Bimo Sasongko: Indonesia Perlu Tingkatkan SDM Unggul Melalui Pendidikan

Tim wartawan MINA berkesempatan menggelar wawancara khusus secara virtual bersama President Director dan CEO sekaligus Founder dari Euro Management, Bimo Sasongko, Jumat (25/9).

Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) itu mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, penduduknya banyak, tapi masih rendah dalam sistem dan kualitas pendidikannya.

Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Jerman (IAJ), Indonesia sebagai bangsa yang besar, bangsa beradab, harus didorong mempunyai SDM yang unggul.

Euro Management merupakan pelopor Konsultan Pendidikan Internasional di Indonesia sejak tahun 2003 dan telah memberangkatkan hampir 4.000 mahasiswa Indonesia kuliah di berbagai negara maju di dunia. Saat ini Euro Management melayani jasa konsultasi untuk 29 negara tujuan belajar.

Selain itu, Bimo Sasongko juga menjabat sebagai Ketua Alumni Program Habibie (IABIE). Beasiswa Habibie pertama kali dilangsungkan di era Menteri Riset dan Teknologi B.J Habibie atau tepatnya 30 tahun lalu, kemudian mandek di 1998. Program Beasiswa Habibie ini khusus untuk jurusan Sains dan Teknologi di luar negeri. Tercatat hampir empat ribu siswa telah diberangkatkan ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga Belanda.

Berikut petikan wawancaranya:

MINA: Begitu banyak kekhawatiran terhadap dampak yang ditimbulkan pandemi corona terhadap dunia pendidikan. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Bimo: Tentunya semua sektor pasti mengalami dampak besar akibat pandemi ini, tidak hanya masalah pendidikan saja, semua serba kaget. Termasuk anak-anak muda kita yang akan sekolah ke luar negeri semua pada berhenti. Namun seiring berjalannya waktu, pemerintah mulai antisipasi, Covid-19 semoga mulai mereda, mulai ada isu vaksin berjalan. Sehingga kelihatannya tren pendidikan utamanya kuliah ke luar negeri akan kembali lagi bergaung, karena pada dasarnya penerimaan siswa di luar negeri tetap berjalan, tidak berubah.

Kita tetap bisa mengajukan aplikasi pendaftaran mahasiswa baru, bisa melakukan persiapan bahasa, masih tetap dibuka, kedutaan besar asing di sini (Jakarta) juga masih dibuka, jadi tidak ada masalah. Cuma memang adanya kekhawatiran dari pihak orangtua yang masih hati-hati dan masih berhitung, menunggu kondisi sudah kondusif.

Tapi memang tren pendidikan (luar negeri) sekarang berkurang drastis, bisa sampai 80% yang biasanya kita kirim setahun 100 orang sekarang hanya 10-15 orang. Karena umumnya pada mundur semua, diundur jadwalnya. Sejak Agustus ini proses sudah kembali berjalan, karena di negara-negara barat semua sudah bisa menerima, bahkan lebih mudah, simpel, via online, visa lebih cepat, jadi hikmahnya semua jadi serba lebih cepat, tes penerimaan calon mahasiswa baru bisa melalui online, dan sebagainya. Universitas di negara-negara barat juga mengantisipasi dengan cepat, sehingga proses belajar sudah bisa dimulai baik online ataupun tatap muka tetapi tetap menggunkan protokol kesehatan.

MINA: Kebanyakan orang-orang di Indonesia mengatakan Finlandia memiliki sistem pendidikan terbaik. Apa Anda setuju atau adakah negara lain yang bisa kita contoh?

Bimo: Soal Finlandia sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik, (menurut saya) tidak juga. Menurut saya setiap negara memiliki kelebihan masing-masing, mungkin Finlandia bagus dari segi kedisiplinannya pada penerapan sistem belajar mengajar. Tapi sistem pendidikan di Indonesia perlu diadaptasikan dari berbagai negara. Mungkin negara Amerika Serikat juga bagus dari segi cara berpikir, cara berpendapat. Jepang juga bagus, Jerman juga dari kedisiplinannya, begitu pun negara-negara mayoritas Muslim juga sama. Jadi saya pikir tidak ada yang tidak bagus, semua negara memiliki kelebihan dan kekurangannya.

