Bekal Seorang Pendidik: Menjadi Inspirator dan Motivator (bag. 4)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Bekal yang keempat seorang pendidik antara lain adalah sebagai dan . Berikut penjabarannya.

Pertama, menjadi inspirator. Pendidik dan pengasuh mempunyai peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Pendidik dan pengasuh tidak saja dituntut harus memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan,pengalamannya dan memberikan teladan tetapi juga diharapkan mampu menginspirasi anak didiknya agar mereka mengembangkan potensi diri dan memiliki akhlak yang baik.

Menurut Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara agama dan susila, dan sistem pendidikan harus menghasilkan manusia yang dapat mengatur dirinya sendiri, manusia yang berdiri sendiri dalam merasa, berpikir dan bertindak, berkepribadian dan berkarakter.”

Oleh karena itu seorang pendidik dan pengasuh yang bertanggung jawab atas agama, akhlak, dan kemandirian bagi muridnya. Sebab itulah pendidik dan pengasuh harus dapat menginspirasi muridnya melalui pemahaman agama, akhlak mulia dan membangun misi kemandirian agar setiap murid bertekad untuk hidup dengan tidak menjadi beban orang lain, justeru memberi manfaat kepada orang lain.

Untuk membangun diri sebagai pendidik dan pengasuh yang menginspirasi setidaknya ada lima (5) hal yang harus diperhatikan.

a). Konsisten dan komitmen. Konsisten artinya senantiasa ajeg, istikomah dalam membimbing santri untuk senantiasa berbuat yang bermanfaat dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu. Berikuti ini kiat membangun konsistensi.

Mental block adalah segala alasan yang sering menjadi penyebab seseorang menunda-nunda pekerjaan yang akhirnya tidak dikerjakan atau dikerjakan tapi seadanya.

Distruction adalah segala pengganggu fokus seseorang dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas, misalnya HP dan game seringkali membuat orang terlena melakukan tugas dan pekerjaannya. Waktu terbuang percuma akibat ia menghabiskannya bersama sosial media dan bermain game.

Self control adalah melakukan kontrol diri pada setiap aktivitas yang memungkinkan pelibatan emosi, seperti ingin marah, cuek, membalas perbuatan jelek orang. Jika seseorang memiliki kontrol diri yang baik, insya Allah dia tidak akan terjebak pada perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Delay gratification adalah menunda kepuasan. Maksudnya? Jangan cepat puas atas capaian yang saat ini diraih. Karena orang yang cepat puas cendrung berhenti dari amal selanjutnya. Seperti firman Allah Ta’ala,

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Qs. Asy Syarh: 7)

Komitmen artinya suatu pengabdian atau perjanjian pada diri seseorang terhadap suatu hal dalam jangka waktu yang lama, senantiasa menjunjung tinggi aturan dan ketentuan dalam setiap aktivitas serta bertanggung jawab atas perbuatannya.

Komitmen bisa dicontohkan pada pernyataan berikut ini:

“Mulai saat ini saya mau menambah hafalan 2 halaman setiap hari”

“Mulai besok saya mau berhenti membuang-buang waktu untuk bermain sosmed yang tidak bermanfaat.”

“Mulai saat ini saya harus menulis 1 minimal satu artikel satu hari.”

Agar komitmen tetap terjaga dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dan pengasuh maka perlu melakukan beberapa hal ini seperti: pelihara rasa malu, perkuat komitmen, pekuat tekad dan merasa rugi jika meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, perjelas target.

b). Melayani dengan sepenuh hati. Menjadi pendidik dan pengasuh yang menginspirasi harus memiliki sifat dan sikap senang melayani. Karena hakikat dalam mendidik dan mengasuh adalah pengabdian dan menolong, sebagaimana dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara tadi. Karena itu pelayanan yang diberikan kepada santri harus optimal.

