Jenewa, MINA – Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperingatkan percepatan keruntuhan ekonomi di Jalur Gaza dengan hancurnya sekitar 92 persen usaha ekonomi di wilayah tersebut.
Seperti dikutip dari Palestinian Information Center, Jumat (25/9), agresi Israel di Gaza telah menghilangkan ratusan ribu lapangan kerja dan mendorong lebih dari 90 persen populasi usia kerja keluar dari pekerjaan.
Pedro Manuel Moreno, Sekretaris Jenderal Sementara UNCTAD, dalam konferensi pers di Jenewa mengatakan ekonomi Palestina mengalami keruntuhan menyeluruh yang menghapus pencapaian pembangunan selama puluhan tahun.
Gaza telah menjadi pusat krisis ekonomi dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Moreno mengatakan laporan terbaru UNCTAD mendokumentasikan skala kerugian yang dialami ekonomi Palestina. Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza saja diperkirakan mencapai sekitar $71,5 miliar. Angka ini muncul di tengah kehancuran luas infrastruktur, sektor produktif, dan layanan penting.
Laporan tersebut menemukan bahwa 92 persen usaha ekonomi Gaza telah rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Produk domestik bruto per kapita turun menjadi hanya $212 pada 2025, sekitar 58 sen per hari. Angka ini setara dengan hanya 17 persen dari level 2022.
Pengangguran mencapai 78 persen. Lebih dari 90 persen populasi usia kerja Gaza berada di luar pekerjaan. Ratusan ribu lapangan kerja hilang sejak awal perang, menghapus miliaran dolar pendapatan tenaga kerja kumulatif.
Tidak ada sektor produktif utama yang luput dari keruntuhan. Output pertanian dan industri masing-masing turun 94 persen. Aktivitas konstruksi anjlok 99 persen dibandingkan level 2022.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Laporan tersebut menemukan bahwa kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses dan tidak rusak. Hal ini memperdalam ketergantungan penduduk pada bantuan pangan kemanusiaan. Kapasitas produktif pertanian dan industri Gaza juga rusak parah, menghilangkan sebagian besar kemampuan ekonomi lokal untuk menopang diri sendiri.
Harga melonjak drastis. Tingkat harga keseluruhan Gaza pada 2025 tetap 274 persen lebih tinggi daripada 2022. Harga beberapa kebutuhan pokok, termasuk kentang dan gas memasak, naik hingga beberapa kali lipat dari level sebelum perang.
UNCTAD memperkirakan kerusakan fisik infrastruktur Gaza sekitar $35,2 miliar. Sementara kerugian ekonomi dan sosial mencapai $22,7 miliar. Biaya tersebut bisa meningkat lebih lanjut jika kerusakan tambahan terus terjadi.
Laporan tersebut menekankan bahwa memulihkan ekonomi Palestina membutuhkan intervensi skala besar. Ini termasuk membangun kembali pertanian, industri, konstruksi, energi, dan teknologi. Langkah itu juga harus melindungi sistem perbankan dan mengamankan pendapatan Palestina. Menurut UNCTAD, langkah-langkah tersebut penting untuk memulai kembali aktivitas ekonomi dan memulihkan sebagian kapasitas produktif yang dihancurkan oleh perang.[]
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
















Mina Indonesia
Mina Arabic