DISADARI atau tidak, ada satu penyakit halus yang sering tidak disadari dalam diri manusia: keinginan untuk menjadi “one man show”. Ia merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri, tidak butuh orang lain, bahkan diam-diam ingin terlihat paling berjasa. Padahal, di balik itu semua, tersembunyi kelemahan yang besar—kelemahan yang bisa meruntuhkan dirinya dan juga tim yang ia pijak.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Bukan hanya lemah secara fisik, tapi juga terbatas dalam waktu, energi, dan sudut pandang. Ketika seseorang memaksakan diri menjadi pusat dari segala pekerjaan, ia sedang melawan fitrah dirinya sendiri. Ia lupa bahwa Allah menciptakan manusia untuk saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Allah berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)
Bukan hanya lemah secara fisik, tapi juga terbatas dalam waktu, energi, dan sudut pandang. Ketika seseorang memaksakan diri menjadi pusat dari segala pekerjaan, ia sedang melawan fitrah dirinya sendiri. Ia lupa bahwa Allah menciptakan manusia untuk saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang
Allah menegaskan pentingnya kebersamaan dalam kebaikan, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Fenomena “one man show” sering muncul dari perasaan bahwa dirinya paling benar. Ia merasa standar kerjanya paling tinggi, cara berpikirnya paling tepat, dan hasil kerjanya paling maksimal. Ini adalah benih kesombongan yang sangat halus. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Akibatnya, ia mulai mengambil alih tugas orang lain, mencampuri semua lini, bahkan tanpa sadar merusak sistem yang sudah dibangun. Padahal Allah telah mengingatkan, “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Secara ilmiah, banyak penelitian menunjukkan bahwa kerja tim yang sehat jauh lebih efektif dibanding kerja individu yang dominan. Teamwork meningkatkan performa, kohesi, dan kepuasan anggota tim. Artinya, keberhasilan bukan lahir dari satu orang hebat, tapi dari sinergi banyak orang.
Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi
Dalam Islam, kekuatan kolektif juga sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan dalam riwayat lain, “Tangan Allah bersama jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ironisnya, orang yang one man show sering merasa dirinya paling produktif. Padahal, ia justru menjadi penghambat alur kerja. Ketika semua harus lewat dirinya, proses menjadi lambat, keputusan tersendat, dan tim kehilangan kepercayaan diri untuk berkembang.
Lebih jauh lagi, ia perlahan kehilangan kepekaan. Ia tidak lagi melihat batas tugasnya, tidak menghargai peran orang lain, dan bahkan bisa meremehkan kontribusi tim. Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Sikap ini juga bertentangan dengan akhlak tawadhu’ yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau adalah pemimpin terbesar, namun tetap bermusyawarah dengan para sahabat. Allah berfirman, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah
Fenomena “one man show” sering muncul dari perasaan bahwa dirinya paling benar. Ia merasa standar kerjanya paling tinggi, cara berpikirnya paling tepat, dan hasil kerjanya paling maksimal. Akibatnya, ia mulai mengambil alih tugas orang lain, mencampuri semua lini, bahkan tanpa sadar merusak sistem yang sudah dibangun.
Secara ilmiah, banyak penelitian menunjukkan bahwa kerja tim yang sehat jauh lebih efektif dibanding kerja individu yang dominan. Studi menunjukkan bahwa teamwork memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan performa, kohesi, dan kepuasan anggota tim. Artinya, keberhasilan bukan lahir dari satu orang hebat, tapi dari sinergi banyak orang.
Bahkan dalam dunia organisasi dan perusahaan, kolaborasi terbukti meningkatkan produktivitas secara nyata. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan teamwork mampu meningkatkan produktivitas pekerja hingga sekitar 14% dibanding kerja individual. Ini menjadi bukti bahwa “supertim” selalu mengalahkan “superman”.
Ironisnya, orang yang one man show sering merasa dirinya paling produktif. Padahal, ia justru menjadi bottleneck—penghambat alur kerja. Ketika semua harus lewat dirinya, proses menjadi lambat, keputusan tersendat, dan tim kehilangan kepercayaan diri untuk berkembang.
Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah
Lebih jauh lagi, penelitian juga menunjukkan bahwa kreativitas tim tidak hanya bergantung pada individu hebat, tetapi pada kualitas kolaborasi antar anggota. Artinya, sehebat apapun seseorang, jika ia tidak mampu bekerja sama, maka potensi besar itu justru tidak akan optimal.
Orang yang terbiasa berjalan sendiri juga perlahan kehilangan kepekaan. Ia tidak lagi melihat batas tugasnya, tidak menghargai peran orang lain, dan bahkan bisa meremehkan kontribusi tim. Ia sibuk dengan “aku”, hingga lupa bahwa keberhasilan sejati adalah “kita”.
Lebih berbahaya lagi, sikap ini merusak budaya tim. Orang lain menjadi pasif, tidak berani berinisiatif, dan akhirnya hanya menjadi pelengkap. Padahal, tim yang sehat adalah tim yang setiap anggotanya hidup, berkontribusi, dan saling menguatkan.
Dalam jangka panjang, budaya one man show bisa menghancurkan organisasi. Karena ketika satu orang itu jatuh, sistem ikut runtuh. Tidak ada regenerasi, tidak ada distribusi kemampuan, dan tidak ada kekuatan kolektif yang menopang.
Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan
Sebaliknya, tim yang kuat adalah tim yang saling percaya. Mereka memahami peran masing-masing, saling melengkapi kekurangan, dan tidak saling berebut panggung. Mereka sadar bahwa kemenangan bersama jauh lebih mulia daripada sekadar terlihat hebat sendirian.
Kesadaran ini harus dimulai dari dalam diri: bahwa kita tidak diciptakan untuk berjalan sendiri. Bahkan dalam kehidupan, keberkahan sering datang melalui kebersamaan. Ketika kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh, di situlah kita sebenarnya sedang menguatkan diri sendiri.
Maka, berhentilah ingin menjadi “one man show”. Jadilah bagian dari “supertim”. Karena dunia ini tidak butuh satu orang yang ingin terlihat hebat, tapi membutuhkan banyak orang yang mau saling menguatkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Satu Layar, Seribu Fitnah
















Mina Indonesia
Mina Arabic