majelis kebaikan, selalu ada alasan yang mereka tawarkan untuk menunda. Bukan dengan paksaan, tapi dengan bujukan yang terasa ringan. Hingga akhirnya, menunda kebaikan menjadi kebiasaan.

Ciri ketiga, mereka membuatmu nyaman dalam maksiat. Engkau tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan hal yang dilarang Allah, karena mereka ada di sekitarmu, melakukan hal yang sama. Lingkungan yang salah membuat dosa terasa normal. Padahal, hati yang mati memang tidak lagi merasa sakit.

Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan

Ciri keempat adalah teman yang mengolok-olok nilai agama. Bisa jadi dalam bentuk sindiran halus, ejekan ringan, atau tawa ketika syariat disebutkan. Mereka tidak melarangmu beriman, tapi membuatmu malu menampakkannya. Sedikit demi sedikit, engkau mulai menyembunyikan ketaatan demi diterima.

Ciri kelima, mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Obrolannya tak pernah lepas dari harta, gengsi, dan kesenangan. Akhirat dianggap jauh dan tidak mendesak. Tanpa sadar, orientasi hidup pun bergeser: yang penting bahagia sekarang, urusan nanti belakangan.

Ciri keenam adalah teman yang tidak menasihati saat engkau salah. Mereka membiarkanmu jatuh, bahkan terkadang ikut menikmati kejatuhanmu. Teman sejati menegur dengan cinta, bukan membiarkan dengan alasan kebebasan. Diam mereka adalah bentuk pengkhianatan yang halus.

Ciri ketujuh, mereka membuatmu lupa pada Allah ketika bersama mereka. Waktu habis tanpa dzikir, tanpa doa, tanpa ingat kematian. Setelah berpisah, hatimu terasa kosong dan gelisah. Pertemanan yang baik seharusnya meninggalkan ketenangan, bukan kehampaan.

Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan

Ciri kedelapan adalah teman yang menanamkan keputusasaan. Mereka mengecilkan harapanmu pada rahmat Allah, mengatakan bahwa hijrah itu sulit, istiqamah itu mustahil. Padahal, bisikan putus asa adalah pintu besar bagi kehancuran iman. Allah selalu membuka jalan, tapi mereka menutupnya dengan kata-kata.

Ciri kesembilan, mereka tidak peduli dengan akhir hidupmu. Tidak pernah mengajakmu bersiap menghadapi kematian, tidak pernah mengingatkan tentang hisab. Seakan hidup hanya tentang hari ini. Padahal, teman sejati adalah yang ingin selamat bersama di dunia dan akhirat.

Sungguh, pertemanan bukan perkara sepele. Rasulullah mengingatkan bahwa seseorang akan mengikuti agama temannya. Maka lihatlah dengan siapa engkau duduk, bercanda, dan berbagi rahasia. Karena di sanalah arah hidupmu sedang dibentuk.

Banyak orang binasa bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena terlalu lama berada di lingkungan yang salah. Hati yang awalnya lembut menjadi keras. Iman yang dulu menyala menjadi redup. Semua terjadi perlahan, hampir tak terasa.

Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan

Namun rahmat Allah selalu terbuka. Jika hari ini engkau mulai gelisah dengan pertemananmu, itu pertanda hati masih hidup. Kegelisahan itu adalah panggilan agar engkau memilih ulang siapa yang layak menemanimu menuju surga.

Tinggalkan pertemanan yang menyeretmu jauh dari Allah, meski berat dan sepi. Kesendirian dalam ketaatan jauh lebih mulia daripada kebersamaan dalam maksiat. Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang memilih-Nya berjalan sendirian.

Pilihlah teman yang mengingatkanmu pada Allah, menegurmu saat salah, dan menggenggam tanganmu menuju akhirat. Karena pada hari kiamat kelak, sebagian teman akan saling bermusuhan. Kecuali mereka yang bersahabat karena Allah.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Khutbah Jumat
Tausiyah
Tausiyah
Ramadhan 1447 H