ADA satu titik di peta dunia yang mungkin jarang kita perhatikan, tapi diam-diam menentukan seberapa mahal harga bensin di SPBU dekat rumah kita. Namanya Bab Al-Mandab, selat sempit yang memisahkan Yaman di Semenanjung Arab dengan Djibouti di Afrika.
Selat ini hanya selebar sekitar 30 kilometer. Tapi di atasnya, sekitar 10-12 persen perdagangan dunia melintas setiap hari. Ini adalah jalur tercepat dari Asia menuju Eropa dan Afrika. Kalau selat ini terganggu, dampaknya terasa sampai ke kantong kita.
Dan sekarang, Bab Al-Mandab sedang bergolak. Pertempuran sengit antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melawan kelompok Houthi telah mengubah selat ini menjadi medan perang. Yang dipertaruhkan bukan hanya kedaulatan Yaman, tapi juga stabilitas energi dunia, dan keselamatan ribuan pelaut, termasuk dari Indonesia.
Apa yang Terjadi di Lapangan
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Pada awal Oktober 2026, militer Yaman yang didukung koalisi pimpinan Saudi melancarkan operasi besar-besaran bernama “Fajar Yaman”. Tujuannya merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai Houthi di sekitar Bab Al-Mandab.
Juru bicara militer Yaman, Mayjen Majid Al-Nuzaili, mengklaim pasukannya telah menguasai Bab Al-Mandab dan memutus jalur pasokan Houthi. Koalisi Saudi menurunkan 100 pesawat tempur untuk mendukung operasi darat ini. Dalam 24 jam pertama, mereka mengklaim telah menghancurkan 324 target penting milik Houthi.
Tapi Houthi tidak tinggal diam. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, membantah klaim kemenangan pemerintah Yaman. Ia menyebutnya sebagai “klaim fiktif dan upaya menutupi kegagalan berulang” . Houthi justru mengklaim telah menghancurkan kendaraan lapis baja musuh dan merebut kendali atas Distrik Jabal Habashi di Taiz.
Yang lebih mengejutkan: Houthi melancarkan serangan balasan ke jantung Arab Saudi. Mereka mengklaim telah menyerang Bandara Riyadh dan fasilitas Aramco dengan rudal balistik dan drone . Belum ada konfirmasi resmi dari Saudi soal serangan ini, tapi jika benar, ini adalah eskalasi yang sangat serius.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, dalam laporannya ke Dewan Keamanan PBB pada 9 Oktober 2026, menyimpulkan situasinya dengan gamblang, “Yaman telah kembali ke perang skala penuh”.
Kenapa Bab Al-Mandab Begitu Penting?
Bab Al-Mandab adalah gerbang selatan Laut Merah. Semua kapal yang ingin melewati Terusan Suez, jalur pelayaran paling penting antara Asia dan Eropa, harus melewati selat ini. Tanpa Bab Al-Mandab, Terusan Suez praktis tidak berguna.
Bisa dibayangkan, kapal-kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dari Arab Saudi ke Eropa, kapal-kapal kontainer yang membawa barang elektronik dari China ke pasar Eropa, kapal-kapal pengangkut bahan pangan dari Asia ke Afrika, semuanya lewat sini.
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Pada tahun 2023, ketika Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah, lalu lintas di Terusan Suez anjlok. Mesir mengaku kehilangan sekitar 11 miliar dolar AS dari pendapatan terusan itu. Kapal-kapal terpaksa memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, menambah waktu pelayaran 10-15 hari dan biaya logistik yang jauh lebih mahal.
Sekarang, dengan pertempuran yang kembali memanas, lalu lintas di Bab Al-Mandab hampir terhenti total. Data IMF PortWatch menunjukkan hanya 4 kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, turun 88 persen dari rata-rata normal. Kapal tanker minyak dan bahan kimia turun 91 persen. Kapal kontainer turun 86 persen.
Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah lambang dari ekonomi global yang sedang megap-megap.
Krisis Energi yang Mengintai Indonesia
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
Pertama, harga minyak. Indonesia adalah importir minyak bersih. Setiap kenaikan harga minyak dunia langsung memukul anggaran negara. Ekonom dari Celios, Bhima Yudhistira, memperkirakan jika Bab Al-Mandab benar-benar ditutup, harga minyak bisa menembus 120 dolar AS per barel.
Untuk setiap kenaikan 1 dolar AS, pemerintah harus menambah belanja Rp10,3 triliun. Artinya, jika minyak naik 20 dolar, tambahan beban APBN bisa mencapai Rp206 triliun.
Kedua, biaya logistik. Ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 13,4 persen dari total ekspor per Januari 2026
Jika jalur Bab Al-Mandab tidak aman, kapal-kapal kargo yang membawa produk Indonesia harus memutar lebih jauh. Waktu pengiriman bertambah, biaya asuransi melonjak, dan pada akhirnya harga barang di pasar Eropa menjadi kurang kompetitif.
Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”
Ketiga, bahan baku pupuk. Bahan baku pupuk melewati jalur ini. Jika pasokannya terganggu, petani Indonesia akan merasakan dampaknya, harga pupuk naik, biaya produksi meningkat, dan pada akhirnya harga pangan ikut terdongkrak.
Dimensi penting lainnya, masyarakat kelas menengah ke bawah adalah kelompok yang paling rentan. Mereka menggunakan bahan bakar untuk mobilitas sehari-hari. Kenaikan biaya energi pada akhirnya memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Krisis Kemanusiaan yang Terlupakan
Di balik berita tentang pertempuran dan klaim kemenangan, ada tragedi kemanusiaan yang skalanya sulit dibayangkan.
Baca Juga: Pertahanan Udara Saudi Cegat Dua Rudal Houthi yang Targetkan Riyadh
Lebih dari 200.000 orang telah mengungsi di Yaman sejak awal Agustus 2026 . Ini adalah tingkat pengungsian tertinggi sejak gencatan senjata 2022.
Dari jumlah itu, hampir 4.000 orang nekat menyeberangi Bab Al-Mandab ke Djibouti untuk mencari keselamatan. Mereka menaiki perahu-perahu kecil, sering kali kehabisan bahan bakar di tengah laut, dan harus diselamatkan oleh penjaga pantai.
UNHCR melaporkan bahwa lebih dari 60 persen pengungsi adalah perempuan, anak-anak, dan orang tua. Di kamp pengungsian Markazi di Djibouti, yang dirancang untuk menampung 5.000 orang, sudah ada lebih dari 4.200 pengungsi yang tinggal di sana, dan pihak berwenang memperkirakan akan ada 10.000 kedatangan baru.
Kapasitas sudah kewalahan. Dana UNHCR untuk operasi di Djibouti baru terpenuhi 15 persen. Untuk operasi di dalam Yaman, baru 18 persen.
Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”
Yang lebih mengenaskan, menurut laporan PBB, 46 warga sipil tewas sejak awal Agustus, dan lebih dari separuhnya adalah anak-anak. Hampir 250 sekolah tutup, dan lebih dari 137.000 siswa kehilangan akses pendidikan.
Utusan PBB Grundberg menyimpulkan dengan kalimat yang menyayat, warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, sekali lagi menanggung beban terberat dari kekerasan yang meningkat, pada saat Yaman telah dinobatkan oleh IMF sebagai negara termiskin di dunia.
Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?
Ini pertanyaan yang paling penting, “Apa yang bisa kita lakukan?”
Baca Juga: Ketika Bayangan Rudal Menyasar Tanah Suci Makkah sebagai Garis Merah
Pertama, diplomasi. Indonesia harus segera melobi pemerintah Yaman maupun pihak-pihak terkait agar kapal kargo yang memuat barang Indonesia tidak dihambat. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki bobot moral untuk berbicara dengan semua pihak.
Kedua, perlindungan WNI. Setelah korban berjatuhan, pemerintah harus mempertimbangkan travel warning untuk wilayah konflik dan memastikan perlindungan maksimal bagi pelaut Indonesia yang masih beroperasi di jalur ini.
Ketiga, mitigasi ekonomi. Pemerintah perlu mempercepat realokasi anggaran untuk subsidi energi dan pupuk, menambah subsidi transportasi umum untuk menekan konsumsi BBM, dan mempercepat transisi energi.
Keempat, diversifikasi. Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada jalur Bab Al-Mandab untuk ekspor-impor. Ini termasuk mencari sumber energi alternatif dan memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara di kawasan Asia yang tidak melalui jalur ini.
Baca Juga: Puing Rudal Houthi Jatuh di Riyadh, Rusak Bangunan dan Kendaraan
Dunia yang Saling Terhubung
Pertempuran di Bab Al-Mandab mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, atau Makassar. Tapi kenyataannya, ia menyentuh hampir setiap aspek kehidupan kita.
Harga bensin yang naik di SPBU. Biaya pengiriman barang yang meningkat. Harga pupuk yang memberatkan petani. Dan yang paling tragis, nyawa pelaut Indonesia yang hilang di perairan yang seharusnya menjadi jalur perdagangan, bukan medan perang.
Ini adalah pengingat bahwa dunia ini saling terhubung. Apa yang terjadi di selat sempit di ujung Semenanjung Arab bisa menentukan apakah keluarga kita bisa makan dengan tenang malam ini.
Baca Juga: Pemimpin Jamaat-e-Islami Pakistan Sebut Aliansi Regional Dapat Bantu Masalah Afghanistan
Dan bagi Indonesia, negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia dan tradisi bahari yang kaya, Bab Al-Mandab adalah pintu depan rumah kita. Jika pintu itu tertutup atau bergolak, kita tidak bisa hanya menonton.
Kita harus terlibat. Kita harus peduli. Karena perdamaian di Yaman adalah kepentingan kita bersama. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic