Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsitektur Cinta itu Bernama Ibu

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Senin, 22 Desember 2025 - 21:06 WIB

Senin, 22 Desember 2025 - 21:06 WIB

7 Views ㅤ

Oleh Hilmy Wahdi, Psikolog, Penjaga Warung Kopi

IBU kita adalah sosok yang mengenal kita bahkan sebelum kita mengenal dunia. Sosok yang merasakan detak jantung kita pertama kali, yang tubuhnya menjadi rumah pertama kita selama sembilan bulan. Dialah ibu—perempuan yang kehadirannya tak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, sampai kapan pun.

Cinta ibu membentuk otak anak. Dengan otak itu, manusia bisa membuat karya, mengenal rasa dan membentuk peradaban.

Manusia dihargai karena karyanya, amalnya, prestasinya dan itu membutuhkan seperangkat system berpikir yang mumpuni. Otak Adalah tempat bersemayam sistem berpikir manusia.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

John Bowlby, Bapak Teori Kelekatan (Attachment Theory), menegaskan bahwa hubungan emosional antara anak dan ibu merupakan fondasi bagi seluruh perkembangan sosial dan psikologis anak. Bayi memiliki kebutuhan bawaan untuk mencari kedekatan dengan ibunya—dan kehangatan yang diterimanya akan menentukan bagaimana ia memandang dunia kelak.

Penelitian neurosains modern semakin memperkuat hal ini. Studi dari Fakultas Kedokteran University of Washington (2012), menemukan bahwa anak-anak yang mendapat dukungan emosional dari ibunya memiliki hippocampus—bagian otak yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran—yang lebih besar 10 % (sepuluh persen) dibandingkan anak yang tidak mendapatkannya. Artinya, pelukan hangat dan kata-kata lembut ibu bukan sekadar ungkapan kasih sayang, melainkan nutrisi yang membentuk arsitektur otak anak.

Erik Erikson, tokoh psikologi perkembangan, menyatakan bahwa tahun pertama kehidupan adalah kunci pembentukan kepercayaan dasar.

Ketika bayi menangis dan ibu datang menenangkannya, ketika bayi lapar dan ibu menyusuinya—semua momen sederhana ini sedang membangun fondasi kepercayaan yang akan dibawa anak sepanjang hidupnya.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Kawan, seperti yang kita ketahui bersama, jauh sebelum sains modern, Islam telah menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat tinggi.

Al-Quran menggambarkan pengorbanan ibu dengan begitu menyentuh dalam Surat Luqman ayat 14:

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

Wahnan ‘ala wahnin—kelemahan demi kelemahan. Setiap ibu yang pernah mengandung memahami makna ini: tubuh yang semakin berat, proses melahirkan yang mempertaruhkan jiwa, lalu menyusui siang dan malam selama dua tahun.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, dan Nabi menjawab, “Ibumu.” Ditanya lagi, “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Mengapa tiga kali? Imam Al-Qurthubi menjelaskan: karena ibu melewati tiga fase perjuangan yang tidak dialami ayah—kesulitan mengandung, kepayahan melahirkan, dan kepenatan menyusui.

Hadits lain yang diriwayatkan An-Nasa’i menyebutkan, ketika seorang sahabat meminta izin untuk berjihad, Nabi bertanya apakah ibunya masih hidup. Ketika dijawab ya, Nabi bersabda: “Berbaktilah kepada ibumu, karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Pengorbanan yang Tak Terbalas

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Rasulullah pernah bersabda bahwa seorang anak tidak akan mampu membalas kebaikan orang tuanya, kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya. Betapa tingginya standar ini—menunjukkan bahwa kita hidup dalam hutang cinta yang tak akan pernah lunas.

Kawan, bagi yang ibunya masih ada: peluk ia lebih erat, dengarkan ceritanya lebih sabar, dan jangan pernah biarkan ia merasa kesepian. Doa ibu adalah doa yang dikabulkan Allah—maka jadilah anak yang selalu didoakan kebaikan. Sudah banyak kisah Sejarah anak yang membahagiakan ibu nya menjadi orang yang sukses di dunia ini dalam berbagai level.

Bagi yang ibunya telah berpulang: lanjutkan bakti dengan mendoakannya dan menyedekahkan atas namanya.

Dan bagi para ibu yang kini sedang menjalani perannya—yang begadang menyusui, yang sabar menghadapi anak, yang lelah namun tetap tersenyum—ketahuilah bahwa setiap pengorbananmu dicatat sebagai amal kebaikan dan menjadi modal utama sang anak agar dapat berjuang mandiri menghadapi dunia ini dan akhirat yang kekal.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Ibu adalah bukti nyata bahwa cinta tanpa syarat itu ada.

Maka, jika Kawan Kawan  membaca tulisan ini dan ibu kita  masih ada, segera hubungi dia, katakan bahwa kita  mencintainya

Bagi yang ibunya sudah wafat, ucapkan dalam hati kita yang paling dalam doa yang paling indah bagi beliau……

Rinduku, rindu kita pada ibunda kita dimanapun beliau berada…….

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

(tak terasa air mat aini mengalir….)

Selamat Hari Ibu.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Kolom
Internasional
Tausiyah
Indonesia
Indonesia