Teheran, MINA – Aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni lalu.
Kembalinya kapal-kapal ke salah satu jalur perdagangan energi tersibuk di dunia tersebut turut menekan biaya logistik di pasar spot dan membuka peluang normalisasi rantai pasok global secara bertahap. Press TV melaporkan.
Ketua Asosiasi Forwarding dan Logistik Turki (UTIKAD), Bilgehan Engin mengatakan meredanya ketegangan geopolitik telah mengurangi premi risiko pelayaran dan biaya asuransi yang sebelumnya melonjak akibat konflik.
Meski demikian, ia menilai proses pemulihan berlangsung secara bertahap karena tarif angkutan laut masih dipengaruhi berbagai biaya struktural yang belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum krisis.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Selama konflik berlangsung, banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk menghindari risiko keamanan di Teluk Persia.
Pengalihan tersebut memperpanjang waktu pelayaran, meningkatkan konsumsi bahan bakar, serta mendorong lonjakan tarif angkutan dan biaya logistik global.
Dengan mulai pulihnya kondisi keamanan, perusahaan pelayaran kini secara bertahap kembali menggunakan rute Selat Hormuz, meski volume lalu lintas masih berada di bawah kondisi normal sebelum konflik.
Engin menambahkan sejumlah perusahaan pelayaran internasional juga mulai meninjau ulang kontrak logistik jangka panjang yang dibuat saat masa krisis.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Kontrak-kontrak baru kini disusun dengan skema yang lebih fleksibel dan premi risiko yang lebih rendah, sehingga diharapkan dapat menciptakan tarif pengiriman yang lebih kompetitif bagi pelaku perdagangan internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpengaruh langsung terhadap harga energi, biaya transportasi laut, dan stabilitas rantai pasok internasional.
Pemulihan aktivitas pelayaran di jalur ini dinilai menjadi kabar positif bagi negara-negara pengimpor energi maupun pelaku industri yang bergantung pada kelancaran distribusi barang.
Meski situasi mulai membaik, pelaku industri logistik memperkirakan diversifikasi jalur distribusi akan tetap menjadi strategi utama perusahaan global.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Pengalaman selama krisis mendorong banyak perusahaan mengembangkan koridor logistik alternatif melalui jalur darat, kereta api, maupun pusat distribusi regional guna mengurangi ketergantungan pada satu rute pelayaran dan meningkatkan ketahanan rantai pasok menghadapi gejolak geopolitik di masa mendatang. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
















Mina Indonesia
Mina Arabic