c). Mampu menjadi teladan. Lihatlah diri Rasulullah SAW, Nabi Ibrahim AS, Jenderal Sudirman, mereka semua adalah teladan bagi anak didiknya. Se orang pendidik dan pengasuh adalah teladan bagi santrinya, maka santri tidak akan mengikuti sosok lain yang mungkin saja akan merusak akhlaknya.

d) Luas wawasannya. Seorang pendidik dan pengasuh yang memiliki wawasan luas cenderung disukai oleh para santrinya. Karena dengan wawasan yang luas dapat memberikan gagasan, ide, jawaban, dan arahan yang dibutuhkan oleh para santri. Bukan sebaliknya, pendidik dan pengasuh yang minim wawasan atau bahkan berwawasan sempit, cenderung pasif dan tidak memberikan banyak inspirasis bagi persoalan yang dihadapi santri.

e) Kreatif dan inovatif. Setidap profesi apapun sangat memerlukan kreativitas, terlebih ia adalah seorang pendidik dan pengasuh. Untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi seorang pendidik, pengasauh atau siapa saja bisa melakukan hal antara lain: banyak membaca dan belajar, banyak mencoba dan melakukan, mencari inspirasi melalui kunjungan ke suatu tempat dan bertemu orang yang kreatif, lakukan semua pekerjaan dengan senang hati.

Kedua, menjadi motivator. Motivasi adalah daya penggerak seseorang melakukan suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan (Rabideu, 2006). Dengan adanya motivasi juga seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu yang ingin dicapainya.

Untuk menjadi seorang motivator bagi santri atau anak didik setidaknya para pendidik dan pengasuh berusaha untuk melakukan hal sebagai berikut.

1). Mengenal sosok santri lebih dekat. Untuk itu setiap pendidik dan pengasuh perlu menggali kekuatan, kekurangan, kesenangan, cita-cita, keadaan keluarga, dan kondisi fisik santri yang ingin dimotivasi.

2). Memahami prinsip AMBAK. Prinsip AMBAK yaitu Apa Manfaat BAgiku merupakan modal untuk memahamkan santri akan pentingnya sesuatu dilakukan jika memahami tujuan akhirnya. Karena setiap orang melakukan sesuatu tanpa memahami tujuan akhirnya, akan menyebabkan ketidakantusiasan dalam menjalaninya.

Karena itu pendidik dan pengasuh yang mencoba menjelaskan setiap kegiatan dengan latar belakang manfaatnya buat santri, akan membuat santri menjadi lebih sadar akan pentingnya kegiatan tersebu.

3). Menggiring santri untuk menyusun masa depan. Belajar itu salah satu tujuannya adalah untuk menyusun tangga masa depan. Tidak ada satu aktivitaspun yang tidak membutuhkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan sikap. Oleh karena itu santri perlu menyusun tangga masa depannya sendiri. Dimulai dari memilih cita-cita yang ingin dicapai. Sehingga seluruh aktivitas dapat dikaitkan dengan cita-citanya.

Karena itu pendidik dan pengasuh hendaknya mengarahkan agar para santri tidak memilih profesi yang subhat, dan cenderung banyak praktek dosa di dalamnya.

4). Mengajarkan santri untuk mengambil keputusan yang baik dalam hidup. Mengambil keputusan dalam hidup adalah suatu keterampilan yang perlu terus dipelajari.  Karena setiap keputusan yang diambil oleh seseorang akan memengaruhi langkah hidup selanjutnya.

Orang yang pintar secara akademik saja belum tentu sukses jika tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya. Ilmu dalam mengambil keputusan ini disebut ilmu decision making, ilmu ini dipelajari hingga program doctoral. Karena pentingnya ilmu dalam mengambil keputusan ini, maka setiap pendidik dan pengasuh hendaknya terus belajar tentang cara mengambil keputusan, hingga dapat menularkan kepada peserta didik atau santrinya. Semoga bermanfaat.(A/RS3/P1)

(Sumber: 6 Bekal Bagi Pendidik dan Pengasuh)

 

Mi’raj News Agecny (MINA)