Jakarta, MINA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat langkah mitigasi menghadapi dampak El Niño kuat yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027. Fenomena tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya memperluas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya mengoptimalkan potensi hujan dan mengurangi dampak bencana hidrometeorologi.
“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” ujar Faisal di Jakarta, Kamis (30/7).
BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, dengan sebagian wilayah mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, indeks Niño 3.4 telah mencapai 1,56 yang menunjukkan El Niño berada pada kategori kuat. Namun, dampak utama fenomena tersebut akan terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau.
Sementara itu, BMKG juga terus menjalankan OMC di sejumlah wilayah rawan, termasuk Sumatra Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah. Upaya tersebut dilakukan bersama pemerintah dan lembaga terkait untuk mencegah meluasnya karhutla serta menjaga ketersediaan air.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau dan terus mengikuti informasi resmi BMKG. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
















Mina Indonesia
Mina Arabic