SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:19 WIB

46 Views ㅤ

ilustrasi seorang sarjana yang memikirkan kehidupannya (foto: Ai)

Oleh Halimah, Staf pengajar di Ponpes Al-Fatah, Cileungsi, Bogor

KITA sering mengira bahwa kepintaran dan gelar sarjana otomatis melahirkan kebijaksanaan. Karena itu muncul kegelisahan di banyak keluarga: mengapa anak yang sudah kuliah, bahkan mendapat kesempatan belajar lewat beasiswa, belum tentu semakin bijak dalam mengambil keputusan?

Kita terbiasa menganggap pendidikan sebagai jalan menuju masa depan. Anak yang kuliah diharapkan berwawasan luas, matang berpikir, dan mampu membedakan mana yang baik dan buruk bagi dirinya. Harapan itu wajar. Namun zaman telah membawa persoalan baru yang tidak diajarkan di ruang kuliah.

Akses Melesat, Kedewasaan Tertinggal

Hari ini seorang mahasiswa bisa belajar dari ribuan sumber, mengikuti perkembangan ekonomi, bahkan menghasilkan uang hanya dari telepon genggam. Dari perangkat yang sama, ia juga bisa terjebak budaya trading, mengejar untung cepat, berutang, dan kehilangan uang yang seharusnya untuk kebutuhan hidup dan pendidikannya.

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Jurang antara akses dan pemahaman ini terlihat jelas dalam data nasional. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, hasil kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), mencatat indeks inklusi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangannya 69,57 persen.

Artinya, hampir semua orang sudah bisa menjangkau produk keuangan, tetapi pemahaman belum secepat akses. Survei OJK dan BPS tahun 2025 memang menunjukkan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, makin tinggi pula literasi keuangannya. Namun tahu belum tentu mampu menahan diri. Pengetahuan baru berguna kalau berubah menjadi kebiasaan mengambil keputusan.

Ketika Percaya Diri Berubah Jadi Perangkap

Bayangkan seorang penerima KIP Kuliah. Biaya pendidikan terbantu, uang kos dan makan tersedia. Semestinya itu fondasi yang kokoh. Lalu muncul rasa percaya diri berlebihan: “Aku bisa dapat uang cepat.” Ketika rugi, muncul dorongan untuk mengembalikan modal. Rugi lagi, mencoba lagi. Kebutuhan berubah menjadi modal, modal menjadi utang, dan utang menjadi beban keluarga.

Keyakinan seperti itu sering tidak punya dasar. Tiga ekonom Brasil, Fernando Chague, Rodrigo De-Losso, dan Bruno Giovannetti, meneliti hampir 20 ribu orang yang mulai day trading di pasar berjangka Brasil pada 2013 hingga 2015.

Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset

Dalam makalah berjudul Day Trading for a Living? yang diterbitkan Fundação Getulio Vargas, mereka menemukan bahwa 97 persen dari mereka yang bertahan lebih dari 300 hari justru merugi. Hanya segelintir yang penghasilannya melampaui gaji awal seorang teller bank, itu pun dengan risiko besar.

Hal yang lebih mengejutkan, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa orang makin mahir seiring waktu. Dengan kata lain, bertahan lama tidak membuat seseorang makin pandai.

Konteksnya memang pasar Brasil, tetapi pola serupa juga ditemukan di tempat lain. Ekonom Brad Barber dan Terrance Odean, bersama rekan-rekannya, meneliti data bursa Taiwan dan menyimpulkan bahwa hanya sebagian sangat kecil day trader yang konsisten meraih untung.

Dua dekade sebelumnya, Barber dan Odean lewat makalah berjudul Trading Is Hazardous to Your Wealth menunjukkan bahwa investor individu yang paling sering bertransaksi justru memperoleh hasil lebih rendah daripada yang jarang bertransaksi.

Baca Juga: Mahasiswa KKN STAI Al-Fatah Gelar Talkshow Jurnalisme Santri di Tasikmalaya

Mengapa orang tetap bertahan? Salah satu jawabannya ada pada teori prospek yang dirumuskan psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky pada 1979. Mereka menunjukkan bahwa manusia merasakan sakitnya rugi lebih tajam daripada nikmatnya untung, dan setelah merugi cenderung lebih berani mengambil risiko demi “balik modal”.

Itulah sebabnya mengejar kerugian terasa masuk akal bagi orang yang sedang terjebak, padahal sering kali ia hanya memperdalam lubang. Kahneman kemudian dianugerahi Nobel Ekonomi tahun 2002 atas karya-karya semacam ini.

Cerita seperti ini bukan sekadar anekdot keluarga. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyampaikan bahwa per Juli 2026 kelompok usia 19 hingga 34 tahun menyumbang 48,22 persen dari total pembiayaan bermasalah di industri pinjaman daring.

