Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Jumat, 6 Maret 2026 - 04:20 WIB

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:20 WIB

55 Views ㅤ

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi (foto: for MINA)

Teheran, MINA – Pemerintah Iran menyatakan menolak segala bentuk dialog dengan Amerika Serikat terkait konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi pada Kamis (5/3) malam.

Ia menegaskan bahwa Teheran telah kehilangan kepercayaan terhadap proses diplomasi setelah berbagai pengalaman negosiasi sebelumnya berakhir tanpa hasil.

Boroujerdi mengatakan Iran tidak akan membuka ruang negosiasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh, terutama setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Ia menilai upaya diplomasi selama ini justru tidak memberikan jaminan keamanan bagi negaranya.

Menurutnya, Iran telah beberapa kali melakukan dialog dengan Washington, namun proses tersebut tidak menghasilkan komitmen yang dihormati oleh semua pihak. Karena itu, pemerintah Iran memutuskan untuk tidak lagi terlibat dalam negosiasi apa pun yang berkaitan dengan konflik saat ini.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Ia mencontohkan kesepakatan nuklir internasional atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang pernah dicapai antara Iran dan negara-negara besar dunia.

Perjanjian tersebut bertujuan membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi, namun Amerika Serikat kemudian keluar secara sepihak dari kesepakatan tersebut pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, sejumlah negara tetap mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi. Tiongkok, misalnya, menyatakan akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah guna memediasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara terkait lainnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu respons militer dari Teheran berupa peluncuran drone dan rudal ke sejumlah target yang terkait dengan kepentingan militer AS di kawasan. []

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda