Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hari Ke-8 Blokade Militer Israel di Hebron, Ratusan Keluarga Palestina Terusir

Hasanatun Aliyah Editor : Rudi Hendrik - Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:36 WIB

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:36 WIB

12 Views

Pasukan Israel melakukan penutupan jalan dan penghancuran bangunan milik warga Palestina di Hebron, Tepi Barat yang diduduki. (Foto: X / @Mistaclim)

Hebron, MINA – Pasukan penjajah Israel melanjutkan agresi militer terhadap Kota Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat, untuk hari kedelapan berturut-turut pada Jumat (30/10). Blokade militer diperketat dengan menutup akses keluar-masuk kota dan memaksa ratusan keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka.

Pasukan Israel mengerahkan bala bantuan militer dan unit teknik tambahan dari pintu masuk utara Al-Khalil, di kawasan Farsh al-Hawa, menuju Deir Baha di bagian barat kota. Wilayah tersebut telah berada dalam pengepungan sejak Jumat pekan lalu, menurut keterangan saksi mata.

Agresi militer itu disertai penggerebekan rumah berulang kali, pengungsian paksa, serta pembatasan pergerakan warga Palestina di sejumlah kawasan.

Pasukan Israel menyerbu rumah warga Palestina bernama Hamouda al-Jaaba. Otoritas Israel menuduh Hamouda bersama Ahmad al-Jaaba melakukan penembakan di kawasan Farsh al-Hawa pekan lalu.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Tentara Israel mulai menggali dan membongkar sebagian rumah tersebut. Mereka juga memerintahkan keluarga-keluarga lain di sekitarnya untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Penggerebekan meluas ke sejumlah lingkungan di Al-Khalil dan Desa al-Rihiya di bagian selatan kota. Dalam operasi tersebut, pasukan Israel menculik tiga warga Palestina, termasuk seorang mantan tahanan yang baru dibebaskan pada Kamis (29/10). Penculikan itu terjadi ketika keluarganya tengah menggelar perayaan untuk menyambut kepulangannya.

Ketiga warga tersebut dilaporkan mengalami pemukulan dan penganiayaan selama berada dalam penahanan.

Pasukan Israel juga terus menutup seluruh pintu masuk dan keluar Al-Khalil serta mengepung kawasan al-Jalda dan Deir Baha. Penggerebekan rumah setiap hari dan perusakan barang-barang milik warga semakin memperburuk kondisi kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Menurut data resmi, sebanyak 537 keluarga Palestina yang terdiri dari 3.361 orang telah dipaksa mengungsi dari kawasan al-Jalda dan Deir Baha. Sementara itu, ratusan keluarga lainnya masih terjebak di dalam rumah dan tidak dapat bergerak bebas maupun mengakses bantuan kemanusiaan.

Data Komite Dukungan dan Bantuan yang dibentuk oleh Gubernur Al-Khalil menunjukkan besarnya dampak krisis terhadap kelompok rentan. Di antara warga terdampak terdapat 232 bayi, 1.193 anak berusia 2 hingga 17 tahun, 326 lansia, 147 perempuan hamil dan menyusui, 32 penyandang disabilitas, serta 213 orang dengan penyakit kronis.

Komite tersebut telah menerima 531 panggilan melalui saluran bantuan darurat bebas pulsa dan mengoordinasikan penanganan dengan organisasi terkait. Komite juga membentuk tim khusus untuk menangani bantuan kemanusiaan, perumahan, pendidikan, urusan hukum, media, dan keuangan.

Dampak agresi militer Israel juga dirasakan sektor ekonomi. Kamar Dagang Al-Khalil memperkirakan penutupan wilayah menyebabkan kerugian langsung antara 10 juta hingga 12 juta shekel Israel per hari. Dari jumlah tersebut, sektor susu saja mengalami kerugian sekitar satu juta shekel setiap hari.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Penutupan jalan dan akses perdagangan telah menghambat aktivitas ekonomi serta menambah tekanan keuangan bagi pelaku usaha dan keluarga Palestina.

Sektor pendidikan juga mengalami gangguan besar. Sekitar 262.000 siswa di 589 sekolah di Provinsi Al-Khalil terdampak selama sepekan terakhir akibat agresi militer Israel.

Ribuan siswa yang tinggal di kawasan terkepung maupun keluarga yang terpaksa mengungsi tidak dapat mencapai sekolah. Penutupan jalan dan pembatasan militer terus menghambat kegiatan belajar mengajar.

Memasuki hari kedelapan pengepungan, warga Palestina di Al-Khalil menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang semakin besar, kerugian ekonomi yang terus bertambah, serta gangguan berkepanjangan terhadap layanan penting, termasuk pendidikan.[]

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda