Hakikat Nikmat Adalah Ujian (Tadabbur QS Az-Zumar: 49-52)

Oleh: Mustofa Kamal, Tim Dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Bangunrejo, Lampung.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

{فَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (49) قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (50) فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ (51) أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (52) }

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami; kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan. Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (QS. Az-Zumar [39] ayat 49-52)

Sudah menjadi tabiat manusia adalah gampang lupa dan melupakan, oleh karenanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan agar selalu ingat, dalam hal ini adalah selalu ingat kepada Allah dan tidak melupakan Allah, karena itu adalah sebagian karakteristik orang-orang yang bertakwa, sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud dalam menafsirkan Al-Quran surah Ali-Imran ayat 102 tentang takwa dengan sebenar-benarnya takwa, di antaranya wujudnya ialah selalu ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak lupa kepada Allah.

Al-Quran surah Az-Zumar ayat 49-52 di atas telah menerangkan tabiat kebanyakan manusia adalah lupa atau melupakan Allah atas nikmat karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

{فَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (49)

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami; kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Az-Zumar 49).

Tatkala manusia diuji dengan kesempitan, kepayahan, sakit, kejelekan dan lainnya, manusia ber-taqorub, mengadu dan memohon kepada Allah, baik di waktu siang atau malam agar Allah memberikan pertolongan dengan mendatangkan nikmat-Nya.

Lalu setelah Allah mendatangkan nikmat, dia lupa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan dia menganggap nikmat-nikmat tersebut ia dapatkan karena kepintarannya, karena kecerdikannya, karena kelihaian yang dimilikinya, bahkan sampai menganggap karena kesalehannya sehingga dia yang berhak mendapat nikmat tersebut. Lalu munculah kesombongan dalam dirinya dan lalu berjalan di atas muka bumi Allah ini dengan kesombongan.

قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (50)

“Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan. Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan.” (Az-Zumar ayat 50).

Jika kita melakukan flashback menengok kembali ke sejarah silam, kita dapati fonomena-fonomena yang bisa kita renungkan.

Fir’aun

Kita menemukan kisah puncak kepongahan seorang raja bernama Fira’un yang berani mendakwakan dirinya di hadapan rakyat dan para pembesar-pembesarnya sebagai tuhan yang tertinggi.

Ketika itu Firaun mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Apa yang menyebabkan Firaun sampai berani mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan yang tertinggi? Tidak lain karena Fir’aun dengan segala nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, dia melupakan Allah.

Firaun menjalani hidup dalam rentang usia yang sangat panjang, sampai 400 tahun dan dalam usia panjang yang dilalui itu tidak pernah ditimpa kesusahan.

Firaun tidak pernah merasakan perihnya lapar, kerongkongannya tidak pernah tersentuh dahaga. Kelemahan dan ketidakberdayaan tidak pernah menemani saat-saat kehidupannya sesaat pun. Dia juga tidak pernah sakit sedikit pun, baik sakit kepala, sakit perut, demam, atau yang lainnya.

Qorun

Kita lihat bagaimana kesombongan Qorun tatkala Allah memberikan kepadanya nikmat berupa rezeki kekayaan yang berlimpah, Qorun congkak dan sombong serta membanggakan diri. Ia mengatakan bahwa semua harta yang dimilikinya adalah karena kelihaianya, karena ilmunya, karena kepandainnya dalam mencari rezeki, lalu dengan kesombongannya Allah tenggelamkan dia beserta rumahnya ke perut bumi.

Kisah Qorun bisa kita lihat dalam Al-Quran surah Al-Qashash ayat 76-82:

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (76)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (77)

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan telah banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (78)

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. (79)

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar. (80)

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (81)

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata, ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah). (82)

Tentunya masih ada kisah-kisah orang terdahulu yang lainya yang di uji dengan kenikmatan, menjadilah ia lupa kepada Allah, yang tidak kami uraikan di sini.

Firman Allah :

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ (51) أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (52)

“Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (Az-Zumar 51-52)

Sikap kita

Kelapangan dan kesempitan itu semua adalah kehendak Allah yang dianugerahkan kepada siapa dari hamba-hamba-Nya, maka tatkala di beri kesempitan hendaklah bersabar dan ketika di beri kelapangan (kenikmatan-kenikmatan) hendaklah semakin taat dan tidak bermaksiat, selalu bersyukur tidak kufur dan selalu ingat kepada Allah tidak melupakan-Nya.

Sehingga tatkala Kita mendapat ujian dari Allah berupa kesempitan dan kelapangan (kenikmatan-kenikmatan), diri kita semua tetap dalam ketakwaan kepada Allah dengan perwujudan takwa yang sebenar-benarnya. (AK/RI-1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)