SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Arief Rahman Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 11 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Ahad, 11 Oktober 2026 - 06:57 WIB

33 Views ㅤ

Persiapan Pernikahan Untuk Pasangan (Ilustrasi AI)
Persiapan Pernikahan Untuk Pasangan (Ilustrasi AI)

KALIMAT itu gampang ditemukan di kolom komentar media sosial, biasanya di bawah video lamaran atau unggahan undangan nikah teman. Nadanya bercanda. Tapi kalau kita ngobrol langsung dengan anak-anak muda di sekitar kita, di balik candaan itu sering ada rasa cemas yang serius.

Cemas itu juga bukan tanpa alasan. BPS mencatat inflasi tahunan September 2026 mencapai 3,28 persen, dengan kenaikan yang paling terasa pada cabai, daging ayam, beras, dan telur. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melapor terkena PHK sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dan Jawa Barat menyumbang angka terbanyak.

Pengangguran usia 15–24 tahun berada di angka 16,36 persen per Februari 2026, jauh di atas rata-rata nasional 4,68 persen. Dari sisi utang, OJK mencatat hampir separuh pendanaan pinjaman daring yang macet berasal dari peminjam berusia 19–34 tahun.

Tidak heran kalau angka pernikahan ikut turun. Pernikahan yang tercatat di KUA menyusut dari sekitar 2,11 juta pada 2014 menjadi sekitar 1,48 juta pada 2024. Pertanyaannya, apakah jalan keluarnya menunggu sampai ekonomi benar-benar aman?

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Tiga orang yang tidak menunggu kaya

Al-Qur’an dan sirah menyimpan beberapa kisah yang terasa dekat sekali dengan kegelisahan ini. Nabi Musa meninggalkan Mesir dalam keadaan takut dan tanpa harta, setelah peristiwa terbunuhnya seorang laki-laki yang tidak ia sengaja. Di Madyan, dengan kondisi serba kurang, ia masih menolong dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternaknya. Yang kemudian dilihat dari dirinya bukan kekayaan, melainkan dua sifat: kuat dan dapat dipercaya (QS. Al-Qashash: 26).

Ia dinikahkan dengan mahar bekerja delapan sampai sepuluh tahun. Nabi Yusuf melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara. Ketika menafsirkan mimpi raja tentang tujuh tahun panen dan tujuh tahun paceklik, ia menyarankan agar hasil panen disimpan dan hanya sedikit yang dimakan (QS. Yusuf: 47–49).

Itulah prinsip dana darurat, jauh sebelum istilahnya populer. Ia lalu dipercaya mengelola perbendaharaan Mesir karena, dalam kata-katanya sendiri, ia orang yang “pandai menjaga dan berpengetahuan” (QS. Yusuf: 55).

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tumbuh sebagai yatim piatu. Beliau membawa dagangan milik Khadijah ke Syam sebagai pengelola, bukan pemilik modal. Kejujuran dan cara kerja beliau yang membuat Khadijah tertarik.

Allah mengabadikan perjalanan itu dalam Surah Adh-Dhuha ayat 8: “Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan.”

Tidak satu pun dari ketiganya kaya ketika menikah. Yang mereka bawa adalah iman, akhlak, kemampuan, dan amanah.

Janji Al-Ghaniyy

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Salah satu nama Allah adalah Al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya. Dalam Surah Fathir ayat 15, Allah mengingatkan bahwa manusialah yang membutuhkan-Nya, sedangkan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Soal pernikahan, janji-Nya tegas: “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya” (QS. An-Nur: 32).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menukil perkataan Ibnu Mas‘ud, “Carilah kekayaan melalui pernikahan.”

Rasulullah juga menyebut orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri sebagai salah satu dari tiga golongan yang pasti ditolong Allah.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Meski begitu, janji ini perlu dibaca utuh. Ayat tersebut tidak menjanjikan kaya mendadak sehari setelah akad. Musa tetap bekerja bertahun-tahun, Yusuf tetap menyimpan hasil panen, dan Rasulullah ﷺ tetap berdagang. Pertolongan Allah turun kepada orang yang bergerak.

Siap finansial artinya siap mengelola

Di sinilah kesiapan finansial menemukan maknanya. Ukurannya bukan saldo yang sudah sekian, melainkan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Ada beberapa hal sederhana yang bisa dimulai jauh sebelum akad. Catat pengeluaran selama sebulan supaya tahu ke mana uang pergi. Bedakan kebutuhan dan keinginan, karena banyak rumah tangga muda goyah bukan karena gajinya kecil, tapi karena gaya hidupnya terlalu besar.

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Sisihkan dana darurat di awal gajian, bukan dari sisa di akhir bulan.  Jauhi paylater dan pinjol untuk hal-hal konsumtif. Satu lagi yang sering dilewatkan: terbuka kepada calon pasangan soal penghasilan, tanggungan, dan utang.

Untuk urusan walimah, kisah Abdurrahman bin ‘Auf layak diingat. Ia datang ke Madinah tanpa harta, memilih berdagang di pasar ketimbang menerima pemberian saudaranya, lalu menikah. Pesan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam kepadanya sederhana: adakan walimah walaupun hanya dengan seekor kambing (HR. Bukhari dan Muslim). Resepsi berlangsung satu hari, sedangkan rumah tangga dijalani seumur hidup.

Jadi, harus kaya dulu baru menikah? Rasanya tidak. Yang perlu disiapkan adalah kemampuan mengelola apa yang ada, ditambah keyakinan bahwa yang menjamin rezeki adalah Al-Ghaniyy, bukan slip gaji. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

 

Rekomendasi untuk Anda

Persiapan Pernikahan Untuk Pasangan (Ilustrasi AI)
Artikel
Feature