Nilai pembiayaan industri itu sendiri mencapai Rp105,63 triliun, tumbuh 24,76 persen dibanding tahun sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Bisnis.com dan Fortune IDN pada September 2026.

Baca Juga: Mahasiswa Disabilitas UIN Ar-Raniry Terima Bantuan Motor Modifikasi

Data ini memang tidak khusus membahas mahasiswa atau trading. Tetapi ia menggambarkan pola yang sama: anak muda mudah mendapat akses, sementara kemampuan menakar risiko dan kemampuan membayar belum tentu menyertainya.

Agusman sendiri, dalam keterangan yang dikutip Bisnis.com pada Januari 2024, menyebut kemudahan memperoleh pinjaman tanpa memperhatikan kemampuan sebagai salah satu faktor yang mendorong dominasi peminjam usia muda.

Dilema yang Dipikul Orang Tua

Ketika utang sudah mencapai puluhan juta rupiah, orang tua sering menjadi tempat terakhir untuk menyelesaikannya. Di satu sisi, mereka tidak tega membiarkan anaknya menghadapi masalah sendirian. Di sisi lain ada pertanyaan yang tidak mudah dijawab: sampai kapan orang tua membayar harga dari keputusan yang terus diulang anaknya?

Lebih menyakitkan lagi ketika anak berkata ingin berhenti kuliah dan bekerja. Bukan karena tidak mampu belajar, bukan karena tidak mendapat kesempatan, tetapi karena ingin lari dari tekanan akibat keputusan finansialnya sendiri.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Pendidikan untuk Hidup, Bukan Sekadar Lulus

Di titik ini kita perlu bertanya: apakah pendidikan kita sudah mengajarkan anak untuk hidup, atau baru mengajarkan mereka untuk lulus? Pintar secara akademik tidak selalu berarti matang secara emosional. Nilai bagus tidak otomatis membuat seseorang mampu mengendalikan keinginan.

Anak-anak kita tidak hanya perlu mampu membaca buku dan menyelesaikan soal. Mereka perlu mampu membaca risiko. Mereka perlu tahu bahwa yang tampak menguntungkan di media sosial belum tentu benar-benar menguntungkan, dan bahwa orang yang memamerkan keberhasilan jarang menunjukkan seluruh proses dan kerugiannya. Tidak semua peluang harus dicoba hanya karena sedang ramai dibicarakan.

Mereka juga perlu belajar satu kata yang sering terlupakan: cukup. Cukup ketika mulai rugi, cukup ketika mulai berutang, cukup ketika keinginan mengejar kerugian sudah mengalahkan akal sehat. Kemampuan berhenti adalah tanda kedewasaan, bukan kekalahan.

Agar tidak berhenti pada nasihat, ada langkah-langkah sederhana yang bisa dibiasakan di rumah dan kampus:

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

  • Pisahkan uang kebutuhan (kos, makan, biaya kuliah) dari uang yang boleh dirisikokan, dan jangan pernah menyentuh yang pertama untuk spekulasi.
  • Tetapkan batas kerugian sebelum mulai, bukan sesudah rugi.
  • Jangan berutang untuk berspekulasi.
  • Periksa legalitas setiap platform investasi atau pinjaman lewat OJK (kontak 157) sebelum menyetorkan uang.

Kampus pun bisa mengambil peran, misalnya dengan menjadikan literasi keuangan bagian dari orientasi mahasiswa, terutama bagi penerima beasiswa yang menerima dana secara langsung.

Menolong dengan Kebijaksanaan

Sebagai orang tua, mungkin kita juga perlu belajar bahwa membantu anak tidak berarti selalu menyelamatkan mereka dari setiap konsekuensi. Ada saatnya kita membantu melunasi utangnya. Tetapi ada pula saatnya kita membantu mereka memahami mengapa utang itu terjadi, agar kesalahan yang sama tidak terulang. Bantuan tanpa pelajaran hanya menunda masalah berikutnya.

Tujuan pendidikan bukan sekadar gelar. Tujuannya membuat manusia mampu memakai ilmu, kesempatan, kebebasan, dan uangnya dengan penuh tanggung jawab. Kepintaran dan gelar memang tak menjamin kebijaksanaan, tetapi pendidikan yang baik seharusnya membantu seorang anak belajar menjadi bijaksana.

Di tengah zaman yang menawarkan keuntungan dalam hitungan menit, pelajaran paling penting mungkin justru yang paling sederhana: tidak semua yang cepat itu baik, tidak semua yang tampak menguntungkan benar-benar untung, dan tidak semua kesalahan harus dibayar oleh orang tua. []

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Tausiyah
Khadijah
MINA Preneur
Khadijah