MINA: Skor membaca kita di PISA salah satu yang terendah. Lalu apa yang salah? Apa yang harus kita ubah?

Bimo: Rangking membaca Indonesia memang kurang dari segi membaca, apalagi menulis. Kita ini adalah bangsa penonton, apalagi dengan sosial media yang membanjiri Tanah Air. Seperti TV yang ada di mana-mana, mungkin zaman saya dulu itu masih terbatas untuk menonton sehingga yang kami lakukan lebih banyak membaca buku tapi tidak menulis juga.

Jadi kelebihan untuk sekolah ke luar negeri memang untuk berlatih banyak membaca dan banyak menulis. Mengungkapkan pendapat. Nah, untuk itulah saya pikir sistem pendidikan di Indonesia harus segera dirubah, kementerian pendidikan harus terus menggaungkan pentingnya murid dari tingkat SD, SMP, SMA, untuk diberikan tugas-tugas membaca sebanyak mungkin. Karena kekurangan kita adalah tidak pernah diperintah untuk membaca.

Di Amerika Serikat setiap pekan kita ada tugas, yaitu baca halaman sekian sampai sekian, setiap mata pelajaran bisa 10-15 halaman per mata pelajaran per pekan. Bayangkan jika kita mengambil lima mata pelajaran, jadi kita membaca hampir 50 halaman buku. Untuk itu, memang dukungan pengajar, guru-guru, orangtua harus dilakukan.

Nah, kedua juga menulis, menulis sangat penting. Kelemahan kita adalah menulis dan ini memang lebih berat daripada membaca. Bagaimana menulis yang baik dan benar, bagaimana mengungkapkan pendapat dan sebagainya, itu harus tugas pemerintah agar sedini mungkin anak-anak muda Indonesia sejak sekolah dasar dilatih untuk membaca dan menulis sebanyak mungkin.

MINA: Bagi siswa/mahasiswa yang sudah lulus dan ingin melanjutkan studi ke luar negeri juga terhambat di tengah corona ini. Tentu akan menyebabkan kekecewaan dan pengaruh terhadap kelanjutan studi. Apa yang sudah dipersiapkan Euro Management?

Bimo: Antisipasi, kita tetap eksis, melakukan banyak kegiatan melalui online, daring, secara virtual. Baik itu pelatihan bahasa, konsultasi jurusan, workshop budaya, dan program lainnya. Terus bekerja dengan sistem online, karena itu jadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan saat ini. Apabila jika membutuhkan kehadiran fisik ya kita akan hadir namun dengan menggunakan protokol kesehatan yang sangat ketat. Seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, dan sebagainya.

Kami juga menggunakan sosial media untuk mempromosikan informasi studi ke luar negeri melalui Instagram, Youtube, dan lain-lain.

MINA: Peluang beasiswa apa saja yang dapat diakses siswa atau mahasiswa saat ini?

Bimo: Ada Program beasiswa yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia melalui LPDP, Kementerian Keuangan Republik Indonesia dalam rangka pembiayaan pendidikan di dalam negeri atau luar negeri. Beasiswa dengan seleksi ketat. Lalu Tidak ada program beasiswa untuk tamatan SMA, untuk yang mau S1 ke luar negeri biasanya dengan biaya sendiri. Namun untuk S2 dan S3 banyak sekali program beasiswa namun dengan seleksi yang ketat.

MINA: Bagaimana mencetak cendikiawan muslim di zaman modern? Program apa yang dapat dilakukan?

Bimo: Suatu bangsa akan dihargai, dihormati, bahkan ditakuti bangsa-bangsa lain tentu saja bukan dari keindahan alamnya atau keramahtamahannya, tapi justru dari banyaknya orang-orang pintar, berkualitas, cerdas, terutama yang menguasai Sains dan teknologi. Nah Indonesia negara yang mayoritas penduduknya muslim ini.

