Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Majelis Ilmu, Hujan bagi Hati yang Gersang

Zaenal Muttaqin Editor : Sri Astuti - Ahad, 22 Februari 2026 - 14:37 WIB

Ahad, 22 Februari 2026 - 14:37 WIB

45 Views ㅤ

Ilustrasi majelis ilmu (Foto: Dibuat oleh AI)

DI TENGAH riuhnya zaman, ketika informasi mengalir tanpa henti namun kebijaksanaan justru terasa kian menipis, nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hadir sebagai cahaya penuntun.

Nasihat ini dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Nashoihul Ibad, sebuah karya yang sarat dengan petuah penyucian jiwa dan penguatan iman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَاسْتِمَاعِ كَلَامِ الْحُكَمَاءِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْيِي الْقَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِمَاءِ الْمَطَرِ

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

“Hendaklah kalian duduk bersama para ulama dan mendengarkan perkataan para hukama, karena Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang gersang dengan air hujan.”

Perumpamaan ini bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia adalah gambaran mendalam tentang hakikat kehidupan ruhani manusia. Tanah yang mati bukan berarti hilang wujudnya, melainkan kehilangan daya tumbuh. Ia keras, kering, dan tak lagi melahirkan kehidupan.

Demikian pula hati. Ia tetap berdetak di dalam dada, namun bisa kehilangan cahaya iman, kehilangan rasa takut kepada Allah, kehilangan kelembutan dalam menyambut kebenaran.

Hati yang mati tidak selalu tampak dari luar. Seseorang bisa tampak berhasil, terdidik, bahkan religius secara simbolik, namun batinnya kering dari rasa tunduk dan harap kepada Allah. Dalam kondisi itulah hikmah menjadi hujan yang dinanti.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Hikmah yang disebut dalam sabda Nabi dimaknai para ulama sebagai ilmu yang bermanfaat, ilmu yang menuntun kepada pengenalan Allah, meluruskan amal, serta memperhalus akhlak.

Hujan tidak sekadar membasahi tanah, tetapi membangkitkan potensi yang lama tersembunyi di dalamnya. Benih-benih yang terpendam tumbuh menjadi pepohonan rindang yang memberi manfaat bagi banyak makhluk.

Begitu pula hati manusia. Ia menyimpan fitrah yang suci. Namun tanpa sentuhan ilmu dan kebijaksanaan, fitrah itu tertutup oleh kesibukan dunia, ambisi yang berlebihan, serta godaan syahwat. Duduk bersama ulama dan hukama ibarat membuka diri agar hujan hikmah turun menyirami jiwa.

Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ath-Thabrani dari Abu Hanifah, disebutkan:

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

جَالِسُوا الْكُبَرَاءَ، وَسَائِلُوا الْعُلَمَاءَ، وَخَالِطُوا الْحُكَمَاءَ

“Hendaklah kalian berkumpul (bergaul) dengan para pemimpin, dan bertanyalah kepada para ulama dan dekatlah kalian dengan para hukama.”

Para ulama menjelaskan bahwa ahli ilmu memiliki ragam kedudukan. Ada yang kokoh dalam pemahaman hukum-hukum Allah, menjaga syariat agar tetap lurus dan tidak diselewengkan.

Ada yang mendalam dalam ma’rifatullah, para hukama, yang hatinya dipenuhi cahaya pengenalan kepada Allah sehingga ucapannya lembut dan menenteramkan. Ada pula yang menghimpun keduanya, kokoh dalam syariat sekaligus dalam hakikat, mereka itulah ulama besar yang menjadi penyangga umat.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Keseimbangan ini amat penting. Ilmu hukum tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi keras dan kaku. Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa pijakan syariat bisa melenceng tanpa arah. Maka bergaul dengan ketiganya adalah upaya menjaga diri agar tetap lurus lahir dan batin.

Ada pula ungkapan yang sarat makna, manfaat pandangan terkadang lebih besar daripada manfaat perkataan. Keberkahan tidak selalu berpindah melalui kata-kata, tetapi juga melalui keadaan hati dan keteladanan.

Diriwayatkan bahwa Shihab al-Din Umar al-Suhrawardi pernah berkeliling di Masjid Khaif di Mina, memandang wajah-wajah manusia. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang jika memandang seseorang, Allah anugerahkan kebahagiaan kepadanya melalui pandangan itu. Ia sedang mencari wajah-wajah yang bercahaya oleh kedekatan kepada Allah.

Kisah ini menegaskan bahwa keberkahan itu nyata. Ada hati yang telah bersih dari penyakit dunia, sehingga kehadirannya membawa keteduhan. Duduk bersama mereka bukan hanya mendengar nasihat, tetapi menyerap kesabaran, kekhusyukan, dan ketenangan.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Sebaliknya, Rasulullah juga memperingatkan:

سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي يَفِرُّونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيهِمُ اللهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتِ، أُولَاهَا: يَرْفَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ، وَالثَّانِيَةُ: يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا، وَالثَّالِثَةُ: يَخْرُجُونَمنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيمَانِ

“Akan datang suatu masa kepada umatku, dimana mereka meninggalkan para ulama dan fuqaha, maka Allah akan menurunkan tiga macam adzab-Nya kepada mereka. Pertama, dicabutnya berkah dari segala usahanya, kedua, dijadikan-Nya penguasa dzalim kepada mereka dan yang ketiga, mereka mati tanpa membawa iman.”

Hilangnya keberkahan bukan berarti hilangnya harta, tetapi hilangnya ketenteraman dalam harta. Banyak penghasilan, namun hati gelisah. Banyak fasilitas, tetapi hidup terasa hampa.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Pemimpin zalim pun bukan sekadar realitas politik, melainkan cerminan dari umat yang menjauh dari cahaya petunjuk. Dan yang paling menggetarkan adalah wafat tanpa iman, ketika hati telah terlalu lama kering sehingga sulit menerima kebenaran di penghujung usia.

Hari ini, jawaban dapat dicari dalam hitungan detik melalui layar. Namun keberkahan tidak selalu hadir melalui bacaan yang tergesa-gesa. Ia sering kali turun dalam kebersamaan, dalam adab, dalam tatap muka yang penuh hormat.

Duduk bersama ulama adalah latihan kerendahan hati. Bertanya kepada ahli ilmu adalah pengakuan bahwa kita tidak mengetahui segalanya. Bersahabat dengan para hukama adalah proses panjang penyucian jiwa.

Di era kebisingan opini dan perdebatan, hikmah menjadi kebutuhan mendesak. Ilmu yang tidak menumbuhkan ketakwaan hanya memperpanjang perbedaan. Hikmah melahirkan kedewasaan, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam bersikap.

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Namun hujan takkan menumbuhkan tanaman jika tanah tertutup batu. Maka selain mencari majelis ilmu, kita pun harus membersihkan hati dari kesombongan, iri, dan fanatisme buta. Hati yang rendah akan lebih mudah menerima cahaya.

Bergaul dengan orang-orang saleh bukan berarti mengkultuskan manusia, melainkan menghormati ilmu dan ketakwaan. Kita tidak menyembah mereka, tetapi meneladani kesungguhan mereka dalam mendekat kepada Allah.

Pada akhirnya, pesan agung ini adalah ajakan untuk menjaga kehidupan hati. Jangan biarkan ia mengeras oleh dunia. Carilah hujan hikmah. Duduklah bersama orang-orang yang ketika disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Dengarkan kata-kata yang tidak hanya cerdas, tetapi juga menuntun kepada-Nya.

Karena sebagaimana tanah yang hidup melahirkan pepohonan yang menaungi banyak orang, hati yang hidup akan memancarkan kebaikan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat sekitarnya. []

Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

 

Miraj News Agency (MINA) 

Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
MINA Edu
Artikel
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah
Artikel