Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Filipina Kurangi Jam Kerja Jadi 4 Hari Sepekan Imbas Krisis Energi Global

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:12 WIB

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:12 WIB

29 Views ㅤ

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr (Foto: UN)

Manila, MINA – Pemerintah Filipina akan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan di sejumlah kantor pemerintahan mulai pekan depan sebagai langkah darurat menghadapi dampak krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Kebijakan tersebut diumumkan Presiden Ferdinand Marcos Jr. sebagai bagian dari upaya penghematan energi dan pengurangan penggunaan bahan bakar. Media pemerintah Filipina PNA melaporkan, Sabtu (7/3).

Dalam kebijakan tersebut, beberapa kantor di bawah cabang eksekutif akan menjalankan pola kerja empat hari mulai Senin (9/3). Sistem ini diterapkan secara sementara dengan pengaturan jam kerja yang lebih panjang atau skema kerja fleksibel guna memastikan layanan publik tetap berjalan.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa lembaga yang memberikan layanan darurat dan pelayanan publik penting tidak akan mengikuti kebijakan tersebut. Instansi seperti kepolisian, pemadam kebakaran, serta unit pelayanan garis depan tetap beroperasi dengan jadwal normal demi menjaga kelangsungan layanan kepada masyarakat.

Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme

Selain mengurangi hari kerja, pemerintah Filipina juga membatasi perjalanan dinas yang tidak mendesak serta kegiatan seperti studi banding, pertemuan tatap muka, dan kegiatan internal yang sebenarnya dapat dilakukan secara daring. Langkah ini dilakukan untuk menekan konsumsi energi di sektor transportasi maupun penggunaan listrik di gedung-gedung pemerintah.

Para analis menilai kebijakan tersebut merupakan langkah mitigasi terhadap potensi dampak ekonomi dari krisis global, terutama lonjakan harga energi. Pemerintah Filipina khawatir konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat memicu gangguan pasokan minyak dunia sehingga berdampak pada biaya energi dan transportasi domestik.

Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia. Ketegangan militer di kawasan itu kerap memicu gejolak harga energi global, yang pada gilirannya berdampak pada berbagai negara pengimpor energi seperti Filipina.

Kebijakan penghematan energi melalui pengurangan hari kerja pemerintah pun dipandang sebagai salah satu langkah cepat untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat krisis tersebut. []

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda