Belakangan ini, pembicaraan tentang keibuan hampir selalu dimulai dari kelelahan. Tentang mental load, kurang tidur, beban pikiran yang tak pernah selesai, tekanan emosi, dan mahalnya biaya hidup bersama anak. Semua itu nyata dan layak diakui dengan jujur. Islam pun tidak pernah menutup mata terhadap kenyataan itu.
Namun, ketika keibuan hanya dibicarakan sebagai beban, ada bagian penting yang perlahan menghilang—bagian tentang makna, cinta, dan kebahagiaan yang tumbuh diam-diam di dalamnya.
Hari ini, keibuan sering dipandang sebagai risiko. Ancaman bagi kebebasan, karier, kestabilan finansial, bahkan ketenangan jiwa. Dalam sudut pandang ini, hidup tanpa anak terlihat lebih aman dan rasional, sementara menikah dan membangun keluarga terasa seperti undian emosional.
Perlahan, kenyamanan disalahartikan sebagai kebahagiaan. Harapan digeser oleh ketakutan.
Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga
Padahal, ketika kita hanya menghitung apa yang “hilang” dari seorang ibu, kita lupa bertanya: apa yang justru tumbuh? Apa yang lahir dalam hati, dalam jiwa, dalam cara seseorang memandang hidup setelah menjadi ibu?
Untuk menemukan jawabannya, kita perlu menengok ke tempat yang jauh dari ruang nyaman kita dan algoritma yang berbeda, ke tempat di mana hidup dijalani apa adanya.
Di Gaza, keibuan tidak pernah menjadi soal pilihan gaya hidup. Ia adalah cara bertahan hidup. Ibu menjadi simbol kekuatan, perlawanan, dan pertahanan agar suatu peradaban tetap eksis.
Di tengah perang, pengungsian, dan kehilangan, para ibu tetap mengasuh anak-anak mereka. Mereka melakukannya dengan rasa takut, dengan keterbatasan, dengan tubuh dan hati yang lelah, namun juga dengan cinta dan nilai-nilai yang tak tergantikan.
Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga
Ada Kawthar Hussein, seorang ibu yang tinggal di kamp pengungsian. Di tengah keterbatasan bahan dan ancaman bom, ia berusaha membuat kue Idulfitri sederhana untuk anak-anaknya. Bukan karena rasanya istimewa, tetapi karena ia ingin anak-anaknya tetap merasakan bahwa hari raya adalah hari yang layak dirayakan.
Ada pula Yasmine, yang setiap hari berjuang menyusui bayinya yang baru berusia empat bulan, meski makanan dan air bersih sangat terbatas. Di sana, menggendong bayi dan menenangkannya bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk perlawanan terhadap keputusasaan.
Para ibu ini tidak menutupi rasa takut. Mereka hanya memilih untuk tetap mengasuh dan menjadi ibu melalui rasa takut itu.
Dan dari sana muncul pertanyaan yang mengusik nurani: jika keibuan bisa dijalani di bawah dentuman bom, mengapa ia begitu ditakuti di tempat yang relatif aman?
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
Islam memberi jawaban yang sering luput dari perbincangan modern: keibuan bukan hanya tentang beban, tetapi tentang makna.
Allah ﷻ dengan jujur mengakui beratnya perjuangan seorang ibu:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqman [31]: 14)
Al-Qur’an tidak menutupi rasa sakit itu. Namun justru dari pengakuan inilah, Islam memuliakan ibu pada derajat yang sangat tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Ini bukan sekadar kalimat indah. Ini adalah pengakuan bahwa keibuan adalah jalan kemuliaan, kedekatan spiritual, dan kebahagiaan abadi.
Islam tidak menuntut ibu untuk selalu kuat. Islam hanya mengajarkan bahwa setiap lelah memiliki arti. Setiap peluh tidak sia-sia. Bahkan keletihan yang paling kecil pun diperhitungkan oleh Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
Kebahagiaan dalam keibuan sering kali hadir dengan sangat sederhana. Ia muncul saat seorang ibu memandangi anaknya tidur, saat doa terucap tanpa suara, atau ketenangan karena telah menunaikan amanah hari itu sebaik mungkin.
Kebahagiaan semacam ini jarang viral.
Kita lebih mudah mengeluh daripada merayakan hal-hal yang membahagiakan menjadi ibu. Frustrasi mudah dijelaskan; kebahagiaan bersifat halus dan sulit diukur. Karena itu, narasi publik cenderung berat sebelah, bukan karena keibuan miskin keindahan, tetapi karena keindahan selalu lebih senyap daripada luka.
berbagai riset menunjukkan bahwa meski pengasuhan penuh tekanan, kesejahteraan jangka panjang tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keterikatan, hubungan, dan tujuan hidup. Manusia bertumbuh ketika relasi diperdalam, bukan ketika tanggung jawab dihindari.
Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!
Keibuan memang melelahkan. Tapi ia juga memperluas hati manusia, mengajarkan cinta yang tidak egois.
Para ibu di Gaza mengingatkan kita bahwa keibuan tidak ditentukan oleh kondisi ideal. Ia lahir dari komitmen untuk merawat kehidupan, meski dunia terasa kejam.
Maka, percakapan kita tentang keibuan perlu kembali seimbang. Bukan menutupi luka, tetapi juga tidak menghapus harapan.
Keibuan bukan tentang hidup yang mudah. Sejak awal, ia adalah tentang tanggung jawab, keterikatan, dan keyakinan pada masa depan.
Baca Juga: Sebotol Parfum untuk Al-Aqsa
Di rumah yang sunyi maupun di tanah yang hancur karena perang, kehidupan terus berjalan karena ada yang memilih untuk peduli.
Dan mungkin, di sanalah makna hidup paling jujur ditemukan, bukan ketika segalanya nyaman, tetapi ketika seseorang memilih tetap mencintai.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Baca Juga: Siapa Bilang IRT Enggak Bisa Punya Penghasilan Sendiri? Ini Rahasia Financial Freedom dari Rumah!
















Mina Indonesia
Mina Arabic