Kita memiliki sumber daya alam yang besar, penduduknya banyak, tapi kualitas pendidikannya masih kurang. Sangat rendah kualitas pendidikannya. Satu-satunya cara adalah bangsa kita harus menguasai Sains dan Teknologi. Program-program pengiriman ke luar negeri harus dijalankan, harus digaungkan oleh pemerintah pusat, daerah, perusahaan Bumn, Bumd, Pemda bahkan yayasan, organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, itu harus punya program pengiriman mahasiswa ke luar negeri, karena pusat-pusat ilmu pengetahuan sekarang adanya di luar negeri, bukan di Indonesia.
Untuk itu pentingnya umat muslim yang mayoritas ini mempergunakan kesempatan ini. Tanpa itu maka bangsa kita akan diremehkan dengan bangsa lain, dianggap sebelah mata, bahkan tidak dianggap sama sekali. Yang pada ujungnya nanti kita sakit hati, ditipu, dijadikan objek, pasar. Kita seharusnya bangsa besar, bangsa beradab, harus didorong mempunyai SDM yang unggul.

Jadi penting bagi cendikiawan muslim untuk setinggi-tingginya meraih cita-cita menjadi ilmuwan, harus menguasai Sains dan teknologi.

MINA: Apa pesan-pesan anda bagi generasi muda milennial muslim?

Bimo: Tentu menindaklanjuti pernyataan sebelumnya. Menjadi bangsa yang mandiri, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan menjadi bangsa kuli, bukan bangsa pembeli, kita harus menjadi bangsa penjual, memproduksi sesuatu. Caranya saya mengharapkan sebanyak-banyaknya anak muda Indonesia harus bercita-cita setinggi-tingginya untuk belajar setinggi-tingginya, apapun ilmunya yang bermanfaat.
Prioritas mampu menguasai sains dan teknologi, seperti ilmu pesawat, robot, IT, elektronik, kapal laut, sipil, konstraksi, itu yang harus anak-anak muda kuasai. Kembali ke prioritas. Itu yang dilakukan Malaysia, Vietnam, China, dan Korea Selatan.

Saya mendorong anak-anak muda kita mempunyai cita-cita yang tinggi, jangan hanya ingin cepat kaya, cepat terkenal, jangan. Jangan ingin kaya tapi tidak bekerja, ingin pinter tapi tidak sekolah.

Saya mendorong, harus kerja keras, tekun, dan belajar setinggi-tingginya. Jangan cepat puas atau lelah untuk belajar. Kalo bisa S1 S2 S3, sebanyak-banyaknya. Ribuan bahkan jutaan generasi muda Indonesia kuliah ke luar negeri, dan setelah itu kembali ke Indonesia agar menjadi bangsa yang besar. Pemerintah pun harus mendukung program ini, melalui pemberian beasiswa.

Dari pemerintah pusat, daerah, gubernur, kepala daerah menyisihkan APBN, APBD untuk meningkatkan kualitas SDM kita, karena ini akan menjadi investasi yang tidak akan hilang. Dibanding dananya untuk membangun infrastuktur fisik seperti taman, gedung, jalan, bangunan, yang pentong juga pembangunan SDM-nya.

Tujuan kita untuk membuat bangsa ini maju dengan membangun SDM unggul, berwawasan globl, setelah mereka menguasai ilmu pengetahuan, pengalaman kerja yang banyak, mereka bisa kembali membangun Indonesia. Tujuan akhir kita. Harus siap dengan kondisi apapun. Generasi muda Indonesia tidak boleh lemah, tidak boleh puas diri. Bahwa ternyata mencari ilmu itu tidak hanya di Indonesia, masih banyak pusat-pusat ilmu pengetahuan yang harus dikejar. Jangan puas hanya kuliah di Indonesia. (W/R11/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)