Azab, Penyebab dan Cara Menanggulanginya (Oleh: Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابً۬ا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعً۬ا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍ‌ۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأَيَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ

Artinya, “Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya).” (QS. Al-An’aam [6] ayat 65)

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia dapat saja mendatangkan azab duniawi kepada umat manusia, khususnya umat Islam baik yang datang dari atas atau dari bawah kaki mereka atau azab berupa perpecahan dan benci-membenci di antara mereka.

Azab didefinisikan oleh para ulama sebagai siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari pelanggaran/kemaksiatan yang pernah atau sedang dilakukan terhadap larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Azab dari atas, misalnya turun hujan lebat terus-menerus yang mengakibatkan banjir, angin topan yang merusak segala sesuatu yang dilalui, hama dan virus penyakit yang beterbangan di udara membawa epidemi dan sebagainya.

Azab dari bawah, misalnya gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, merajalelanya kejahatan, seringnya kecelakaan, harga-harga yang membumbung tinggi sehingga melemahkan daya beli dan sebagainya.

Azab berupa perpecahan umat, misalnya karena pertarungan politik dan kekuasaan sehingga menimbulkan benci-membenci, yang menang menindas yang kalah dan yang kalah terus berusaha menjatuhkan yang menang sehingga kadang-kadang menimbulkan peperangan.

Penyebab Azab

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebab datangnya azab adalah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, antara lain:

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ۬ فَمِن نَّفۡسِكَ‌ۚ وَأَرۡسَلۡنَـٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً۬‌ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَہِيدً۬ا

Artinya, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisaa’ [4] ayat 79)

Jadi tidak mungkin Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan yang buruk, semua yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala asalnya baik. Apabila manusia ditimpa keburukan, maka itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu jangan menimpakan kesalahan kepada orang lain, tetapi selidikilah kekurngan yang ada pada diri sendiri.

Pada ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ۬

Artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura [42] ayat 30)

Ayat ini juga memberi peringatan bahwa apabila suatu malapetaka datang janganlah menyalahkan orang lain, menylahkan takdir, apalagi menyalahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal malapetaka yang menimpa adalah akibat kesalahan diri sendiri karena maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemaksiatan yang Mendatangkan Azab

1. Mendustakan Ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡہِم بَرَكَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا ڪَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7] 96)

2. Menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

تَڪَادُ ٱلسَّمَـٰوَٲتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا

أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَـٰنِ وَلَدً۬ا

Artinya, “Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam [19] ayat 90-91)

3. Menyalahi Perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦۤ أَن تُصِيبَہُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَہُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur [24] ayat 63)

4. Hilangnya Persaudaraan Antara Umat Islam.

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٌ۬ ڪَبِيرٌ۬

Artinya, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal [8] ayat 73)

Yang dimaksud “apa yang diperintah itu” adalah keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara umat Islam.

5. Merebaknya Kemaksiatan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, (yang kami terjemahkan secara bebas) sebagai berikut:

  • Harta beredar pada orang-orang tertentu.
  • Amanah sebagai sember keuntungan.
  • Zakat dijadikan utang.
  • Orang belajar bukan karena agama.
  • Suami tunduk kepada istri.
  • Anak durhaka kepada ibunya, menjauhkan diri dari bapaknya dan dekat dengan temannya.
  • Suara-suara ditinggikan di masjid.
  • Orang hina menjadi tokoh bangsa.
  • Orang dimuliakan karena kejahatannya.
  • Orang fasik menjadi pemimpin kabilah.
  • Biduanita dan musik telah merata.
  • Khamr diminum di setiap tempat.
  • Generasi akhir melaknat para sahabat.

Maka, ketika semua ini terjadi, tunggulah angin panas, gempa bumi, tanah longsor dan hujan batu.” (HR. Tirmidzi)

Inilah sebagian kemaksiatan yang mendatangkan azab. Oleh karena itu, apabila kita ingin selamat dari azab di atas maka kita harus menghindari maksiat.

Upaya Menghindari Maksiat

Ibnul Qayim Al Jauzi memberika sepuluh nasihat agar kita dapat menghindari maksiat:

  1. Menyadari betul betapa buruk dan rendahnya perbuatan maksiat.
  2. Merasa malu kepada Allah.
  3. Senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kita.
  4. Merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.
  5. Mencintai Allah.
  6. Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan kebaikannya.
  7. Memiliki kekuatan ilmu betapa buruknya dampak perbuatan maksiat dan akibat yang ditimbulkan.
  8. Memupus angan-angan yang tidak berguna.
  9. Mengokohkan iman dalam hati.

Semoga kita mampu melaksanakannya.

Wallahu A’lam bish shawwab. (A/RI-1/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)