Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ashbahna ‘Ala Fithratil Islam: Doa Pagi yang Meneguhkan Identitas Keimanan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 12 September 2026 - 05:23 WIB

Sabtu, 12 September 2026 - 05:23 WIB

48 Views ㅤ

Ilustrasi: Berdoa (ist)

PAGI adalah awal. Pagi adalah momentum. Ketika mata terbuka dan kesadaran kembali, seorang mukmin diberi kesempatan untuk menata niat, memperbarui komitmen, dan menegaskan identitasnya sebagai hamba Allah.

Di saat-saat itulah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan sebuah doa yang sarat makna, doa yang bukan sekadar permohonan, tetapi deklarasi iman yang menggema dari relung hati.

Doa itu dimulai dengan kalimat yang agung:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلَامِ، وَكَلِمَةِ الإِخْلَاصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

(Ashbahnaa ‘alaa fithratil Islaam, wa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam, wa ‘alaa millati abiinaa Ibrahiim, haniifan musliman wamaa kaana minal musyrikiin).

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

“Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, dan kalimat keikhlasan, dan di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di atas millah (agama) bapak kami Ibrahim, yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah), dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah.” (HR. Ahmad).

Mengurai Makna Doa  Pagi

Kalimat ini bukanlah rangkaian kata yang dibaca tanpa makna. Doa ini adalah pernyataan identitas yang menegaskan siapa diri kita, dari mana asal kita, dan ke mana arah hidup kita. Mari kita telaah satu per satu:

  1. “Fithratil Islam” (Fitrah Islam)

Kita menyatakan bahwa pagi ini, kita berdiri di atas fitrah Islam, agama yang sesuai dengan naluri murni manusia. Sesuai firman Allah yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30).

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Fitrah adalah kecenderungan asal manusia untuk mengenal dan menyembah Allah. Dengan membaca kalimat ini, kita seolah berkata: “Ya Allah, pagi ini aku kembali kepada fitrahku. Aku tinggalkan segala penyimpangan dan aku tegakkan diriku di atas agama yang Engkau ridhai.”

  1. “Kalimatil Ikhlas” (Kalimat Keikhlasan)

Kalimat ikhlas adalah syahadat, persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Ini adalah kalimat yang membedakan antara iman dan kekufuran, antara tauhid dan syirik.

Dengan menyebutnya di pagi hari, kita memperbarui ikrar tauhid kita, membersihkan niat dari segala bentuk kemusyrikan, dan menegaskan bahwa seluruh hidup kita hanya untuk Allah.

  1. “Diini Nabiyyina Muhammad” (Agama Nabi Muhammad)

Kita menyatakan komitmen untuk mengikuti agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan agama yang dibuat-buat, bukan ajaran yang menyimpang, tetapi Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Ini adalah bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah) yang menjadi syarat diterimanya amal.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

  1. “Millati Abiina Ibrahim” (Millah Nabi Ibrahim)

Kita juga menyatakan mengikuti millah Nabi Ibrahim, agama tauhid yang lurus, yang tidak dicampuri dengan kemusyrikan. Nabi Ibrahim adalah bapak para nabi dan teladan dalam ketauhidan. Dengan menyebut namanya, kita mengingat perjuangannya melawan berhala, keteguhannya di tengah ujian, dan kepasrahannya kepada Allah.

  1. “Haniifan Musliman” (Lurus dan Berserah Diri)

Kata “haniif” berarti condong kepada kebenaran, menjauhi kebatilan. Kata “muslim” berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Inilah dua sifat yang harus ada dalam diri seorang mukmin: komitmen pada kebenaran dan kepasrahan total kepada Allah.

  1. “Wa Maa Kaana Minal Musyrikiin” (Bukan Golongan Musyrikin)

Kalimat penutup ini adalah penegasan bahwa kita bukanlah bagian dari orang-orang yang menyekutukan Allah. Ini adalah benteng dari segala bentuk syirik, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Mengapa Doa Ini Begitu Penting?

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

  1. Memperbarui Iman Setiap Pagi

Iman bisa naik dan turun. Dengan membaca doa ini setiap pagi, kita memperbarui keimanan dan menegaskan kembali komitmen kita kepada Allah. Ini adalah vitamin rohani yang menjaga hati tetap hidup dan terjaga dari kelalaian.

  1. Menolak Segala Bentuk Syirik

Di zaman sekarang, syirik tidak selalu berbentuk menyembah berhala. Ia bisa berupa menggantungkan harapan kepada selain Allah, mempercayai ramalan, atau menjadikan harta dan jabatan sebagai tuhan. Doa ini adalah benteng yang melindungi kita dari segala bentuk kemusyrikan.

  1. Meneladani Para Nabi

Dengan menyebut Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, kita diajak untuk meneladani perjuangan mereka. Nabi Ibrahim rela dibakar demi mempertahankan tauhid. Nabi Muhammad menghadapi segala rintangan demi menyebarkan Islam. Kita pun harus memiliki semangat yang sama dalam menegakkan kebenaran.

  1. Memulai Hari dengan Kesadaran

Membaca doa ini di pagi hari membuat kita memulai aktivitas dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah hamba Allah. Setiap langkah, setiap perkataan, dan setiap perbuatan haruslah mencerminkan identitas kita sebagai Muslim.

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Penutup

Di tengah dunia yang terus berubah, di tengah arus informasi yang tiada henti, dan di tengah godaan yang datang dari segala penjuru, kita membutuhkan identitas yang kokoh. Identitas yang tidak bisa digoyahkan oleh badai, tidak bisa dibeli oleh harta, dan tidak bisa dilunturkan oleh waktu.

Doa “Ashbahna ‘ala fithratil Islam” adalah deklarasi identitas itu. Ia adalah pengakuan bahwa kita adalah Muslim, pengikut Nabi Muhammad, pewaris millah Nabi Ibrahim, dan bukan bagian dari orang-orang yang menyekutukan Allah.

Mari kita jadikan doa ini sebagai wirid harian kita. Baca dengan penuh penghayatan, resapi setiap maknanya, dan jadikan ia sebagai kompas yang menuntun langkah kita sepanjang hari.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Semoga Allah meneguhkan iman kita, menjaga fitrah kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Hikmah
Tausiyah
Hikmah