DI ZAMAN yang serba cepat ini, banyak orang merasa hidupnya sempit. Padahal rumahnya cukup, makanannya ada, pekerjaannya jalan. Tetapi hati terasa kosong. Gelisah, galau, mudah cemas.
Anehnya, semakin banyak fasilitas, semakin banyak pula keluhan. Media sosial penuh perbandingan. Hidup orang lain terlihat lebih indah. Kita lupa melihat nikmat yang sudah Allah letakkan di tangan kita. Padahal kunci ketenangan bukan terletak pada banyaknya harta, tapi pada syukur di dalam dada.
Allah ta’ala telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an, “Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur (mengingkari nikmat), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Al-Qur’an, Surah Ibrahim:7)
Ayat ini bukan sekadar motivasi, tetapi janji Allah. Dan janji Allah pasti benar. Tambahan nikmat bukan hanya soal uang. Bisa jadi tambahan ketenangan, tambahan kesehatan, tambahan keberkahan waktu, tambahan anak yang shalih, tambahan solusi di saat sulit. Syukur adalah magnet nikmat.
Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan
Rasulullah Saw adalah teladan tertinggi dalam syukur. Padahal beliau manusia paling mulia, dosa-dosanya telah diampuni. Namun dalam hadits shahih riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi Saw shalat malam saja hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu padahal dosanya telah diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Inilah standar syukur. Bukan hanya ucapan “alhamdulillah”, tetapi ibadah yang meningkat. Syukur bukan sekadar kata, tapi sikap hidup. Syukur melahirkan ketaatan. Orang yang benar-benar bersyukur akan semakin dekat kepada Allah.
Imam Ibn al-Qayyim rh menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga rukun: pengakuan nikmat dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan menggunakannya dalam ketaatan. Jika nikmat dipakai untuk maksiat, itu bukan syukur, tapi penghinaan sekaligus pengkhianatan terhadap nikmat yang sudah Allah titipkan.
Coba kita lihat kehidupan akhir zaman ini. Banyak orang merasa hidup sulit. Padahal kesulitan terbesar sering kali bukan karena kurangnya nikmat, tetapi karena kurangnya rasa syukur. Hati yang tidak pandai bersyukur akan selalu merasa kurang. Gaji naik, tetap merasa sempit. Rumah besar, tetap merasa kurang. Jabatan tinggi, tetap merasa tidak puas. Karena masalahnya bukan pada dunia, tetapi pada hati yang lupa bersyukur.
Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan
Syukur: Rahasia Hidup Berkah dan Datangnya Pertolongan Allah
Syukur adalah rahasia keberkahan. Keberkahan bukan berarti banyak, tapi cukup dan menenangkan. Ada orang hartanya sedikit tapi hidupnya damai. Ada orang hartanya melimpah tapi hidupnya penuh konflik. Perbedaannya sering kali pada syukur.
Allah berfirman, “Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Surah Saba:13). Artinya, syukur itu langka. Maka jika kita ingin berbeda dari kebanyakan manusia yang mudah galau dan mudah mengeluh, jadilah bagian dari sedikit hamba yang bersyukur.
Imam Al-Hasan al-Basri rh pernah berkata, “Nikmat itu akan terus ada selama disyukuri. Jika tidak disyukuri, ia akan pergi.” Betapa banyak orang kehilangan nikmat bukan karena dicabut tiba-tiba, tetapi karena tidak dihargai.
Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan
Syukur juga menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Ketika hati bersyukur, kita mengakui bahwa semua berasal dari Allah. Hati menjadi tawadhu’, tidak sombong. Dan Allah mencintai hamba yang rendah hati.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
Perhatikan, kunci kebaikan dalam kondisi lapang adalah syukur. Artinya, tanpa syukur, nikmat justru bisa menjadi bumerang. Nikmat tanpa syukur melahirkan kesombongan. Nikmat tanpa syukur melahirkan lalai. Nikmat tanpa syukur bisa menjadi sebab kehancuran.
Syukur juga mengusir galau. Orang yang terbiasa menghitung nikmat akan jarang menghitung kekurangan. Setiap pagi ia sadar masih bisa bernafas. Masih bisa sujud. Masih punya keluarga. Masih diberi kesempatan taubat. Hatinya penuh harap, bukan penuh keluh.
Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa
Sebaliknya, orang yang kurang syukur akan mudah terjerat stres. Ia fokus pada apa yang belum dimiliki. Ia melihat hidup orang lain, bukan melihat nikmat yang Allah berikan kepadanya. Akhirnya hidup terasa berat. Padahal beban itu sering kali lahir dari cara pandang yang salah.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa syukur menjaga nikmat yang ada dan menarik nikmat yang belum ada. Ia seperti pagar sekaligus magnet. Pagar agar nikmat tidak hilang. Magnet agar nikmat baru datang.
Lihatlah kisah para sahabat. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Namun hati mereka kaya. Mereka tidak sibuk mengeluh. Mereka sibuk bersyukur dan beramal. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Kami diuji dengan kesempitan, lalu kami bersabar. Dan kami diuji dengan kelapangan, maka kami bersyukur. Dan ujian kelapangan itu lebih berat.” Ini menunjukkan bahwa syukur dalam lapang lebih sulit daripada sabar dalam sempit.
Maka jangan heran jika banyak orang hancur justru ketika sukses. Karena sukses tanpa syukur akan berubah menjadi kesombongan. Dan kesombongan adalah awal kejatuhan.
Baca Juga: Tatacara Shalat Gerhana
Bagaimana cara belajar menjadi hamba yang bersyukur?
Pertama, latih diri melihat nikmat kecil. Bangun pagi dan ucapkan doa dengan sadar. Sadari bahwa bangun tidur itu nikmat. Kedua, biasakan menyebut nikmat Allah dalam doa. Ketiga, gunakan nikmat untuk taat. Jika punya harta, gunakan untuk sedekah. Jika punya ilmu, gunakan untuk mengajar. Jika punya jabatan, gunakan untuk menolong.
Syukur juga erat dengan dzikir. Semakin banyak kita mengingat Allah, semakin kita sadar bahwa semua berasal dari-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah:152, “Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.”
Akhir zaman ini penuh ujian. Fitnah harta, fitnah syahwat, fitnah perbandingan sosial. Jika hati tidak dilatih bersyukur, ia akan mudah rapuh. Tetapi jika syukur tumbuh, hidup akan terasa ringan meski ujian datang.
Baca Juga: Gerhana Bulan, Sebuah Tanda Kebesaran Allah
Syukur bukan berarti tidak boleh berusaha lebih baik. Syukur bukan pasrah tanpa ikhtiar. Justru syukur melahirkan semangat. Karena kita sadar bahwa setiap nikmat adalah amanah. Kita ingin menjaganya dan meningkatkannya dalam ketaatan.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Mungkin banyak masalah yang kita hadapi bukan karena Allah tidak sayang, tetapi karena kita kurang bersyukur. Kita sibuk meminta tambahan, tapi lupa berterima kasih. Kita ingin perubahan, tapi lupa memuji Sang Pemberi Nikmat.
Hari ini, sebelum tidur, cobalah tulis lima nikmat yang Allah berikan. Rasakan. Renungkan. Ucapkan alhamdulillah dengan hati. Lakukan setiap hari. Perlahan hati akan berubah. Kegalauan berkurang. Kecemasan mereda. Hidup terasa lebih lapang.
Karena pada akhirnya, rahasia hidup berkah bukan pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita bersyukur. Syukur adalah jalan menuju ketenangan. Syukur adalah pintu pertolongan Allah. Syukur adalah tanda hati yang hidup.
Baca Juga: Boleh Nadzar Shalat Di Baitul Maqdis, Hadits Keenam 40 Hadits Tentang Al-Aqsa
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, bukan hanya ketika senang, tetapi juga ketika diuji. Karena siapa yang belajar bersyukur, ia sedang belajar menjadi dekat dengan Allah. Dan siapa yang dekat dengan Allah, tidak akan pernah benar-benar merasa sempit hidupnya, wallahu’alam.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Jangan Biarkan Nafsu Memimpin Hidupmu
















Mina Indonesia
Mina Arabic