Atlanta, MINA – Stadion Atlanta, Amerika Serikat, akan bergemuruh Rabu (16/7) dini hari ini. Bukan sekadar semifinal Piala Dunia.
Ini adalah perang menggapai kehormatan tertinggi antara dua peradaban sepak bola. Argentina vs Inggris. Dua musuh abadi yang sejarahnya terukir dalam luka dan kejayaan.
Tapi di atas segalanya, ini adalah adu tunggal dua nomor punggung 10. Lionel Messi vs Jude Bellingham. Dua maestro di puncak generasi yang berbeda, tapi sama-sama haus akan takhta dunia.
Di usia yang tak lagi muda Lionel Messi (39 tahun) menjelma menjadi fenomena yang menentang logika. Delapan gol telah ia torehkan di Piala Dunia 2026. Dua di antaranya menyelamatkan Argentina dari jurang eliminasi saat menghadapi Tanjung Verde dan Mesir.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 2-6, Tuan Rumah Dibantai
Ia seperti maharaja yang enggan lengser, setiap sentuhan kakinya adalah sihir, setiap umpan adalah tusukan belati ke jantung lawan.
Bagi Messi, ini adalah misi terakhir. Penampilan Piala Dunia keenamnya, dan kemungkinan terakhir. Karena itu, ia bukan hanya mengejar gelar. Ia mengejar keabadian.
Dengan 21 gol di Piala Dunia, ia sudah menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa. Tapi satu gelar beruntun akan menempatkannya sejajar atau bahkan melampaui seniornya, Diego Maradona, ikon yang membawa Argentina juara di tahun 1986.
“Ini adalah momen yang lebih dari sekadar sepak bola,” ujar Alexis Mac Allister, rekan setimnya.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 1-3 pada Babak Pertama, Joao Felix Brace
“Mengambil inspirasi dari apa yang dilakukan Diego itu sulit. Hanya Leo yang bisa melakukan itu,” lanjutnya, merujuk pada nama Lionel Messi.
Untuk pertama kalinya dalam kariernya yang bertabur rekor, Messi akan berhadapan langsung dengan Inggris.
Di sisi lain, ada Jude Bellingham. Pemain muda yang baru berusia 23 tahun, tapi nyalinya sudah sebesar singa. Ia adalah wajah baru sepak bola Inggris, tapi mentalnya sudah setua veteran.
Dua Piala Dunia, empat turnamen besar, dan kini ia menjadi mesin pembunuh The Three Lions dengan enam gol, dua di antaranya menghabisi Meksiko dan Norwegia di fase gugur.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tanding Selasa Besok, GS Caltex dan Pink Spider Menang di Laga Pertama
Anehnya, Bellingham sempat dijatuhkan oleh pelatih Thomas Tuchel sebelum Piala Dunia. Kontroversi memanas. Banyak yang meragukan tempatnya di starting eleven. Tapi Bellingham adalah anak yang lahir dari tekanan. Ia membungkam semua kritik dengan performa yang membuat Tuchel sendiri terpaksa mengakui, “Dia kelas dunia.”
Berbeda dengan Messi yang mengandalkan sentuhan bak sihir, kaki kiri yang tidak kenal ampun, dan hanya berjalan-jalan santai di lapangan hijau, sambil melakukan scanning seluruh sudut lapangan, pergerakan lawan dan arah bola. Bellingham adalah tipe No. 10 modern, atletis, eksplosif, sekaligus brutal.
Ia menembus pertahanan dengan kekuatan fisik, melesat melewati bek lawan dengan akselerasi menggila. Teknisnya juga tidak main-main, sentuhan dan umpan terukurnya mampu membongkar pertahanan tembok beton bek mana pun.
Jika Messi adalah seniman di atas lapangan hijau, yang menghujam halus tak terduga. Bellingham adalah pedang bermata dua yang menebas tanpa ampun.
Baca Juga: Liverpool vs Arsenal: The Gunners Menang Bersejarah di Anfield dan Kokoh di Puncak
Tentu saja, di ajang Piala Dunia, Messi masih jauh unggul dengan mencetak 21 gol dan 10 assist, hingga usia 39 tahun. Sementara Bellingham masih terlalu muda, dengan 6 golnya. Tentu 15 tahun lagi atau 3 kali piala dunia lagi hingga usia 39 tahun, akan mengancam rekor Messi.
Messi akan memainkan permainan catur, tampil tenang, terukur, tapi mematikan. Bellingham adalah tipe badai, kencang, liar, dan menyerbu dari segala arah.
Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Pertandingan ini mungkin ditentukan oleh siapa yang lebih kuat menahan tekanan di menit-menit krusial.
Sejarah Panas Inggris vs Argentina
Baca Juga: Liverpool vs Arsenal: Tim Tamu Unggul Lebih Dulu
Ini bukan sekadar sepak bola. Ini adalah persaingan yang membara sejak 1966, saat kapten Argentina, Antonio Rattin, diusir keluar lapangan dalam kekalahan kontroversial dari Inggris.
Lalu ada gol “Tangan Tuhan” Maradona di tahun 1986, yang hingga kini masih menggoreskan rasa sakit di hati Inggris.
Ada juga skandal kartu merah David Beckham di tahun 1998, di mana tendangan kecilnya kepada Diego Simeone berujung petaka, dan Inggris tumbang lewat adu penalti. Lalu di tahun 2002, Beckham menebus segalanya dengan penalti penentu kemenangan atas Argentina.
“Beckham adalah idola besar saya,” ujar Harry Kane.
Baca Juga: PSIM vs Borneo FC: Gol Spektakuler Savio Sheva Beri Kemenangan Pertama Laskar Mataram
“Saat dia mencetak penalti itu, menarik kaus dan wajahnya, itu adalah salah satu kenangan Inggris favorit saya,” lanjut Kane.
Kini, di tahun 2026, panggungnya adalah semifinal. Bukan grup. Bukan babak 16 besar. Ini adalah partai yang menentukan siapa yang berhak menginjak final dan menyentuh trofi.
Ya, Messi bisa saja mencatat sejarah lain dengan membawa Argentina ke final berturut-turut dan membandingkan namanya dengan Maradona. Namun, Bellingham juga bisa menjadi pahlawan nasional baru Inggris dengan mengantar negaranya ke final untuk kedua kalinya dalam empat tahun.
Ini adalah laga yang akan mengguncang Atlanta, mengguncang dunia, dan mengguncang sejarah. Dua generasi berjumpa. Dua filosofi bertempur. Dua legenda, satu sedang menutup buku, satu sedang membuka buku pertamanya.
Baca Juga: PSIM vs Borneo FC: Laskar Mataram Dijebol Duluan
Dan di hari Rabu nanti, hanya ada satu nomor punggung 10 yang akan meninggalkan lapangan dengan kepala tegak dan sumringah. Sisanya? Hanya akan tertunduk menjadi pelengkap sejarah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pink Spiders Raih Kemenangan Pertama di V-League Korea Usai Bungkam SOOPers 3-0
















Mina Indonesia
Mina Arabic