Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum Merdeka, Ini Ciri-Ciri Manusia yang Diperbudak Dunia

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:05 WIB

41 Views ㅤ

Gambaran cinta dunia (foto: dok MINA)

KEMERDEKAAN selalu dirayakan dengan mengibarkan bendera, mengenang perjuangan para pahlawan, dan mensyukuri terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Namun, ada satu bentuk kemerdekaan yang jauh lebih dekat dengan diri kita: kemerdekaan hati.

Sebab seseorang bisa saja hidup dalam keadaan bebas, memiliki pekerjaan, rumah, kendaraan, harta dan kedudukan, tetapi tetap merasa gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya tenang, hatinya lapang dan langkahnya penuh optimisme.

Di situlah kita belajar bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang siapa yang mengendalikan hati kita.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia. Harta, keluarga, pekerjaan, jabatan, ilmu dan berbagai kenikmatan adalah karunia Allah yang boleh dinikmati. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai karunia itu berubah menjadi sesuatu yang menguasai hati.

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Al-Qur’an mengingatkan:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat ini bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan dunia, melainkan mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh sifatnya yang sementara. Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Allah Ta’ala.

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Allah juga berfirman:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا ۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering, kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20).

Gambaran tersebut justru mengajarkan kepada kita sebuah sikap penting: nikmati kehidupan, tetapi jangan kehilangan arah.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Manusia tidak perlu merasa bersalah karena ingin sukses. Tidak ada yang salah dengan memiliki rumah yang baik, pekerjaan yang layak, penghasilan yang cukup, jabatan yang membawa manfaat, ataupun kehidupan keluarga yang bahagia.

Yang perlu ditanyakan adalah: untuk apa semua itu?

Jika harta membuat kita semakin mudah berbagi, ia menjadi sarana kebaikan. Jika jabatan membuat kita semakin banyak melayani, ia menjadi amanah. Jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, ia menjadi cahaya. Bahkan kenikmatan dunia dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat ketika digunakan dengan benar.

Karena itu, tanda seseorang tidak diperbudak dunia bukanlah sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan kemerdekaan hatinya ketika memiliki harta.

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Ia bekerja keras, tetapi tidak kehilangan waktu untuk Allah. Ia mengejar kesuksesan, tetapi tidak mengorbankan kejujuran. Ia memiliki cita-cita besar, tetapi tetap mampu bersyukur ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Inilah semangat yang dapat kita temukan dalam nasihat Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Umar:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Al-Bukhari).

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Seorang musafir bukan berarti tidak menikmati perjalanan. Ia justru dapat menikmati pemandangan, bertemu orang-orang baik dan merasakan berbagai pengalaman. Namun, ia tidak lupa bahwa dirinya memiliki tujuan.

Demikian pula seorang Muslim dalam menjalani kehidupan. Dunia adalah perjalanan, bukan tempat yang membuat lalai dan kehilangan tujuan.

Belajar dari Imam Al-Ghazali

Imam Abu Hamid Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang banyak membahas hubungan manusia dengan dunia, hati dan kebahagiaan. Dalam karya monumentalnya, Ihya’ ‘Ulumid Din, ia banyak mengingatkan tentang penyakit hati, cinta dunia, keikhlasan, kesabaran, syukur dan bagaimana manusia menata kehidupannya agar tidak terjebak pada kesenangan yang melalaikan.

Dalam Kimiya’ al-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan), Al-Ghazali juga menempatkan kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada keberhasilan manusia mengenal dirinya, mengenal Tuhannya dan mengarahkan kehidupan kepada tujuan yang lebih tinggi.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Pemikiran Al-Ghazali memberikan pelajaran penting: persoalannya bukan apakah kita memiliki dunia, tetapi apakah dunia membantu kita mendekat kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya.

Karena itu, zuhud tidak harus dipahami sebagai meninggalkan dunia. Zuhud lebih tepat dipahami sebagai kemampuan hati untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi.

Memerdekakan Hati

Lalu bagaimana caranya?

Pertama, tetapkan tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar materi. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan jalan memberi manfaat.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Kedua, belajar bersyukur. Syukur membuat manusia mampu menikmati apa yang dimiliki tanpa terus-menerus diperbudak oleh apa yang belum dimiliki.

Ketiga, latih qanaah tanpa kehilangan semangat berikhtiar. Qanaah bukan berarti berhenti bermimpi. Qanaah adalah menerima pemberian Allah dengan lapang sambil tetap berusaha memperbaiki kehidupan.

Keempat, jadikan akhirat sebagai kompas, bukan sebagai sumber ketakutan. Kesadaran tentang akhirat seharusnya membuat kita lebih jujur, lebih optimistis, lebih sabar dan lebih bersemangat berbuat baik.

Pada akhirnya, manusia yang merdeka bukanlah manusia yang tidak memiliki dunia. Ia adalah manusia yang mampu memiliki dunia tanpa kehilangan dirinya.

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Ia boleh mengejar harta, tetapi tidak kehilangan kemurahan hati. Ia boleh meraih jabatan, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati. Ia boleh menikmati keindahan hidup, tetapi tidak kehilangan rasa syukur.

Sebab kehidupan ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dunia adalah ladang tempat kita menanam kebaikan, bekerja, mencintai, belajar, berkarya dan memberi manfaat.

Maka, merdekakanlah hati, bukan dengan meninggalkan dunia, tetapi dengan menempatkan dunia pada tempatnya: yaitu di tangan, sebagai amanah, di pikiran sebagai sarana, dan tidak menjadikannya menjadi penguasa hati.

Barangkali itulah kemerdekaan yang paling indah: ketika kita mampu melangkah mengejar masa depan dengan penuh optimisme, menikmati karunia Allah dengan penuh syukur, dan tetap tahu ke mana hati harus kembali. []

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah
Tausiyah
Artikel
Sosok