Jakarta, MINA – Duta Besar Negara Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah AK Al-Sattari, menegaskan bahwa generasi Palestina terus mewariskan keilmuan geografis dan sejarah perjuangan kepada generasi berikutnya secara berkesinambungan.
Narasi perlawanan terus digulirkan agar generasi muda tidak pernah melupakan sejarah panjang perjuangan bangsa Palestina.
Hal itu disampaikan Dubes Abdulfattah dalam sambutannya pada Seminar Refleksi Nakbah yang berlangsung di Aula HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Ahad (17/5).
Dubes Abdulfattah menjelaskan bahwa masyarakat Palestina mengajarkan sejarah Nakbah (bencana pengusiran massal 1948) di berbagai lini kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga, madrasah, masjid, hingga kampus-kampus dan berbagai kegiatan masyarakat.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Proses pendidikan yang berkelanjutan ini melahirkan generasi yang kuat dalam iman, kokoh dalam keyakinan, dan memiliki literasi tinggi tentang Masjid Al-Aqsha.
“Orang-orang Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat, semuanya jauh lebih kuat dibandingkan para penjajah,” ujarnya dengan tegas.
Dubes Abdulfattah menggambarkan bahwa para penjajah sejatinya adalah bangsa yang penakut. Dengan persenjataan lengkap, mereka menyerang di malam hari, mencuri kendaraan, menebang pohon, dan melakukan berbagai tindakan terror, berharap rakyat Palestina akan pergi meninggalkan tanah air mereka.
Namun kenyataannya berkata lain. “Para pejuang dan rakyat Palestina tetap bertahan. Justru yang akan meninggalkan tanah Palestina adalah penjajah itu sendiri, cepat atau lambat, meskipun mereka didukung oleh kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya,” lanjutnya.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Yakin Pertolongan Allah
Dubes Abdulfattah mengakui bahwa para penjajah memang memiliki dukungan kuat dari Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya. Namun, rakyat Palestina memiliki keyakinan yang jauh lebih kuat.
“Mereka boleh punya dukungan kuat dari Amerika dan lainnya. Tapi kami lebih yakin lagi karena mendapat dukungan dan pertolongan Allah,” tegasnya, dengan merujuk pada firman Allah dalam Surat Al-Isra yang berbicara tentang perjalanan Isra Mi’raj dan kemenangan orang-orang beriman.
Dubes Abdulfattah juga mengungkapkan bahwa peringatan Nakbah saat ini tidak hanya berlangsung di Palestina, tetapi juga digelar di negara-negara besar Eropa bahkan di Amerika Serikat sendiri. Ia mencatat bahwa semakin banyak negara yang secara resmi mengakui hak-hak Palestina.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
“Ketika penjajahan semakin menindas warga terjajah, justru mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri,” imbuhnya dengan penuh keyakinan.
Optimisme Shalat Berjamaah di Al-Aqsa
Dengan nada optimis, Dubes Abdulfattah menyampaikan keyakinannya bahwa kelak pada saatnya, umat Islam, termasuk dari Indonesia, akan melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Al-Aqsa lebih cepat dari perkiraan para penjajah. Ia mengajak seluruh peserta seminar untuk terus memperkuat solidaritas dan dukungan bagi perjuangan Palestina.
Seminar Refleksi Nakbah yang diselenggarakanm oleh Aqsa Working Group (AWG) tersebut dijadwalkan hadir sebagai narasumber, antara lain: Imaam Yakhsyallah Mansur (Pembina Utama AWG), Prof. Yon Machmudi (Akademisi dan Pengamat Politik Timur Tengah dari UI), Prof. Suzie Sri Suparin Sudarman (Pakar Hubungan Internasional), Dr. Nasruddin Djoko Surjono (Kepala Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta) dan Wanda Hamidah (Aktivis), dan Ahrul Tsani Fathurrahman (Pejabat Kementerian Luar Negeri RI).
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
Seminar ini menjadi ruang diskusi yang penting untuk merefleksikan tragedi Nakbah yang telah berlangsung 78 tahun, serta memperkuat komitmen bersama dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsha. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, Abu Vulkanik Bergerak ke Barat Laut
















Mina Indonesia
Mina Arabic