Riyadh, MINA – Arab Saudi menekan Amerika Serikat untuk membatalkan blokade yang diberlakukan di perairan internasional sebelum masuk Selat Hormuz dan kembali ke jalur negosiasi.
Tekanan ini muncul karena Riyadh khawatir langkah Washington justru akan memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Palestine Chronicle melaporkan, Selasa (14/4).
Menurut laporan The Wall Street Journal, (Selasa (14/4) para pejabat Saudi memperingatkan bahwa tekanan berkelanjutan terhadap Iran dapat memicu aksi balasan yang mengancam jalur maritim penting lainnya.
Saudi cemas kemungkinan Iran membalas dengan menargetkan Selat Bab al-Mandeb, jalur perairan sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan jalur pelayaran global.
Baca Juga: Sekutu Dekat Netanyahu Kalah, Hongaria Tinggalkan Era Orbán
Rute ini sangat vital bagi Arab Saudi, terutama setelah kerajaan memindahkan sebagian pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia melalui pipa menuju Laut Merah.
Jika Bab al-Mandeb terganggu, para pejabat Saudi memperingatkan bahwa ekspor minyak mereka akan terancam langsung. Dampak ekonomi dari konflik pun akan meluas secara signifikan.
Pengamat mengatakan, jika Iran ingin menutup Bab al-Mandeb, maka Houthi adalah mitra yang jelas untuk melakukannya.
Kelompok Houthi di Yaman merupakan sekutu Iran dan menguasai wilayah di sepanjang Selat Bab al-Mandeb. Mereka sebelumnya sudah menunjukkan kemampuannya mengganggu jalur pelayaran melalui serangan rudal dan drone.
Baca Juga: Pakistan Ajak AS dan Iran Gelar Putaran Kedua Negosiasi
Dalam pernyataan pada akhir Maret lalu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa perang yang terjadi tidak hanya menargetkan Iran, tetapi meluas ke seluruh negara Islam, termasuk Palestina, Gaza, Irak, dan Lebanon.
Saree juga menyatakan bahwa “tangan kami sudah di pemicu intervensi militer langsung” jika ambang batas tertentu dilewati. Ini adalah sinyal jelas bahwa Houthi siap bertindak jika blokade terus berlanjut.
Dampak Blokade
Selat Hormuz sendiri tetap menjadi pusat ketegangan. Sejak konflik dimulai, Iran secara efektif membatasi lalu lintas di selat dengan menargetkan kapal-kapal. Akibatnya, sekitar 13 juta barel per hari dalam ekspor minyak terputus.
Baca Juga: 1 Juta Warga Eropa Tandatangani Petisi Desak Uni Eropa Bekukan Perjanjian dengan Israel
Gangguan ini telah mendorong harga minyak melebihi 100 dolar AS per barel dan memicu kekhawatiran tentang ketidakstabilan jangka panjang di pasar energi global.
Gedung Putih mengatakan, Presiden Trump ingin Selat Hormuz terbuka penuh untuk memfasilitasi aliran energi bebas.
Belum ada tanggapan resmi dari Washington atas tekanan dari sekutu terdekatnya di Kawasan Teluk itu. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Israel Terus Nodai Masjid Al-Aqsa, ICJP Surati UNESCO Desak Perlindungan Situs Suci Muslim
















Mina Indonesia
Mina Arabic