Di Jalur Gaza, harapan warga terus diuji oleh perang dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Setiap pagi dimulai dengan perjuangan mencari air, roti, dan rasa aman di tengah reruntuhan bangunan akibat genosida Israel. Namun pada Selasa 10 Februari siang, di antara debu dan puing-puing Kota Gaza, sebuah pemandangan langka kembali hadir: sepak bola kembali menggelinding. Turnamen sepak bola terorganisir pertama setelah lebih dari dua tahun menjadi hiburan jiwa sekaligus penanda bahwa Gaza masih hidup dan berjuang menjaga harapan
Lapangan Palestina di Distrik Tal Al-Hawa bukan lagi hamparan hijau. Ia dikepung puing, tembok patah, dan kawat berkarat. Tapi justru di sanalah sepak bola kembali menemukan maknanya.
Turnamen lima lawan lima, yang pertama setelah lebih dari dua tahun genosida, digelar. Jabalia Youth berhadapan dengan Al-Sadaqa. Beit Hanoun melawan Al-Shujaiya. Skor berakhir imbang, tetapi Gaza tidak sedang menghitung angka.
Anak-anak memanjat dinding beton yang nyaris roboh, mengintip dari lubang reruntuhan. Sorak-sorai mengguncang pagar. Seorang lelaki memukul drum, menghidupkan ritme yang lama terpendam. Di lapangan setengah ukuran itu, sepak bola menjelma menjadi bahasa kegembiraan yang tersisa.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tampil Buruk, IBK Altos Tekuk Hyundai Hillstate 3-0
“Perasaannya campur aduk,” kata Youssef Jendiya, 21 tahun. Bingung, senang, sedih, semuanya menyatu. Pagi hari ia mencari air dan makanan. Hidup terasa berat. Tapi ada sepotong waktu dalam sehari untuk berlari dan melupakan luka, meski hanya sebentar.
Namun kegembiraan itu tak pernah utuh. Banyak rekan setim tak kembali ke lapangan. Ada yang gugur, ada yang terluka, ada yang pergi mencari pengobatan. Setiap sentuhan bola membawa ingatan, setiap sorak menyimpan kehilangan.
Empat bulan pascagencatan senjata, Gaza nyaris tak berubah. Dua pertiga wilayah dikosongkan. Lebih dari dua juta jiwa bertahan di tenda-tenda darurat. Stadion Yarmouk, yang dulu menampung ribuan penonton, kini menjadi lautan tenda putih, saksi bisu betapa olahraga pun pernah direnggut dari kehidupan.
Dengan membersihkan puing, memasang pagar, dan menyapu sisa kehancuran, sepak bola kembali diberi ruang.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 2-6, Tuan Rumah Dibantai
“Apa pun yang terjadi, kami terus bermain dan terus hidup,” ujar Amjad Abu Awda.
Di Gaza, bola bukan sekadar permainan. Ia adalah napas terakhir yang dijaga agar harapan tak benar-benar mati. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 1-3 pada Babak Pertama, Joao Felix Brace
















Mina Indonesia
Mina Arabic